Pelatihan jutnalistik lingkungan Society of Indonesian Environmental Journalists bersama Conservation International Indonesia (CI indonesia) dan Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk Indonesia di Candidasa, Karangasem.
Advertisement
download aplikasi Balipuspanews di google Playstore

Karangasem, balipuspanews. com – Pulau Bali yang saat ini menjadi destinasi wisata dunia perlu menjaga keseimbangan lingkungan sehingga Bali tidak rusak ataupun punah di tengah siklus keruntuhan.

” Saat ini Bali dalam siklus keruntuhan hal ini diukur dalam indikator yakni bagimana kondisi air dan hutan di Bali, ” kata Project Manager Conservation International (CI) Wilayah Bali, I Made Iwan Dewantaka saat pelatihan jutnalistik lingkungan Society of Indonesian Environmental Journalists bersama Conservation International Indonesia (CI indonesia) dan Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk Indonesia di Candidasa, Karangasem.

Dalam acara yang digelar pada tanggal 16 sampai 18 November 2018 di Palm Resort Candi Dasa, Iwan memang sangat getol mengkritisi soal lingkungan di Bali menilai Bali dalam siklus keruntuhan maka sangat perlu dijaga keseimbangannya.

“Bali memiliki konsep keseimbangan dengan Nyegara Gunungnya, serta simbol Swastika ketika diputar menjadi lingkaran hal ini penting menjaga Bali, namun hal itu tidak bisa dikerjakan sendiri tapi perlu kesadaran masyarakat, pemerintah maupun swasta, ” ujarnya.

Pada siklus ini, Iwan mencontohkan pariwisata di Thailand. Pantai ini rusak berat bahkan ditutup begitu ramai dan tenar menjadi pariwisata.

“Pantai ini sempat dikunjungi Leonardo Wilhelm DiCaprio adalah seorang aktor Amerika Serikat berdarah Italia-Jerman, setelah dikunjungi pantai ini sangat ramai, apa yang terjadi saat ini pantai itu rusak dan akhirnya ditutup, ” ujarnya.

Secara umum, apa yang dirinya katakan ini bukanlah ungkapan ilmliah, namun lebih banyak ilustrasi agar berhati hati dalam proses pembanguman pariwisata yang begitu pesat.

Dalam siklua keruntuhan ini, jelas Iwan mengingatkan pariwisata yang tidak terkendali bisa memangkas sendi-sendi budaya, mengancam lingkungan dan merapuhkan harmonisasi di masyarakat.

Bahkan, jika kebijakan yang diambil tidak memihak kepada pelestarian lingkungan dan keberlanjutan, bukan saja membuat rapuh namun semua terancam punah.

Karena itulah, bersama komponen masyarakat lainnya, CI menyampaikan pandangan dan konsep bagaimana pengembangan pariwisata di Bali ke depan, tetap bersandar pada pembangunan berkelanjutan dan peduli terhadap lingkungan.

Sebagai wujud nyata dalam menjaga keseimbangan ini, kata Iwan pihaknya memakai Tulamben sebagai pilot project dalam konsep pulau kecil.

“Karangasem memiliki konsep Nyegara Gunung yang riil dan nyata karena Gunung dan lautannya berpelukan dan hal itu terlihat di Tulamben, ” ujarnya

Kedepan, dengan konsep Nyegara Gunung ini pantai Tulamben yang menjadi wisata strategis Nasional terjaga dengan mengembangkan hulunya yakni Desa Dukuh.

” Apa bisa menjawab tantangan Bali ditengah siklus keruntuhan, hal ini sulit saya jawab yanh jelas untuk menyehatkan Bali komponen kecil perlu diperbaiki.

Dalam kesempatan pelatihan itu juga diisi materi cara -cara menulis masalah lingkungan oleh Harry Surjadi dan Untung Widyanto.

Selain pelatihan para Jurnalis di Bali itu juga diajak berkunjung ke Desa Tulamben, Tukad Maong, Tower Dukuh, Hutan Desa hingga snorkling untuk mengenal wisata bawah laut. (art/bpn/tim)

Advertisement

Tinggalkan Komentar...