Insiden Ritual Ngurek, PHDI Suardana : Meski Tradisi, Kalau Berbahaya Jangan Dipertahankan

- Advertisement -
- Advertisement -

Singaraja, balipuspanews.com  — Ketua PHDI Buleleng Dewa Suardana angkat bicara pasca tewasnya seorang warga merupakan sutri di Desa Nagasepeha, Kecamatan Buleleng bernama Ketut Sudira (55), tertusuk keris saat ritual ‘Ngurek’ dalam Upacara Ngenteng Linggih di Pura Desa Nagasepeha, Kecamatan/Kabupaten Buleleng, Selasa (25/9) lalu.

Ketua Suardana dihubungi melalui saluran telepon seluler Rabu (26/9), mengaku sangat menyayangkan insiden yang merenggut korban jiwa tersebut.

Suardana pun mengaku sejatinya sudah berulangkali memberikan himbauan kepada para pemangku agar tidak menggelar ritual yang membahayakan. Namun sayang, himbauan itu seolah dianggap sebagai angin lalu.

“Setiap pertemuan dengan pemangku-pemangku selalu kami himbau, agar tidak membawa senjata tajam ke pura. Kekhawatiran saya ini nyatanya terjadi,” katanya.

Ritual Ngurek pun diakui Suardana memang sudah menjadi tradisi turun temurun. Meski demikian, Suardana merasa, umat Hindu sudah sebaiknya meninggalkan tradisi tersebut dengan alasan sangat berbahaya.

“Meski tradisi, tinggalkan kalau itu berbahaya. Tidak perlu dipertahankan. Ida Betara tidak mungkin menyuruh umatnya untuk perang dan berbuat arogansi. Saya tidak tahu mengapa ritual itu bisa melukai korban hingga menyebabkan meninggal dunia. Kalau kita yakin, Ida Betara tidak mungkin menyuruh umatnya melakukan hal yang berbahaya,” terangnya.

BACA :  ‎KONI Bali Tinjau Kesiapan Venue Porprov XVII di Buleleng, Anggaran Perbaikan Disiapkan Rp28 Miliar

Dengan adanya kejadian ini, Suardana pun mengaku akan berkoordinasi dengan MMDP Buleleng untuk menentukan langkah apa yang selanjutnya akan dilakukan.

Pada bagian lainnya, Suardana merinci, dua peristiwa serupa pernah juga terjadi di Buleleng, yakni di wilayah Desa Banyuning dan Padang Bulia, namun tidak sampai menimbulkan korban jiwa.

“Jika darah berceceran di areal Pura, itu membuat pura dan masyarakat di desa menjadi leteh (kotor) harus melakukan penyucian lagi kan,” ungkapnya.

Sementara Kasubag Humas RSUD Buleleng, Ketut Budiantara mengatakan, berdasarkan hasil visum, luka tusuk yang dialami oleh kornan Sudira berada dibagian dada sebelah kiri. Kedalaman luka kurang lebih 8 centimeter dengan lebar kurang lebih 5 centimeter.

“Pasien diterima sudah dalam keadaan meninggal,” singkatnya.

Sebelumnya, nasib apes dialami oleh Ketut Sudira (55). Pria asal Desa Nagasepeha, Kecamatan Buleleng ini tewas akibat tertusuk kris pada Selasa (25/9). Peristiwa ini terjadi tepat saat korban Sudira tengah mengikuti Upacara Ngenteg Linggih di Pura Desa Nagasepeha.

Kapolsek Kota Singaraja, Kompol Anak Agung Wiranata Kusuma mengatakan, saat kejadian korban Sudira dalam keadaan tidak sadar alias kerauhan. Ia tiba-tiba mengambil keris berukuran sekitar 50 centimeter yang dibawa oleh salah satu pecalang untuk pengamanan di dalam areal pura.

BACA :  ‎WNA Asal Iran Dibekuk Usai Tipu Warga Pancasari, Modus Pura-pura Tukar Uang

Nahas, keris yang ditancapkan tepat dibagian dada itu membawa malapetaka. Korban Sudira tersungkur, baju berwarna putih yang ia kenakan dilumuri darah segar. Warga yang menyaksikan kejadian ini pun bergegas melarikan korban Sudira ke RSUD Buleleng.

Follow Balipuspanews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News
RELATED ARTICLES

ADS

- Advertisment -
- Advertisment -

Most Popular