Detik-detik Sebelum Batu Pilah Raksasa Runtuh Menghantam Kardiasa

Singaraja, balipuspanews.com – Komang Kardiasa (27) korban selamat dari runtuhan batu pilah menceritakan musibah mengerikan yang nyaris merenggut nyawanya pada Minggu (3/9) sore.

Pria yang baru saja dikaruniai seorang putra berumur tiga bulan dihadapan keluarga tak pernah menyangka bakal berhadapan dengan situasi mengerikan tersebut.

Kardiasa bersama dua rekannya yakni Nengah Bangkit (50) dan korban meninggal Ketut Sutarsana (50) sejak setahun belakangan bekerja mengambil batu pilah di tanah milik Ketut Mandra yang sudah dikontrak oleh Komang Supariasa notebene merupakan kakak ipar dari Kardiasa.

BERITA TERKAIT:

Setelah sempat istirahat siang, Sutarsana dan Kardiasa melanjutkan penggalian batu pilah, keduanya turun di kedalaman untuk menggali bongkahan batu pilah, sementara Nengah Bangkit mengangkut bongkahan batu pilah dari dasar lokasi galian.

Baca Juga :  Wisnu Wijaya Pensiun, Dewa Alit Mudiarta Dilantik Jadi Pj Sekda Gianyar

Tak diduga, sekitar pukul 15.00 sore, tiba-tiba dinding batu pilah bergetar dibarengi kepulan debu serta suara gemuruh berasal dari atas galian.

“Kejadiannya sangat cepat, batu pilah berukuran raksasa runtuh, dan langsung menghantam tubuh Bli Sutar hingga terjepit,” kata Kardiasa saat ditemui di IGD RSUD Buleleng, Minggu (3/9) malam.

Mengetahui bahaya mengancam, Kardiasa berada di dasar galian berusaha menghindar dengan cara menempelkan tubuhnya di dinding. Namun sayang, batu pilah kedua berukuran raksasa kembali runtuh dan meluncur dari atas galian mengarah tepat pada posisinya.

Beruntung, terjangan batu pilah itu meleset karena sempat tertahan oleh bongkahan batu tepat di atas Sutarsana menggali batu pilah.

Baca Juga :  Munculkan Wisata Kearifan Lokal, Bupati Sanjaya Dukung Dewi Gunung Salak Festival 2022  

“Pada posisi berdiri, saya melihat batu kedua meluncur dari atas, saya sudah pasrah. Berusaha menghindar, namun batu pilah raksasa menghantam kaki kanan hingga akhirnya sebagian tubuh saya juga ikut terjepit. Tak bisa berpikir, hanya bayangan anak dan istri di pikiran saya saat itu,” ungkapnya.

Tertimbun dalam keadaan masih sadar, Kardiasa spontan berteriak minta tolong hingga teriakan itu terdengar oleh rekannya Nengah Bangkit yang langsung meminta bantuan kepada beberapa warga setempat.

Kardiasa pun mendapat pertolongan, dan akhirnya berhasil dievakuasi sekitar pukul 18.30 petang.

Kardiasa pun mengaku tak memiliki firasat apapun sebelum musibah mengerikan tersebut menghampiririnya.

Sekedar diketahui, sebagian besar warga di Desa Pacung berprofesi sebagai pencari batu pilah. Lokasi pengambilan batu pilah ini ditemukan sejak bertahun-tahun silam. Sejak itu, warga mengambil batu pilah untuk penghasilan sehari-hari.

Baca Juga :  Implementasikan Kawasan Tanpa Rokok, Bupati Suwirta: Harus Ada Komitmen yang Kuat

Meski beresiko dan lokasinya jauh dari pusat desa, warga melakoni profesi ini karena tidak ada pekerjaan lain. Batu pilah ini diambil dengan terlebih dahulu melakukan penggalian dengan inggis atau alat khusus lainnya.