BULELENG, balipuspanews.com – Upacara sakral mecaru menggunakan sarana sapi jantan hitam kembali digelar di Desa Bulian, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng. Upacara yang dilaksanakan bertepatan dengan hari Tilem Kapitu ternyata sudah tidak dilaksanakan setelah 45 tahun.
Ketua panitia pelaksana upacara, Gede Suardana menceritakan mecaru memakai sarana sapi jantan hitam merupakan tradisi yang kembali dihidupkan sebagai bagian dari pelestarian warisan leluhur memiliki makna sebagai upaya menjaga keseimbangan alam semesta.
Upacara tersebut dilangsungkan tepat di Perempatan Puser Desa Bulian, di bawah pohon beringin besar yang diyakini sebagai pusat desa. Prosesi diawali arak-arakan seekor sapi jantan berwarna hitam yang telah dihias dengan perlengkapan sesuai kepercayaan adat. Sapi ini lantas diarak mengelilingi Desa Pulo Sekar (nama lain Desa Bulian) sebelum digunakan sebagai sarana upacara.
Suardana menekankan dalam kepercayaan Hindu Bali, sapi hitam melambangkan Dewa Wisnu, dewa pemelihara keseimbangan dunia, baik secara sekala (fisik) maupun niskala (spiritual). Sehingga melalui upacara ini sebagai wujud rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan sebagai bentuk pemeliharaan keharmonisan alam.
“Kegiatan ini idealnya dilakukan setidaknya maksimal setiap sepuluh tahun sekali, atau bahkan setiap tahun jika memungkinkan. Ini adalah bagian dari pelestarian tradisi leluhur,” ujarnya saat ditemui, Rabu, (29/1/2025).
Pelaksanaan upacara yang bertepatan dengan hari Tilem Kapitu itupun diyakini masyarakat dapat menciptakan sebuah keseimbangan dan membawa keberkahan bagi desa. Sehingga diharapkan nantinya bisa digelar secara rutin.
“Jika ritual ini bisa dilakukan secara rutin, saya yakin akan membawa kerahayuan (keselamatan) dan keajegan jagat (ketertiban dunia),” imbuhnya.
Upacara ini turut dihadiri oleh Penglingsir Puri Agung Denpasar, Anak Agung Ngurah Wirabima, serta Penglingsir Puri Mas Tebeng Pemecutan, Anak Agung Wisnu Murti. Kehadiran mereka menunjukkan dukungan terhadap masyarakat Desa Bulian dalam melestarikan budaya leluhur.
Masyarakat setempat berharap, dengan dihidupkannya kembali upacara ini, keseimbangan alam dan keharmonisan desa dapat terus terjaga. Selain itu, mereka juga berharap tradisi ini tetap lestari dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Penulis : Nyoman Darma
Editor : Oka Suryawan



