Rektor IHDN Gusti Ngurah Sudiana menyerahkan bibit kelapa daksina kepada warga Tengkudak, Panebel, Tabanan. Foto Istimewa
sewa motor matic murah dibali

Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar ( IHDN) untuk kesekian kalinya melakukan aksi sosial ditengah masyarakat. Kali ini, institut yang dipimpin Prof. Drs I Gusti Ngurah Sudiana, Msi  itu melakukan penanaman seribu kelapa daksina dan buah – buahan di desa Tengkudak, Panebel, Tabanan. Seperti apa?

OKA SURYAWAN, Denpasar

Sebagai wadah dalam mencetak generasi muda Hindu berkualitas, IHDN  Denpasar tidak hanya fokus dalam  bidang akademis. Berbagai aksi sosial yang langsung bersentuhan dengan masyarakat kerap dilakukan institut Hindu terbesar di Bali itu. Seperti yang terlihat di desa Tengkudak, Panebel, Tabanan, Sabtu (10/8/2019) lalu. IHDN menanam seribu pohon  yang terdiri  dari kelapa daksina dan buah- buahan. Aksi sosial tersebut dipimpin langsung Rektor IHDN DenpasarI Gusti Ngurah Sudiana.

” Tema yang kita ambil dalam aksi kali ini adalah satu pohon sejuta nafas,” kata Rektor I Gusti Ngurah Sudiana kepada Balipuspanews.com.

Rektor yang juga ketua PHDI Bali itu menyebutkan, aksi penghijauan yang berlangsung di laba pura dan tanah masyarakat itu bekerjasama dengan Yayasan Bhuana Sari dan pemerintah provinsi Bali. Aksi tersebut juga sebagai wujud nyata mahasiswa IHDN yang sedang melangsungkan Kuliah Kerja Nyata ( KKN).

” Selain penghijauan, tujuan kita ingin menyiapkan bahan- bahan upakara yang berasal dari kelapa dan buah- buahan dimasa yang akan datang. Kelapa daksina mulai langka,” sebutnya.

Pria asal Karangasem itu menambahkan, adanya Peraturan Daerah ( Perda) Pemkab Banyuwangi, Jawa Timur  yang melarang penjualan bahan upakara seperti janur dan buah kelapa harus disikapi dengan penanaman berbagai pohon yang salah satunya kelapa daksina. Larangan Pemkab Banyuwangi lewat Perda  yang diterbitkan tersebut disinyalir untuk menekan berbagai pencurian janur dan kelapa di Banyuwangi.

Penanaman kelapa daksina dan berbagai pohon menurut Rektor yang dikenal pintar melontarkan joke- joke segar saat melakukan dharma wacana itu juga menjanjikan secara ekonomi.

” Hasil kelapa bukan hanya untuk upakara. Ribuan kelapa dibutuhkan di Bali setiap hari. Apakah untuk upakara, atau di beli oleh hotel sebagai minuman bagi tamu,” sebutnya lagi.

Selain itu, tempurung kelapa juga bisa dijual. Bahkan, minyak kelapa ketika diolah demikian Sudiana, bisa menjadi biodiesel yang menghasilkan energi baru terbarukan. Belum cukup sampai disitu. Minyak  kelapa juga bisa dikembangkan menjadi bio avtur yang menjadi bahan bakar peswat terbang.

“ IHDN Denpasar berkomitmen agar masyarakat Bali bisa menyediakan sarana upakara secara mandiri atau berdikari sehingga tidak mendatangkan dari tempat lainnya. Kita membantu pembibitan. Selanjutnya pemeliharaan kita serahkan kepada masyarakat,” ujarnya bersemangat. ****