“Air Penyambung Nyawa” Anugerah Tersembunyi di Sarang Pengemis Munti Gunung

- Advertisement -
- Advertisement -

Karangasem, balipuspanews.com – Selama ini daerah Munti Gunung selalu dicap sebagai daerah sarang pengemis, di balik semua itu ternyata menyimpan sejumlah misteri, perlahan -lahan daerah ini mulai dikemas oleh tangan dingin Bupati Karangasem, IGA Mas Sumatri melalui Tagline “Karangasem The Spirit of Bali”.

Munti Gunung merupakan desa tua dilihat dari tatanan bangunan puranya yang tidak memiliki Padmasana, sejarah dari keberadaan Desa Munti berawal dari cerita kedatangan Trah Dalem Bujangga Sakti dari Nyalian, Bangli ke sisi timur Gunung Batur, kemudian ia mendirikan sebuah perkampungan diberi nama “Munti” yang berarti inti atau awal kehidupan.

Di munti Gunung terdapat sumber mata air abadi oleh masyarakat menyebutnya Mata Air Papad atau Air Penyambung Nyawa, mata air ini merupakan mata air satu-satunya yang terdapat di Munti Gunung, Tianyar, Kubu, Karangasem.

“Kenapa disebut Air Penyambung Nyawa, karena di Munti Gunung hanya mata air ini yang menjadi satu-satunya sumber air, seluruh kehidupan warga Munti Gunung bergantung dari mata air tersebut,” ujar Agung Pasrisak selaku Prebekel Tianyar Barat, Senin (1/5).

BACA :  Wamen PKP Nilai Positif Kritik dari Partai Koalisi Pemerintah

Ia juga menuturkan, kisah awal munculnya Mata Air Papad, berawal dari kedatangan Dewi Danu yang berwujud laki-laki tua berpenampilan dekil dan kumuh membawa “tegenan” atau pikulan yang berisi air ke Munti Gunung, kemudian laki-laki dekil tersebut menawarkan air yang dibawanya itu kepada masyarakat yang saat itu sedang melaksanakan “yadnya” atau  upacara keagamaan, dikarenakan penampilan dari laki-laki tua tersebut kotor dan dekil lalu diusirlah oleh warga tersebut, mendapat perlakuan seperti itu, di Kutuk lah oleh laki-laki tua tersebut “bahwa Kehidupan di Munti Gunung akan menjadi seperti dirinya saat itu”.

Setelah itu karena sudah mendapat penolakan, laki-laki tua tersebut melanjutkan perjalanannya sampai di satu tempat bernama Papad masih di wilayah Munti Gunung, laki-laki tua itu beristirahat, disanalah kemudian air yang dibawanya tumpah dan merembes ke bawah tebing hinga saat ini menjadi sumber air yang tidak pernah kering meski saat musim kemarau sekalipun.

Saat ini rembesan mata air Papad ini dikeramatkan dan dijadikan sebagai tempat untuk melukat oleh masyarakat sekitar yang dipercaya berkhasiat bisa membuat umur panjang, penyegaran fikiran dan peleburan hal-hal yang negatif.

BACA :  Pemkot Denpasar Bersama Forkopimda Salurkan Bantuan untuk Korban Gempa di Manggarai

Agung Pasrisak juga menambahkan, kedepan Rembesan mata air Papad setinggi 3 meter tersebut akan ditampung dalam sebuah “bak” (penampungan air) kemudian akan di pilah menjadi 3 pancuran dibawahnya sebagai tempat melukatan, nantinya setelah dilaksanakan pembugaran, akan dibangun patung Dewi Danu setinggi 7 meter di areal tersebut setelah itu akan dilakukan upacara “mendak” Dewi Danu di Pura Ulun Danu kemudian akan di “linggihkan” di Mata Air Papad tersebut.

Sebelumnya pada tahun 2013 sudah “menghaturkan Guru Piduka” diharapkan setelah menghaturkan Guru Piduka dan melaksankan prosesi Pemendakan, Kutukan yang berasal dari penjelmaan Dewi Danu bisa hilang, sehingga secara tidak langsung bisa menjadi motifasi bagi masyarakat agar bisa berubah khususnya untuk beberapa orang yang masih melakoni profesi meng gepeng.

“Untuk sekarang belum ada fasilitas apapun untuk pengunjung yang hendak datang kesana, kendala utama dalam pengembangan potensi priwisata di desa Tianyar khususnya Munti Gunung yakni minimnya pendanaan dan promosi,” tegasnya.

Follow Balipuspanews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News
RELATED ARTICLES

ADS

- Advertisment -
- Advertisment -

Most Popular