KARANGASEM, balipuspanews.com – Hari pertama rangkaian Bakti Indonesia 2025 di Pura Agung Besakih, Jumat (22/8/2025), dibuka dengan kegiatan sosial bertajuk Derma Bakti.
Sejak pagi, masyarakat antusias mengikuti donor darah dan tes laboratorium yang disediakan panitia.
Acara kemudian ditutup dengan health talk dari Laboratorium Prodia bersama dr. Gusti Ayu Mulyani, yang membawakan materi mengenai Diabetes Mellitus (DM). Ia mengingatkan bahwa penyakit ini kini semakin banyak diidap kalangan muda.
“Kalau dulu penderita DM didominasi usia di atas 40 tahun, sekarang banyak yang masih berusia 20-an. Pola makan tidak sehat dan gaya hidup yang kurang baik menjadi penyebab utama,” jelasnya.
Menurutnya, penderita sering tidak menyadari gejala karena sifatnya tidak selalu menakutkan. Untuk itu, ia menganjurkan masyarakat melakukan tes HbA1C sebagai deteksi akurat kadar gula darah dalam tiga bulan terakhir, yang bisa dilakukan di laboratorium manapun di Indonesia.
Pesan Persatuan di Pura Besakih
Bakti Indonesia tahun ini menjadi momen ketiga perayaan kemerdekaan di rumah ibadah, setelah sebelumnya digelar di Masjid Istiqlal (2023) dan Gereja Katedral Jakarta (2024). Kali ini, Pura Agung Besakih dipilih sebagai pusat kegiatan.
Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, dalam pesannya melalui video menyampaikan apresiasi atas inisiatif Bakti Indonesia yang menjadikan rumah ibadah sebagai wadah perekat keberagaman bangsa.
“Saya mengapresiasi Bakti Indonesia, yang menjadikan rumah ibadah agama sebagai wadah perekat keberagaman Indonesia,” ujar Gibran.
Sejumlah tokoh nasional juga menyampaikan dukungan, di antaranya Menteri Agama Prof. Dr. Nasaruddin Umar, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Panjaitan, serta tokoh lainnya dari militer, kepolisian, kementerian, hingga kalangan publik figur.
Tiga Hari yang Menyatukan
Selama 22–24 Agustus, berbagai kegiatan sosial digelar di Pura Agung Besakih, meliputi: Donor darah bersama Perhimpunan Donor Darah Indonesia (PDDI) Bali. Konsultasi psikologi oleh Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran dan Universitas Jayabaya. Pemeriksaan mata oleh RS Mata Bali Mandara.
Perawatan gigi oleh CS Dental Aesthetic Clinic. Deteksi dini kanker payudara bersama Yayasan Kanker Indonesia Bali.
Pemeriksaan jantung dan EKG oleh RSUP Prof. Ngoerah.
Penyuluhan kesehatan dari para ahli.
Bazaar UMKM yang menampilkan produk lokal.
Selain itu, hadir talk show nasionalisme dengan narasumber Inaya Wahid dan Okky Asokawati, serta diskusi kesehatan dari Prodia dan RSUP Ngoerah mengenai prana dan geriatri.
Penggagas Bakti Indonesia, Dra. Hj. Mulia Jayaputri, MPA, Psikolog, menegaskan bahwa kegiatan ini menggabungkan semangat nasionalisme, kebhinekaan, dan kepedulian sosial.
“Kami ingin mensinergikan semangat merayakan kemerdekaan dengan merawat kebhinekaan, sekaligus menghidupkan semangat berbagi melalui kegiatan amal,” ujarnya.
Menuju 38 Provinsi
Ketua Panitia Bakti Indonesia 2025, Iman Usmansjah, menyampaikan bahwa kegiatan ini akan terus berlanjut ke berbagai daerah di Indonesia.
“Tahun depan, langkahnya menuju Kelenteng Sam Poo Kong Semarang, lalu pada 2027 akan digelar di Candi Borobudur. Target kami, Bakti Indonesia hadir di 38 provinsi,” katanya.
Di antara sejuknya lereng Gunung Agung, kegiatan ini menjadi simbol persatuan. Suara gamelan berpadu dengan tawa anak-anak, aroma dupa menyatu dengan wangi kopi UMKM, merefleksikan keberagaman sebagai kekuatan bangsa.
“Bakti Indonesia bukan sekadar perayaan kemerdekaan, melainkan doa panjang untuk satu tujuan: Indonesia untuk semua,” pungkas Mulia Jayaputri.
Penulis: Kadek Adnyana
Editor: Oka Suryawan



