DENPASAR TIMUR, balipuspanews.com- Serangkaian Hari Ulang Tahun (HUT) Fakultas Pendidikan Agama dan Seni (FPAS) Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar menggelar lomba Sloka, Sabtu (9/2).
WA. Sindhu Gitananda, Kabag Humas mengatakan Lomba membaca Sloka dalm HUT IX FPAS ini sebagai bentuk partisipasi Unhi menyambut Bulan Bahasa Bali.
“Unhi memang berkomitmen turut melestarikan Budaya Bali,” paparnya.
Lebih lanjut Sindhu berharap, dengan diadakannya lomba Sloka ini, makin meningkatnya kepedulian generasi muda akan warisan seni budaya Bali yang adi luhung dan pemahaman tentang nilai-nilai Weda itu sendiri.
Ditambahkan Sindhu, lomba Sloka ini diikuti oleh19 pasang peserta dari SMA/SMK seBali. Dari 19 pasang pembaca Sloka, terdiri dari delapan pasang perempuan dan 11 pasang laki-laki.
Hadir sebagai juri lomba Sloka Prof. Dr. Made Surada, M.A, mengatakan, dalam lomba ini, mengangkat Sloka catur weda sampai upanisad. Dengan tujuan menginformasikan atau mensosialisaikan kepada masyarakat khususnya umat Hindu tentang Sloka.
“Sloka merupakan inti dari Weda dan menggunakan bahasa sansekerta. Karena menggunakan bahasa sansekerta, ini menjadi ewuh pakewuh di masyarakat dalam membaca,” paparnya.
Dikatakan Prof. Surada, penilaian lomba Sloka ada 10 poin yang dinilai. Lima poin untuk pembaca dan lima poin untuk penerjemah.
Lima poin pembaca, akan dinilai dari segi penampilan. Yang mencakup keserasian pakaian yang dikenakan. Berikutnya posisi duduk, sikap atau tikes saat membaca. Disamping itu, suara yang sesuai dengan sloka. Guru dan laghu suara juga diperhatikan dalam membaca sloka, dimana harus menggunakan suara panjang dan suara pendek dan yang terkhir cara membaca atau onek pemenggalan yang tepat disertai ekspresi atau sikap saat membaca.
Untuk penilaian bagi penerjemah yaitu sikap tangan, ketepatan terjemahan atau arti, ucapan yang lengut, keutuhan penampilan dari awal sampai akhir dan ekspresi.
“Materi yang akan dibawakan ada dua. Satu sloka wajib dan yang satu sloka pilihan. Materi sloka diambil dari Reg. Weda atau Wahyu. Bukan karya manusia imajinasi para rsi,” kata pembina utsawa dharma gita Pemprov Bali dan Nasional.
Juri pun menilai peserta yang mengikuti lomba kebanyakan memiliki suara yang bagus.
“Yang namanya lomba harus ada yang keluar sebagai juara, meskipun banyak yang bagus. Bagi saya suara-suara peserta ini semua baik, untuk ngayah di pura sudah berani dan bagus,” tandasnya.
Puluhan peserta mengenakan pakaian adat Bali baik putra maupun putri tampak antusias menyaksikan peserta yang sedang tampil membaca Sloka dan siap menanti giliran untuk maju membaca sloka pula. (bud/bpn/tim).



