Karangasem, balipuspanews.com – Kecamatan Sidemen merupakan salah satu Kecamatan yang berbukit, salah satu selebriti dunia yakni Mick Jagger sempat mengunjungi daerah yang sangat sejuk ini. Dibalik kesejukan itu, salah satu warisan seni dan budaya yang tak ditinggalkan adalah kerajinan endek dan songket yang dikenal sebagai kain tenun tradisional khas Karangasem.
“Karangasem The Spirit of Bali,” menjadi tagline dari Kabupaten Karangasem tidak sekedar tagline, namun diilhami oleh spirit yang dalam. Salah satunya keberadan kain endek di Kecamatan Sidemen, kain mengandung spirit leluhur yang sangat dalam.
BERITA TERKAIT Bagian Tiga : “Karangasem The Spirit of Bali,” Garap Emas Hitam Muntahan Gunung Agung
Keberaadaan kain endek dan songket yang diilhami sejarah leluhur ini merupakan satu bukti kalau di Kabupaten Karangasem menjadi tanahnya para leluhur, ditambah dengan keberadaan Pura Besakih menjadi bukti kalau Karangasem merupakan tanah suci.
“Umat Hindu diharap mengerti asal -usul tanah suci, tanah leluhur, tempatnya para leluhur kita berkumpul, kita mengajak seluruh umat Hindu untuk membuat rumah masa depan yang indah dan menawan bagaikan surga dunia yg di kenal selama ini. Kabupaten Karangasem dengan tagline Karangasem “The Spirit of Bali” ini merupakan bagian dari inspirasi utk mendapatkan jati diri dan jawaban dari kehidupan sebaga perpanjangan tangan Tuhan,” kata Bupati Karangasem, IGA Mas Sumatri.
Khusus soal kain endek kenapa menjadi salah satu bukti karya leluhur karena dahulu kala kain ini tidak digunakan seara sembarangan dan hanya digunakan oleh para orang tua dan kalangan bangsawan.
Kain endek mulai berkembang sejak tahun 1985, yaitu pada masa pemerintahan Raja Dalem Waturenggong di Gelgel Klungkung.
Saat ini keberadaan kain tradisional Bali itu masih diproduksi di Desa Sidemen Kabupaten Karangasem sebagai salah satu pusat produksi kain tenun di Bali.
Bagian Tiga : “Karangasem The Spirit of Bali,” Garap Emas Hitam Muntahan Gunung Agung
Menenun kain menjadi aktivitas sehari-hari di hampir semua rumah di desa Sidemen ini melakukan kegiatan rutinnya sebagai penenun. Hampir semua orang di desa ini bisa menenun, belajar dari orang tua mereka secara turun temurun.
Di kelilingi oleh kehijauan alam yang alami mendominasi pemandangan di Sidemen.
Keindahan sawah berundak membuat para touris lokal dan mancanegara kerapkali melakukan pelesiran menuju Sidemen, sekitar dua jam perjalanan dari Denpasar.
Sampai saat ini, pembuatan kain itu juga ada yang spesial yakni mempertahankan motif-motif sakral yang tetap dipertahankan dan tidak digunakan secara sembarangan.
Umumnya kain ini digunakan untuk kegiatan upacara, kegiatan sembahyang ke pura, ataupun digunakan sebagai busana modern layaknya baju atau celana yang dapat digunakan semua kalangan.
“Saat ini kain tradisional warisan leluhur ini dikerjakan rubuan perajin dengan bermacama macam desain seni lelugur yang turun temurun . Kerajinan tradisional tenun ikat yang dihasilkan seperti kain endek dan songket merupakan seni yang adiluhung dan terkenal di mancanegara serta disukai wisatawan asing maupun domistik,” jelas IGA Mas Sumatri.



