Karangasem, balipuspanews.com – Para kaum laki -laki Di Desa Muncan, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem melaksanakan upacara “natab biakala” dan “natab sayut” setiap hari penampahan Galungan, Selasa (31/10).
“Natab biakala dilakukan oleh anggota keluarga laki-laki saja, maknanya yang pasti kurang begitu tau yang jelas ini dilakukan secara turun-temurun,” ujar Ni Luh Kersi, 57 tahun asal Banjar Gede, Desa Muncan, Karangasem saat melangsungkan prosesi “natabin”, Selasa (31/10).
Prosesi natab biakala dilakukan pada sore hari menjelang matahari terbenam menggunakan upakara seperti, Pandan, nasi yang dibungkus daun, daun sirih, taluh, segau atau daun sakti yang dicampur beras, kapas, sabut kelapa dan telor.
Pertama-tama prosesi mesegau, dimana segau yang terbuat dari daun sakti yang dicampur dengan beras dicolekkan pada keduabelah telapak tangan dan kaki.
Kemudian dilanjutkan dengan metirta biakaon, tirta sayut dan tirta pengening. Setelah itu, baru dilakukan prosesi natab dan prosesi ngedeng daun pandan, kemudian lanjut di kibas-kibas dengan api yang dinyalakan dari daun kelapa kering atau danyuh sebagai simbol untuk menetralisir mala.
Setelah itu baru dilanjutkan dengan prosesi natab banten sayut yang terdiri dari berbagai macam buah buahan dan sampyan.
Proseai tersebut sudah dilakukan secara turun temurun, meskipun banten biakala seperti kita ketahui merupakan banten pembersih namun yang menarik hanya anggota keluarga laki-laki saja yang mengikuti prosesi tersebut.
prosesi natab biak kaon, biak kaon sendiri merupakan banten yang diperuntuhkan untuk pembersihan diri sekala niskale, namun yang lebih aneh natab biakale tersebut hanya dilakukan oleh para lekaki.
Setelah natab biakale. Dilanjutkan dengan natab banten sayut.



