DENPASAR, balipuspanews.com – ZW,63, sekaligus pemilik rumah kontrakan yang terbakar di kawasan Banjar Sasih, Kelurahan Panjer, Kecamatan Denpasar Selatan, pada Kamis 8 Januari 2026 sekitar pukul 23.00 WITA mengaku merasa sangat berduka. Pasalnya yang tewas di dalam kamar lantai dua, yakni GM adalah keponakannya yang sudah dianggap sebagai anak kandungnya itu.
Insiden kebakaran ini membuka lembaran kelam bagi ZW, di mana pada Jumat 9 Januari, tepatnya lima tahun anak kandungnya berinisial MTW, pramugari pesawat Sriwijaya Air SJY–182 meninggal dunia akibat kecelakaan pesawat dalam penerbangan rute Jakarta–Pontianak pada 9 Januari 2021 yang lalu.
Ditemui dilokasi, pria asal Kupang, Nusa Tenggara Timur ini mengatakan pada saat kejadian dirinya sedang tidur karena sakit. Dia tidur sejak pukul 19.00 WITA. Sekitar pukul 23.30 WITA dia dikagetan dengan panggilan dari anak angkatnya TT.
“Saya bersama istri lalu bangun untuk menyelamatkan diri karena api sudah besar di plafon kamar tengah,” ungkapnya.
Menurutnya, di lantai dua rumah kayu itu ditempati TT dan GM. Pada saat terjadi kebakaran rumah semi permanen itu cepat dikepung api, di mana saat itu korban berada di dalam kamar.
“Jadi, cerita dari anak angkat saya TT, sebelum kejadian dia main HP di depan kamar di lantai dua. Sementara GM (korban meninggal) di dalam kamar, juga main HP dan menyambungkan headset ke telinganya,” terangnya.
ZW mengatakan saat terjadi kebakaran, mereka semua tidak berani naik ke lantai dua rumah, karena sudah dikepung api. Tapi dia menduga, keponakannya itu sudah kabur menyelamatkan diri.
“Analisa saya, saat itu dia sudah berusaha menyelamatkan diri. Pada saat hendak keluar dari kamar, lantai yang terbuat dari papan triplek rapuh dan jebol hingga membuat jatuh ke lantai satu. Sementara saat yang sama di lantai satu apinya sudah besar,” ujarnya.
Dia mengatakan jenazah korban ditemukan dibawah tumpukan kayu dengan luka bakar sekujur tubuh dan pada bagian wajah sudah gosong.
“Dari keterangan yang saya terima, tubuhnya sudah hangus dan bagian muka depan ikut hangus. Saya syok tadi malam dan tidak bisa melihat,” bebernya.
ZW kembali mengungkapkan, bahwa korban merupakan keponakannya yang sudah diasuh sejak kecil dan dianggap seperti anak sendiri. Bahkan, korban dikenal sebagai anak yang rajin dan sehari-hari bekerja di Gereja GPIB Maranatha Denpasar, Dangin Puri, Denpasar Timur.
“Ini bertepatan dengan meninggalnya anak saya pramugari saat kecelakaan pesawat lima tahun lalu. Saya sangat sedih sekali hari ini,” ungkapnya.
Terkait jenazah, ia mengatakan masih akan rembug dengan keluarga untuk memastikan rencana penguburan jenazah korban. Kini, jenazah korban masih dititipkan di kamar jenazah RSUP Prof dr IGNG Ngoerah Denpasar.
Penulis: Kontributor Denpasar
Editor: Oka Suryawan



