Jumat, Juli 26, 2024
BerandaDenpasarKasus Bapak Bunuh Anak Dihentikan, Ini Kata Kapolresta Denpasar

Kasus Bapak Bunuh Anak Dihentikan, Ini Kata Kapolresta Denpasar

DENPASAR, balipuspanews.com – Setelah melakukan penyelidikan mendalam bekerjasama dengan Tim Dokter Forensik RSUP Prof Ngoerah, Denpasar, Polisi akhirnya menutup kasus kematian bapak bunuh anak di Jalan Bukit Tunggal Lingkungan Alangkajeng, Denpasar Barat.

Berdasarkan hasil gelar perkara, dipastikan bahwa IMS,47, membunuh putri kandungnya sendiri Ni Putu RPD,26, lalu bunuh diri dengan cara menyayat tangannya dengan pisau.

Dalam keterangan resminya, Kapolresta Denpasar Kombespol Bambang Yugo Pamungkas mengatakan kasus ini awalnya ditangani Tim Dokter Forensik RSUP Prof Ngoerah, yang memeriksa kondisi IMS yang tiba di Instalasi Gawat Darurat sekitar pukul 12.59 WITA.

Tim Dokter menerangkan bahwa IMS tiba dalam kondisi tangan kiri terluka dan dinyatakan meninggal dunia. Namun kematiannya sangat janggal sehingga dilaporkan ke Polsek Denpasar Barat.

Tak lama setelah itu, sekitar pukul 16.59 WITA, jenazah Ni Putu RPD tiba di kamar jenazah RSUP Prof Ngoerah Denpasar. Dari hasil pemeriksaan diduga kematiannya tidak wajar karena ada bekas luka jeratan pada leher.

Menerima kedua laporan tersebut, Polsek Denpasar Barat dan Polresta Denpasar menyelidiki dan memintai keterangan sejumlah saksi di TKP. Hasil lidik disebutkan bahwa IMS adalah bapak kandung Ni Putu RPD dan keduanya ditemukan berdua di lantai 2 rumahnya di TKP.

BACA :  Kunjungi Brasil, Menko PMK Pelajari Program Makan Bergizi Gratis

Hanya saja, kata Kombes Bambang, pihaknya tidak menemukan lagi bekas bercak darah di lokasi.

“Tidak ada bekas bercak darah, kamarnya sudah dibersihkan dan TKP sudah tidak utuh lagi,” ungkapnya didampingi Dokter Forensik RSUP Prof Ngoerah, Ida Bagus Alit.

Di lokasi, pihaknya menemukan barang bukti sebuah spray berisi bercak darah, pisau cutter berisi bekas bercak darah, palu karet warna hitam, perban berisi bekas darah, satu tali plastik warna coklat tua. Ada juga sebuah buku warna coklat berisi catatan dari IMS yang ingin beberapa kali bunuh diri karena depresi.

Komentar terpisah, Dokter Forensik RSUP Prof Ngoerah Ida Bagus Alit menjelaskan berdasarkan hasil visum luar bahwa luka pada pergelangan tangan kiri IMS diduga akibat senjata tajam.

“IMS mengiris pergelangan tangan kiri cukup dalam sampai memutus pembuluh darah ada dua yang putus,” ungkap Bagus Alit.

Kemudian hasil pemeriksaan terhadap luka jeratan di leher Putu RPD disebut mendatar tidak ada simpul, yang menandakan adalah penjeratan, bukan karena penggantungan. Setelah olah TKP dari kepolisian, tali yang digunakan adalah tali dengan alur yang sangat minim atau hampir rata.

BACA :  Efektif Kurangi Volume Sampah, Mesin Pengolahan Sampah Menjadi RDF di TPA Peh Segera Ditingkatkan 

Terkait luka memar di samping bibir RPD diduga karena terjatuh. Namun untuk barang bukti berupa palu, diduga tak ada hubungannya dengan luka-luka korban yang disebabkan oleh palu.

“Hanya ada luka disebabkan oleh tali,” bebernya.

Kemudian soal penemuan cairan HCL (hidrogen klorida) di lantai diduga sempat diminum oleh IMS. Namun dari hasil lidik, ternyata tidak ada hubungannya dengan kematian tersebut.

Diterangkannya, HCL cairan yang merupakan asam kuat yang jika seandainya masuk mengenai tubuh atau masuk mulut manusia, akan menyebabkan luka yang khas. Lantaran zat itu akan menyerap air, dan menyebabkan luka yang keras.

“Namun dari pemeriksaan terhadap jenazah, baik pelaku maupun korban tidak ada ditemukan bekas zat tersebut. Ternyata, HCL memang hanya digunakan untuk membersihkan lantai di TKP,” sebut Bagus Alit.

Sementara Kombes Bambang menambahkan berdasarkan hasil lidik pihaknya menetapkan IMS sebagai pelaku yang membunuh putrinya Ni Putu RPD. Sebelum sama sama tewas, IMS membunuh anak darah dagingnya sendiri dengan cara menjerat lehernya. Kemudian Made SD bunuh diri dengan cara menyayat pergelangan tangannya sendiri.

BACA :  Kepergok Mau Mencuri, Pelaku Nekad Bunuh Pemilik Rumah

“Dari gelar perkara kami kenakan Pasal 338 KUHP ancaman 15 tahun namun karena pelaku juga meninggal sebagaimana menurut Pasal 109 KUHAP bahwa tersangka bunuh diri maka penyidikan kami hentikan atau SP3,” ujar Kombes Bambang.

Dijelaskannya, pihak keluarga sudah diperiksa dan mengaku tidak menyadari adanya kejadian ini. Pihak keluarga tidak melaporkan ke Polisi karena tidak mengetahui ada kejadian pembunuhan dan bunuh diri di kamar lantai 2 tersebut.

Perwira melati tiga dipundak itu menerangkan, kematian IMS dengan cara bunuh diri dikuatkan penemuan buku catatan yang di tulis tangan olehnya sendiri. Buku tersebut berisi ungkapan hati bahwa dia depresi dan beberapa kali ingin bunuh diri.

Dalam buku catatannya, ia merasa sudah lelah merawat anaknya Ni Putu RPD yang memiliki masalah berkebutuhan khusus (lumpuh) sejak lahir, hingga sakit-sakitan. Ia juga pernah berobat ke psikiater namun tidak ada hasil.

“Dari buku catatan itu disampaikan bahwa IMS ingin bunuh diri, dia sudah merasa lelah merawat putrinya itu,” ungkap mantan Kapolres Sukoharjo, Jawa Tengah ini.

Penulis : Kontributor Denpasar
Editor : Oka Suryawan 

RELATED ARTICLES

ADS

- Advertisment -

Most Popular