COVID 19, Efektifkah Gerakan Sosial Distancing ?

Penulis adalah Dosen Tetap pada Fakultas Ekonomika dan Humaniora serta Rektor Universitas Dhyana Pura, Badung, Bali.

Oleh :  Dr I Gusti Bagus Rai Utama

DENPASAR, balipuspanews.com Menyikapi perkembangan informasi terkait Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) dan juga mengikuti anjuran dari Pemerintah Indonesia dan anjuran Presiden Joko Widodo, maka per tanggal 16 Maret 2020 beberapa perusahaan atau instansi mulai menerapkan himbauan bekerja dari rumah (Work from Home) sebagai gerakan social distancing bagi karyawannya. Gerakan tersebut semata-mata untuk mengurangi penyebaran Virus Corona melalui interaksi manusia ke manusia.

Riset ini dilakukan dengan sukarela (volunteer) sebagai wujud keprihatinan terhadap kondisi masyarakat saat ini dalam usaha menyikapi perkembangan informasi terkait Corona Virus Disease 2019 (COVID-19). Sebagian besar instansi pemerintah maupun swasta mengeluarkan pengumuman atau himbauan untuk melakukan gerakan social distancing tersebut. Sekarang yang menjadi pertanyaannya adalah apakah himbauan tersebut efektif? Sebuah mini riset yang dilakukan oleh beberapa dosen Universitas Dhyana Pura dengan melakukan survei terhadap kebijakan gerakan social distancing secara berlapis dari Kebijakan Pemerintah Pusat, Provinsi, dan instansi membuktikan bahwa efektivitas sebesar 75% untuk bekerja dari rumah (work from home).

Grafik. 1 Pekerjaan Responden

Suvei tersebut diikuti oleh 100 responden dari berbagai profesi yakni 15% Pegawai Pemerintah (ASN, TNI,POLRI), 23% Guru/Dosen, 31% Pelajar/Mahasiswa, dan sisanya adalah Pekerja Pariwisata, Pekerja Jasa Keuangan, Usaha Sendiri, Rohaniawan, dan profesi Lainnya. Mereka yang berpartisipasi pada survei ini juga berasal dari Jenjang pendidikan beragam, yakni 8% S3-Doktor, 31% S2-Master/Magister, 55% S1/D4-Sarjana, selebihnya D3-Ahli Madya, D1/D2, SMA/SMK/SLTA, SMP, dan SD.

Grafik. 2 Jenjang Pendidikan Responden

Sungguh sangat mengejutkan bahwa secara keseluruhan terkait seberapa banyak pekerjaan responden dipengaruhi oleh pandemi COVID-19 menunjukkan bahwa pengaruhnya dirasakan kuat sebesar 24% dan bahkan sangat kuat sebesar 46%, sisanya terpengaruhi kategori sedikit dan sedang.

Grafik. 3 Pengaruh Social Distancing COVID-19 terhadap Pekerjaan

Dengan merebaknya pandemi COVID-19 dan adanya himbauan social distancing, mereka dominan bekerja dari rumah sebesar 48%, bekerja dari rumah tetapi tidak secara eksklusif sebesar 27% ada juga yang bekerja seperti biasanya 24%, dan sebagaian kecil berencana bekerja dari rumah.

Grafik. 4 Pengaruh Social Distancing COVID-19 terhadap Work from Home

Pada durasi himbauan social distancing ini responden sebagaian besar tidak melakukan perjalanan dinas ke luar kota sebesar 84%, dan hanya sebagian kecil saja mereka masih melakukan perjalanan dinas ke luar kota.

Grafik. 5 Pengaruh Social Distancing COVID-19 terhadap Frekwensi Perjalanan Dinas

Semasa social distancing ini sebagaian besar responden lebih banyak mencari dan membaca berita koran/majalah/Internet/TV sebesar 68%, sebagian lagi tetap seperti hari-hari biasa sebesar 29%, namun ada juga sebegaian kecil yang mengurangi pencarian berita melalui koran/majalah/Internet/TV.

Grafik. 6 Pengaruh Social Distancing COVID-19 terhadap Minat Baca

Responden lebih dominan tidak melakukan kegiatan seperti menghadiri pertemuan atau acara tatap muka lainnya sebesar 37%, sebagaian menguranginya sebesar 23%, jauh lebih jarang sebesar 35%, dan sebagian kecil masih seperti hari-hari biasa.

Grafik. 7 Pengaruh Social Distancing COVID-19 terhadap Minat Baca

Terkait dengan pekerjaan keseharian responden, dominan masih bekerja seperti biasa sebesar 34%, mengurangi volume pekerjaan sebesar 29%, tidak bekerja sebesar 21%, melakukan sedikit pekerjaan sebesar 11%, namun ada sebagian kecil yang merasa lebih sibuk lagi.

Grafik. 8 Pengaruh Social Distancing COVID-19 terhadap Volume Pekerjaan

Para pakerja dimasa social distancing ini sebagian besar tidak melakukan interaksi dengan para konsumennya sebesar 37%, mengurangi pertemuan sebesar 35%, melakukan lebih sedikit sebesar 23%, dan sisnya sama seperti hari biasa.

Grafik. 9 Pengaruh Social Distancing COVID-19 terhadap Frekwensi Tata Muka

Kesimpulan sementara adalah bahwa gerakan social distancing untuk menyikapi perkembangan informasi terkait Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) kemungkinan besar efektif untuk mengurangi merebaknya penularan COVID-19 melalui hubungan manusia dengan manusia dengan rincian sebagai berikut:

(1) efektif menghimbau para pekerja untuk bekerja dari rumah (work from home) sebesar 75%, (2) efektif menghimbau para pekerja untuk tidak melakukan perjalanan dinas ke luar kota sebesar 84%, (3) efektif menumbuhkan minat baca untuk lebih banyak mencari dan membaca berita koran/majalah/Internet/TV sebesar 68%, (4) efektif mengurangi pertemuan tatap muka para pekerja sebesar 85%. Namun efektivitas tersebut harus dibayar oleh hilangnya potensi untuk mendapatkan kesempatan interaksi secara langsung atau tatap muka dengan konsumen sebesar 95%, atau hanya 5% kesempatan bertemu dengan konsumen dapat dilakukan.
Harus diakui bahwa:riset ini dilakukan secara aksidental dan hanya menyertakan responden sebesar 100 orang sehingga mungkin dianggap belum mampu memberikan gambaran secara nyata terhadap dampak atau efektivitas kebijakan atau himbauan social distancing yang sedang kita lakukan.

—————————–
Penulis adalah Dosen Tetap pada Fakultas Ekonomika dan Humaniora serta Rektor Universitas Dhyana Pura, Badung, Bali.