CHINA, BALIPUSPANEWS.com – China kembali membuat gebrakan besar dengan memulai pembangunan proyek yang disebut sebagai “proyek abad ini”. Negeri Tirai Bambu tengah membangun pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Tibet yang ukurannya diklaim tiga kali lebih besar dibanding Bendungan Tiga Ngarai (Three Gorges Dam) di Sungai Yangtze.
Bendungan Tiga Ngarai sendiri dikenal sebagai salah satu konstruksi terbesar di dunia dengan kapasitas menampung sekitar 40 triliun liter air. Namun, proyek baru ini diprediksi akan melampaui megastruktur tersebut, baik dari sisi kapasitas maupun dampak globalnya.
Bisa Hasilkan Energi Setara Seluruh Nuklir Prancis
Menurut laporan pemerintah China, proyek PLTA di Tibet ini akan menelan biaya sekitar 165 miliar dolar AS. Nantinya, kapasitas energi yang dihasilkan disebut-sebut setara dengan total energi nuklir yang dihasilkan seluruh pembangkit nuklir di Prancis.
Pembangunan ini akan memanfaatkan air terjun alami Sungai Yarlung Tsangpo dengan ketinggian jatuh sekitar 2.000 meter sepanjang 50 kilometer aliran sungai. Proyek megastruktur ini direncanakan mulai beroperasi pada 2030.
Kementerian Luar Negeri China menyebut tujuan utama pembangunan ini adalah untuk mempercepat transisi energi bersih dan memerangi perubahan iklim, mengingat sebagian besar energi China saat ini masih bergantung pada batubara yang sangat mencemari lingkungan.
Ancaman Krisis Air dan Dampak Global
Meski digadang-gadang sebagai solusi energi hijau, proyek ini menuai kekhawatiran dari negara tetangga seperti India dan Bangladesh. Pasalnya, volume air yang sangat besar berpotensi ditahan oleh bendungan, sehingga dikhawatirkan memicu krisis air di wilayah hilir.
Selain itu, para ilmuwan internasional juga menyoroti potensi dampak besar terhadap keseimbangan rotasi Bumi. Sebelumnya, pembangunan Bendungan Tiga Ngarai sudah diketahui sedikit memengaruhi poros bumi. Dengan adanya bendungan baru ini, perhatian dunia semakin tertuju pada implikasi geologis yang mungkin ditimbulkannya.



