Sabtu, Mei 23, 2026

Delapan Curik Bali Dilepasliarkan di Desa Pejeng, Perkuat Konservasi Satwa Endemik dan Wisata Edukasi

- Advertisement -
- Advertisement -

GIANYAR, balipuspanews.com – Upaya pelestarian burung curik Bali terus diperkuat melalui pelepasliaran delapan ekor atau empat pasangan burung langka tersebut di Desa Pejeng, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Jumat (22/5/2026).

Kegiatan yang digagas Komunitas Pelestari Curik Bali Pejeng bersama Friends of Nature, People and Forest (FNPF) itu melibatkan ratusan warga serta berbagai elemen masyarakat sebagai bentuk komitmen menjaga satwa endemik Bali dari ancaman kepunahan.

Pelepasliaran dilakukan di empat lokasi yang telah dipersiapkan sebagai habitat baru, yakni kawasan Pura Dalem Tengaling, Puri Agung Somanegara Pejeng, Pura Pusering Jagat, dan Kebun Mai Organic. Program ini merupakan bagian dari rangkaian konservasi yang telah dimulai sejak akhir tahun 2025.

Project Manager FNPF, I Made Sugiarta, menjelaskan bahwa jumlah burung yang dilepasliarkan semula direncanakan sebanyak lima pasangan. Namun, satu pasangan tidak lolos evaluasi akhir sehingga hanya empat pasangan yang dinyatakan layak untuk kembali ke alam.

“Awalnya kami menyiapkan lima pasangan, namun satu pasangan belum memenuhi syarat setelah evaluasi akhir,” ujar Sugiarta.

BACA :  Lagi Sapi Hilang, Polsek Abang Intensifkan Penyelidikan

Menurutnya, pelepasliaran curik Bali tidak dilakukan secara instan. Setiap individu harus melalui serangkaian tahapan ketat yang meliputi survei lokasi, masa karantina, pemeriksaan kesehatan, rehabilitasi, hingga proses adaptasi sebelum dinyatakan siap hidup di alam bebas.

Sugiarta menambahkan, Desa Pejeng dipilih sebagai lokasi konservasi karena memiliki masyarakat adat yang aktif mendukung perlindungan satwa langka.

Selain itu, program ini juga menjadi pembuktian bahwa curik Bali dapat hidup dan berkembang di lingkungan yang padat penduduk apabila memperoleh perlindungan melalui aturan adat atau awig-awig yang disepakati masyarakat setempat.

“Melalui program ini kami ingin menunjukkan bahwa pelestarian curik Bali tidak hanya bisa dilakukan di kawasan hutan atau taman nasional, tetapi juga dapat berjalan di tengah kehidupan masyarakat selama ada komitmen bersama untuk melindunginya,” katanya.

Meski demikian, keberhasilan konservasi dinilai membutuhkan dukungan berkelanjutan dari berbagai pihak. Pemerintah daerah, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), lembaga pendidikan, komunitas adat, hingga masyarakat luas memiliki peran penting dalam menjaga populasi curik Bali agar terus meningkat.

BACA :  Keterwakilan Perempuan di Parlemen Harus Berdampak Positif dan Nyata

Kepala Seksi Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah II BKSDA Bali, Raden Danang Wijayanto, mengapresiasi langkah yang dilakukan masyarakat Desa Pejeng. Ia berharap populasi curik Bali di wilayah tersebut terus berkembang sehingga tidak hanya memberikan manfaat ekologis, tetapi juga membuka peluang ekonomi berbasis lingkungan dan pariwisata.

“Kami berharap populasi curik Bali di Pejeng terus bertambah dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat, termasuk mendukung pengembangan sektor lingkungan dan pariwisata berbasis konservasi,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Danang juga mengungkapkan bahwa BKSDA Bali tengah menindaklanjuti usulan penetapan Hari Curik Bali. Pihaknya berencana melakukan koordinasi dan pertemuan dengan Gubernur Bali guna membahas proposal hari peringatan khusus bagi satwa endemik yang menjadi ikon Pulau Dewata tersebut.

Sementara itu, penggagas Komunitas Pelestari Curik Bali Pejeng, Kadek Kamardiyana, menegaskan bahwa pelepasliaran dilakukan sebagai upaya nyata menjaga keberlangsungan satwa asli Bali agar tidak punah. Program konservasi ini juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk memahami pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem serta melindungi keanekaragaman hayati.

BACA :  Kolaborasi KDKMP Bali, Pusat Logistik dan Distribusi Rencana Dibangun di Desa Celukan Bawang

“Konservasi tidak hanya tentang menyelamatkan satwa, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat agar lebih peduli terhadap lingkungan dan warisan alam Bali,” katanya.

Ke depan, program pelepasliaran yang dilakukan secara berkala diyakini dapat memperkuat posisi Desa Pejeng sebagai destinasi wisata berbasis edukasi dan lingkungan. Kehadiran curik Bali di tengah masyarakat diharapkan menjadi daya tarik tersendiri sekaligus simbol keberhasilan kolaborasi antara komunitas, pemerintah, dan masyarakat dalam menjaga satwa endemik Bali.

Penulis : Ketut Catur
Editor   : Oka Suryawan 

Follow Balipuspanews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News
RELATED ARTICLES

ADS

- Advertisment -
- Advertisment -

Most Popular