Kadiskes Bali Minta Warga Waspadai Penyakit Babi

- Advertisement -
- Advertisement -

Denpasar,balipuspanews.com-  Munculnya penyakit suspek meningitis streptococcus suis (MSS) yang terajadi dikecamatan Abiansemal, Badung membuat dinas kesehatan ( Diskes) Bali bertindak cepat. Diskes Bali meminta warga waspada terhadap penyakit yang disebabkan kualitas daging babi yang tidak sehat. Hal tersebut disampaikan Kadiskes Bali, dr Ketut Suarjaya dalam siaran pers yang didampingi oleh kepala biro humas dan protokol provinsi Bali Dewa Gede Mahendra Putra Jumat ( 10/3) 2017. “ Masyarakat harus berhati- hati mengkonsumsi daging babi,” kata Dewa Gede Mahendra.

Atas kejadian yang menimpa warga Abiansemal demikian Mahendra, Diskes Bali telah melakukan penelusuran ke lapangan. Hasilnya ditemukan 13 kasus. Dari 13 kasus, 7 kasus sudah diambil sampel darahnya dan dilakukan pemeriksaan di laboratorium mikrobiologi RS Sanglah. “ Sudah dua orang yang dinyatakan positif kena MMS,” sebut Mahendra.

Kadiskes Ketut Suarjaya menambahkan, penyakit MMS adalah penyakit yang ditularkan babi ke manusia. Proses penyebarannya melalui makanan yang berasal dari daging babi yang tidak sehat. Penularannya sangat rentan di Bali karena warga pulau dewata sudah terbiasa mengkonsumsi lawar yang bahan dasarnya dari daging dan darah mentah. Jika babinya tidak sehat warga bisa terancam kena MMS. Selain itu, kata Kadiskes, luka lecet saat mengolah daging babi yang terenfeksi MMS juga bisa menjadi penyebab penularan.

BACA :  Mazda Hadir di BCA Expo Bali 2026, Tawarkan SUV hingga Mobil Listrik

Lantas bagaimana ciri- ciri orang yang kena MMS? Kadiskes menjelaskan, ada beberapa tanda ketika seseorang kena MMS. Misalnya, sakit kepala dan sering seperti orang tuli. Bisa juga ada perubahan kesadaran, kaku kuduk hingga tubuh seperti panas. Untuk mencegah penularannya, masyarakat dihimbau membeli daging babi di tempat yang resmi sehingga dapat dipastikan babi yang dipotong dalam keadaan sehat.

Selain itu, saat mengolah daging babi pastikan tangan tidak luka atau tutup luka dengan baik bila mengolah daging babi. Masyarakat juga diminta proaktif dan peka terhadap lingkungan sekitar. “Bila di sekitar lingkungan ada peternak yang memiliki babi sakit, mohon diinfokan jangan dijual ke pengepul daging babi. Pastikan juga masakan berbahan daging babi yang kita makan sudah benar-benar matang,” imbuhnya. Kadiskes juga menginformasikan bahwa masa inkubasi MSS adalah beberapa jam hingga 14 hari setelah makan produk babi terinfeksi yang mentah atau setengah matang seperti olahan lawar merah atau komoh.

Follow Balipuspanews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News
RELATED ARTICLES

ADS

- Advertisment -
- Advertisment -

Most Popular