Kamis, Juli 2, 2026
spot_img

75 Seniman Sanggar Guntur Madu Tampil Memukau di Parade Gong Kebyar Wanita PKB 2026

- Advertisement -
- Advertisement -

KLUNGKUNG, balipuspanews.com – Duta Kabupaten Badung tampil memukau dalam Utsawa (Parade) Gong Kebyar Wanita pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 yang berlangsung di Panggung Terbuka Ardha Candra, Denpasar, Minggu (28/6/2026) malam.

Duta Gumi Keris diwakili Sanggar Seni Guntur Madu, Banjar Pundung, Desa Pangsan, Kecamatan Petang, dengan menampilkan tiga garapan yang melibatkan 75 seniman.

Pembina sekaligus Komposer Tabuh Kreasi, I Putu Sofiarta, S.S.N., mengatakan seluruh persiapan telah dilakukan secara maksimal selama kurang lebih lima bulan. Meski dihadapkan pada kendala penyesuaian jadwal latihan karena sebagian besar penabuh masih berstatus mahasiswa dan pekerja, seluruh tim mampu menjaga konsistensi latihan.

Dalam penampilan kali ini, Duta Kabupaten Badung membawakan tiga materi, yakni Tabuh Kreasi Panga Sani, Tari Kreasi Wana Pering, dan Sandya Gita.

“Target kami sebagai Duta Kabupaten Badung adalah memberikan penampilan yang menggelegar dan semaksimal mungkin. Kami berharap krama Badung dan krama Bali dapat menerima karya-karya yang kami tampilkan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Panga Sani mengisahkan pergulatan batin seorang perempuan yang dihadapkan pada godaan kepuasan sesaat hingga kehilangan arah hidup. Karya tabuh kreasi ini menjadi ajakan reflektif untuk menundukkan ego, kembali mendengarkan suara hati, dan menjadikan jiwa sebagai penuntun dalam menjalani kehidupan.

BACA :  Uji Sahih Naskah Akademik RUU Perindustrian, Harus Adaptif dan Perkuat Daya Saing Nasional

Tema tersebut diterjemahkan melalui garapan musik Gong Kebyar yang atraktif, energik, dan penuh dinamika, menghadirkan perubahan suasana mulai dari lembut, gelisah, penuh tekanan, hingga mencapai ketenangan batin.

“Perjalanan musikal ini memperkuat pesan tentang pentingnya keseimbangan emosi dan ketulusan dalam menemukan kedamaian diri,” jelasnya.

Sementara itu, Wana Pering merupakan karya tari yang terinspirasi dari hutan bambu sebagai simbol penting dalam kehidupan masyarakat Bali. Selain menjadi bagian dari tradisi adat dan ritual keagamaan, bambu juga mengandung makna filosofis sebagai lambang ketulusan, kelenturan, kekuatan, dan keharmonisan.

Karya ini mengangkat konsep Atma Kerthi, yakni penyucian jiwa manusia untuk mencapai keseimbangan hidup serta menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

“Melalui gerak tari dan iringan musik, Wana Pering menggambarkan perjalanan jiwa yang terus bertumbuh, menyucikan diri, dan hidup selaras dengan semesta,” kata Sofiarta.

Adapun Sandya Gita berjudul Jiwa Anubhawa merupakan garapan yang terinspirasi dari Lontar Atma Prasangsa, yang mengangkat perjalanan atma dalam mencari hakikat kehidupan dan kesadaran sejati. Kisah dimulai saat atma terlepas dari raga dan menempuh perjalanan menuju alam spiritual dengan menghadapi berbagai rintangan serta sosok-sosok yang menakutkan.

BACA :  Angkat Perjalanan Sang Atma, Duta Badung Suguhkan Empat Garapan pada Utsawa Angklung Kebyar Khas PKB XLVIII Tahun 2026

Pada akhirnya, sang atma menyadari bahwa seluruh rintangan tersebut merupakan manifestasi dari dirinya sendiri yang telah terbentuk sejak awal kehidupan.

“Melalui perpaduan tari, musik, vokal, dramatika, dan visual artistik, karya ini menyampaikan pesan tentang pentingnya mengenali jati diri, memahami asal dan tujuan hidup, serta mencapai keharmonisan batin dan penyatuan dengan Sang Pencipta,” ungkapnya.

Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa hadir langsung menyaksikan penampilan Duta Badung bersama jajaran pejabat Pemerintah Kabupaten Badung beserta istri. Kehadirannya menjadi bentuk dukungan moral sekaligus motivasi bagi para seniman yang tampil membawa nama daerah.

Adi Arnawa mengapresiasi jalannya Parade Gong Kebyar Wanita yang mempertemukan Duta Kabupaten Badung dan Duta Kabupaten Gianyar.

Menurutnya, ajang tersebut tidak hanya menjadi wadah unjuk kemampuan, tetapi juga menghadirkan semangat kolaborasi antardaerah.

Ia menilai terbangunnya chemistry antara Duta Badung dan Gianyar menjadi nilai tambah dalam pergelaran tersebut.

“Ini menunjukkan bahwa dalam membangun seni dibutuhkan kebersamaan dan kerja sama yang baik. Mereka tidak hanya menunjukkan kemampuan masing-masing, tetapi juga membangun sinergi dalam penampilan. Ini sangat luar biasa,” ujarnya.

BACA :  BPJS Kesehatan Goes to Campus di FK Unud, JKN Dinilai sebagai Program Pro Rakyat dan Penggerak Ekonomi

Menurutnya, spontanitas kolaborasi yang terjadi di atas panggung bahkan mendapat apresiasi dari Gubernur Bali Wayan Koster karena mampu menunjukkan kekompakan tanpa menghilangkan karakter masing-masing penampil.

Saat diminta membandingkan kualitas penampilan Badung dan Gianyar, Adi Arnawa menilai kedua peserta sama-sama tampil baik. Namun, menurutnya, garapan Badung memiliki kekuatan lebih dari sisi substansi cerita yang diangkat.

“Kalau saya ditanya mana yang lebih bagus, tentu saya jawab Badung. Tetapi saya melihat dua-duanya bagus, hanya saja dari sisi substansi cerita, Badung lebih kuat,” ujar Bupati asal Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan tersebut.

Penulis : Kadek Adnyana
Editor : Oka Suryawan 

Follow Balipuspanews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News
RELATED ARTICLES

ADS

- Advertisment -
- Advertisment -

Most Popular