Sabtu, Juni 22, 2024
BerandaBulelengBayi Kembar Parasit Lahir di Buleleng

Bayi Kembar Parasit Lahir di Buleleng

SINGARAJA, balipuspanews.com — Betapa malang nasib bayi yang baru berusia satu hari ini. Pasalnya, bayi berjenis kelamin perempuan lahir dalam kondisi tak sempurna di sebuah klinik bersalin di wilayah Kelurahan/Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng pada Senin (23/9) sekitar pukul 02.45 dinihari.

Buah hati anak ketiga pasangan suami istri (pasutri) bernama Made Gorsi (37) dan suaminya Made Mujana (38) asal Desa Pangkung Paruk, Kecamatan Seririt, memiliki banyak kelainan atau multiple.

Kini, bayi malang tersebut dalam perawatan intensif di ruang NICU RSUD Buleleng dalam kondisi yang cukup memprihatinkan.

Kondisi bayi, terdapat tonjolan yang menyerupai bokong dan ada kelebihan dua pasang kaki serta memiliki 4 tangan yang menempel pada tubuh bayi tersebut.

Dari hasil pemeriksaan medis diketahui, bahwa bayi tersebut merupakan kembar parasit atau kembar siam yang tidak sempurna. Bukan itu saja, pada bagian perut bayi tersebut juga terlihat usus dan organ lainnya keluar yang menandakan anaknya yang ketiga itu lahir dalam keadaan tidak normal.

Bidan yang membantu proses persalinan bernama Putu Riang Wulandari menuturkan, proses persalian Made Gorsi berlangsung dengan normal. Namun, saat bayi tersebut lahir, sudah terlihat mengalami kelainan. Ada beberapa bagian seperti kaki dan tangan menempel di jaringan tubuh bayi tersebut.

BACA :  Tanam 50 Pohon dan Tebar 15 Ribu Bibit Ikan di Desa Kesiman Kertalangu, Polisi Gandeng Perbekel

Ketika proses persalinan, bayi tersebut memiliki berat 3 Kilogram (Kg).

Kala itu, sang ibu pun sempat kehabisan tenaga yang berdampak plasenta bayi macet dan tertinggal di dalam, sehingga langsung dilakukan tindakan manual untuk membantu mengeluarkan.

“Ada bagian plasenta yang tertinggal (race placenta) itu yang menyebabkan pasien kami rujuk ke rumah sakit,” kata Riang Wulandari.

Kini, untuk mendapatkan penanganan medis secara serius, bayi tersebut telah dirujuk ke RSUD Buleleng.

Dari hasil pemeriksaan medis, bayi yang lahir pada pukul 02.45 itu, mengalami kelainan kongenital atau cacat, asfixia sedang namun dalam kondisi sehat. Sedangkan Made Gorsi ibu dari bayi tersebut masih mendapatkan perawatan medis di ruang melati RSUD Buleleng.

Kasubbag Humas RSUD Buleleng, Ketut Budiantara menjelaskan, pihak RSUD Buleleng menerima rujukan bayi itu sudah dalam kondisi lemah. Sehingga, dari pihak medis langsung melakukan tindakan dengan memberikan oksigen kepada bayi. Saat ini pihak medis masih menunggu kondisi bayi, jika kondisinya sudah membaik maka bayi tersebut akan dirujuk ke RSUP Sanglah.

BACA :  Maksimalkan Kepedulian Masyarakat untuk Cegah Kekerasan pada Anak

“Kalau sudah membaik, kami akan rujuk ke RSUP Sanglah. Ini untuk memastikan untuk proses medis lebih lanjut terhadap kondisi bayi. Kondisi bayi, ada empat pasang kaki, empat pasang tangan yang menempel pada tubuh bayi. Kondisi ini terjadi karena proses pembuhan tidak sempurna. Sementara bayo kami rawat di ruang NICU II,” ungkap Budiantara, Senin (23/9) siang.

Masih kata dia, paska melahirkan, kondisi ibu bayi, yakni Made Gorsi, dalam keadaan masih lemah sehingga saat ini menjalani masa pemulihan setelah sebelumnya ada sisa plasenta pada rahimnya.

“Ibu bayi itu masih dirawat untuk nendapat perawatan usai melahirkan bayi dengan kondisi kembar siam tidak sempurna,” teramgnya.

Kondisi kelahiran bayi yang tidak sempurna ini, mendapatkan perhatian dari Wakil Bupati Buleleng, Nyoman Sutjidra, langsung turun menjenguk bayi yang lahir dengan kelainan multiple itu di Ruang NICU RSUD Buleleng. Menurut Sutjidra yang juga dokter spesialis kandungan ini, kelainan ini merupakan kelainan bawaan yang banyak saat bayi tersebut dilahirkan dan sangat langka terjadi.

Setelah dievaluasi, tim dokter yang terdiri dari beberapa speasialis sepakat untuk melakukan konsultasi kembali untuk menangani kasus kelahiran ini. Ada banyak kelainan bawaan yang diidap bayi ini seperti kelainan pada tangan, kaki, perut dan liver. Sutjidra tak menampik, kondisi ini terjadi akibat oleh kehamilan yang beresiko tinggi.

BACA :  APBD Semesta Berencana Tahun 2023 Terealisasi 6,77T, dari Target 7,24 Triliun

“Kehamilan ini beresiko tinggi karena jarak kehamilan yang jauh, termasuk persalinannya yang juga jauh. Pada kasus ini, sang ibu mempunyai anak pertama berusia 19 tahun dan anak kedua berusia 12 tahun. Jadi jarak kehamilan dan persalinannya sangat jauh. Sudah beresiko sebenarnya,” ungkap Wabup Sutjidra.

Kehamilan-kehamilan yang beresiko tinggi ini, harus mendapat pengawasan ketat. Bayi yang lahir dengan kelainan multiple ini agak sulit penanganannya. Untuk itu diakui Sutjidra, tim dokter kini masih berkonsultasi untuk mengatasi kelainan pada perut, liver dan tungkainya juga, termasuk rencana dirujuk ke RSUP Sanglah, masih akan dirundingkan pihak dokter.

“Tim dokter harus melihat kondisi bayi untuk dirujuk nantinya ke RSUP Sanglah. Kemungkinan dirujuk setelah melihat kesiapan bayi untuk mobilisasi ke RSUP Sanglah. Kami perlu konsultasi dengan dokter anak dan dokter anastesi untuk masalah tersebut. Soalnya ini sangat langka terjadi,” pungkasnya.

RELATED ARTICLES

ADS

- Advertisment -

Most Popular