BANGLI, balipuspanews.com- Ketua DPRD Bangli I Ketut Suastika menghadiri pengukuhan lima guru besar dosen Universitas Hindu Negeri Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar,Minggu (25/5/2025).
Kelima dosen yang kini menyandang gelar profesor itu adalah Dr. I Nyoman Alit Putrawan, S. Ag., M.Fil.H sebagai Guru Besar bidang Sosiologi Hukum Hindu, Dr. Drs. I Wayan Wastawa, MA sebagai Guru Besar bidang Sosiologi Komunikasi, Dr. I Ketut Wisarja, S.Ag.,M.Hum sebagai Guru Besar bidang Agama, Konflik, dan Perdamaian, Dr. Made Sri Putri Purnamawati, S.Ag.,MA.,M.Erg sebagai Guru Besar bidang Kesehatan Kerja Hindu serta Dr. I Gede Sutarya, SST.Par., M.Ag sebagai Guru Besar bidang Perencanaan dan Pengembangan Pariwisata Spiritual and Religius.
“ Atas nama pribadi dan lembaga DPRD Kabupaten Bangli, kami menyampaikan ucapan selamat dan memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada para guru besar yang dikukuhkan,” kata ketua DPRD Bangli I Ketut Suastika.
Politikus PDIP asal Peninjoan, Tembuku ini mengharapkan bidang ilmu yang disandang para guru besar bisa memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat khususnya masyarakat Bangli.
“ Semoga Ilmu dan kebijaksanaan Bapak/Ibu memberi manfaat luas bagi masyarakat, khususnya masyarakat Bangli,” harap Suastika.
Mantan jurnalis Prof.Dr. I Gede Sutarya, SST.Par,M.Ag, salah satu dari lima guru besar yang dikukuhkan menyampaikan orasi ilmiah terkait pengembangan pariwisata spiritual dan relegius berjudul “Dari Mass Tourism menuju the Sacred Destination”
Sutarya menyoroti pariwisata Bali yang terlihat mulai over tourism. Gejala-gejala ini terlihat dari peningkatan jumlah kunjungan wisman sampai 6,3 juta setahun yang menimbulkan mencuatnya masalah-masalah lingkungan, masalah sampah, masalah kemacetan dan masalah kriminalitas.
Kunjungan wisman 6,3 juta ini ditambah dengan dengan kunjungan wisnu yang juga terus meningkat menjadi sekitar 10 juta pada tahun 2024, membuat pulau kecil Bali ini hampir didatangi 20 juta penduduk luar Bali pada setiap tahunnya sesuai data Badan Pusat Statistik Provinsi Bali, 2025.
Menurut Sutarya,gejala over tourism ini seharusnya tidak terjadi bila merunut perencanaan pariwisata Bali tahun 1971, sebab perencanaan itu berbasis perencanaan pariwisata budaya.
Penulis/editor : Oka Suryawan



