Berita Dunia, Amerika – Ketegangan global meningkat dengan semakin memanasnya konflik antara Rusia dan Ukraina, memperbesar kekhawatiran akan terjadinya Perang Dunia III. Namun, konflik ini berpotensi menjadi sesuatu yang lebih mengerikan: perang nuklir yang membawa dampak dahsyat bagi seluruh dunia.
Dalam bukunya yang berjudul Nuclear War: A Scenario, jurnalis investigasi Annie Jacobsen membahas skenario tersebut dan mengungkapkan beberapa fakta mengejutkan tentang tempat-tempat yang mungkin bisa bertahan.
Annie Jacobsen adalah seorang jurnalis investigasi Amerika, penulis, dan finalis Penghargaan Pulitzer 2016 dalam bidang sejarah. Buku terbarunya berjudul “Surprise, Kill, Vanish: The Secret History of CIA Paramilitary Armies, Operators, and Assassins”.
Di Mana Kita Harus Berlindung Saat Perang Nuklir?
Annie Jacobsen menyajikan pandangan yang memprihatinkan mengenai dampak perang nuklir dalam skala global. Namun, dia juga memberikan harapan dengan mengidentifikasi dua negara yang memiliki peluang besar untuk bertahan: Australia dan Selandia Baru. Kedua negara ini diprediksi dapat tetap bertahan, bahkan di tengah bencana yang menghancurkan, karena mereka memiliki sumber daya alam yang cukup untuk mendukung kehidupan.
“Australia dan Selandia Baru adalah beberapa tempat yang dapat bertahan hidup setelah perang nuklir. Mereka adalah satu-satunya negara yang dapat terus menopang pertanian dan memenuhi kebutuhan pangan,” jelas Jacobsen dalam bukunya.
Gandum Sebagai Kunci untuk Bertahan Hidup
Pentingnya gandum dalam skenario pasca-perang nuklir juga ditekankan oleh Jacobsen. Australia, yang sangat bergantung pada gandum sebagai bagian besar dari pasokan kalorinya, diperkirakan akan mampu bertahan lebih baik dibandingkan negara-negara lain. Bahkan dengan simulasi perang nuklir yang menyebabkan perubahan suhu ekstrem, Australia akan memiliki tingkat produksi pangan yang lebih stabil karena gandum musim semi.
Jacobsen menambahkan, “Setelah perdagangan internasional berhenti, gandum akan menjadi salah satu sumber utama kalori, dan Australia beruntung memiliki stok yang cukup. Dengan suhu yang lebih menguntungkan untuk produksi gandum, negara ini dapat menghasilkan pasokan yang lebih banyak dibandingkan negara lainnya.”
Solusi Bagi Sebagian Orang, Bukan Untuk Semua
Namun, meskipun Australia dan Selandia Baru memiliki kemampuan untuk bertahan lebih lama, situasi ini tidak akan mudah bagi semua orang. Buku ini mengungkapkan bahwa akan ada banyak pengungsi yang datang dari negara-negara yang rawan pangan, terutama dari Asia. “Perang nuklir, meskipun terbatas, akan menyebabkan krisis pangan global,” tulis Jacobsen.
Dalam hal ini, meskipun Australia memiliki cukup pangan untuk kebutuhan penduduknya, tantangannya adalah bagaimana mengirimkan pasokan ke kota-kota besar yang terisolasi. Ini menjadi masalah besar karena jalur distribusi akan terganggu dalam skenario perang nuklir.
Kesimpulan: Dua Negara yang Bisa Bertahan, Tapi Bukan Tanpa Tantangan
Buku Jacobsen memberikan gambaran yang jelas tentang betapa pentingnya kesiapan pangan dan pertanian dalam menghadapi ancaman nuklir global. Australia dan Selandia Baru mungkin menjadi tempat berlindung yang aman, namun tidak semua orang bisa mendapatkan akses ke sana. Tantangan distribusi pangan dan kerawanan sosial akan menjadi masalah besar, meskipun kedua negara ini dapat bertahan lebih lama daripada negara lainnya.



