BANGLI, balipuspanews.com– Kisah pilu dialami Ni Wayan Sukerti,64, seorang wanita asal Sembung Bangli. Maksud hati melaksanakan persembahyangan, namun hari itu ia terkena musibah. Kendaraan tumpangan keluarganya tiba-tiba tubuh menimpa tangan bagian kanan Sukerti hingga kaku tidak bisa digerakkan.
Beruntung ia memiliki Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang ia dapat dari Pemerintah Kabupaten Bangli. Kepesertaan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) menjadi andalannya untuk berobat.
“Saat itu saya merasa takut sekali, saya sempat menyangka tidak akan bisa sembuh. Dulu waktu saya kira saya kena stroke, sehingga saat itu juga saya dengan cepat dibawa ke puskesmas oleh menantu saya dan menjalani pengobatan. Biayanya dibantu pemerintah lewat Program JKN,” ungkapnya saat ditemui di rumahnya pada Jumat (31/5/2024).
Sukerti menceritakan bahwa pihak puskesmas melakukan pemeriksaan fisik menggunakan beberapa alat pemeriksaan sederhana, karena waktu itu kondisi fisiknya memang mengarah ke tanda-tanda stroke. Kemudian Sukerti dirujuk ke salah satu rumah sakit di Kabupaten Bangli untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Di rumah sakit tersebut, Sukerti mendapatkan pemeriksaan lengkap mulai dari darah hingga pemeriksaan CT Scan. Hasil pemeriksaan tersebut menguatkan dokter bahwa ia mengalami stroke dan harus menjalani terapi.
“Sebelum kejadian itu, dulu saya juga pernah jatuh terpeleset. Saat itu memang punggung saya sempat sakit, mungkin saja itu awal mula sakit yang saya alami saat ini, tetapi bisa saja terjadi karena faktor usia juga. Untungnya semua proses berobat saya berjalan lancar tanpa terkendala biaya karena sudah dijamin Program JKN. Mulai dari pemeriksaan sampai kontrol rutin, tidak pernah saya dipungut biaya tambahan,” katanya.
Hingga saat ini, Sukerti telah menjalani terapi selama lima bulan, ia harus bolak-balik mengunjungi rumah sakit seminggu dua kali. Selain itu ia juga diberikan obat secara rutin dan mendapat beberapa kali suntikan.
Saat ditanya tentang kondisinya, ia menyatakan sudah jauh mengalami perubahan dari yang tidak bisa bergerak, kini sudah bisa bahkan hingga 90 persen dari kondisi normalnya. Hanya saja masih ada sedikit gerakan yang belum normal dan cenderung mengalami sakit. Selama menjalani pengobatan ini, Sukerti mengaku belum pernah mengalami kendala dari penjaminan JKN. Ia justru mengalami masalah pada pengobatannya.
“Masalahnya adalah rasa sakit yang luar biasa. Dulu saat baru mulai sakit saya tidak bisa tidur. Kini setelah menjalani pengobatan, tidur saya sudah mulai nyenyak, meski pada momen setelah disuntikkan obat saya akan merasakan sakit pada bagian punggung,” ujarnya.
Kondisinya saat ini begitu disyukurinya, karena ia merasakan keyakinan jika kesembuhannya mungkin sedikit lagi. Pihak dokter dan petugas kesehatan yang merawatnya selalu mengedukasi agar ia tidak memikirkan soal biaya, karena sudah ditanggung penuh oleh BPJS Kesehatan.
Hal tersebut membuatnya kembali membuka cerita jika memang selama ini pikirannya selalu terganggu. Anak pertamanya baru meninggal dunia akibat kecelakaan, sehingga rasa trauma dan terpukul membuat pikirannya stres hingga penyakitnya sering kumat. Belum lagi tidak melihat menantunya yang harus mengurus cucunya sendiri.
“Saya tidak memiliki biaya untuk membayar sendiri pengobatan yang saya jalani. Apalagi biayanya menghabiskan uang yang tidak sedikit. Namun karena ada Program JKN, semuanya bisa ditempuh dengan baik. Karena itu juga, saya kini bisa kembali bekerja memelihara sapi dan berkebun yang hasilnya nanti untuk membantu ekonomi keluarga,” kata Sukerti.
Atas kondisinya yang selalu membaik seperti saat ini, Sukerti begitu berterima kasih kepada pemerintah yang telah menyediakan Program JKN. Masyarakat seperti dirinya jelas sangat memerlukan program jaminan kesehatan ini.
Hampir semua keluarganya telah merasakan manfaat dari JKN ini, mulai dari melahirkan, sakit bahkan urusan mencari sekolah. Ia pun sangat berharap Program JKN dapat berlangsung seterusnya demi membantu masyarakat Indonesia. (adv)
Penulis: Gde Candra
Editor: Oka Suryawan



