JAKARTA, balipuspanews.com – Transformasi BKKBN menjadi Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) menjadikan kementerian ini sebagai stimulator sistem pembangunan manusia dalam menjawab tantangan demografi ketika kini Indonesia berada dalam masa bonus demografi.
Hal ini diungkapkan Sekretaris Kemendukbangga/Sekretaris Utama BKKBN Prof. Budi Setyono saat memberikan sambutan dalam acara Rapat Koordinasi Nasional Penyusunan Rencana Aksi Pembangunan Kependudukan, di Bogor, Selasa malam (22/07/2025).
“Keberhasilan menjadikan Keluarga Berencana sebagai budaya nasional adalah fondasi penting. Tapi tantangan demografi hari ini jauh lebih kompleks. Maka, dibutuhkan narasi baru yaitu dari keluarga berencana menuju masyarakat berencana,” kata Prof. Budi.
Narasi transformasi tersebut diantaranya, pertama, program KB telah mampu meningkatkan kesadaran sosial kolektif. Capaian ini menjadi landasan kuat untuk transisi menuju pendekatan pembangunan yang lebih menyeluruh.
Kedua, saatnya membangun masyarakat berencana, di mana perencanaan pembangunan manusia harus disesuaikan dengan proyeksi pertumbuhan penduduk dan dinamika usia di tiap wilayah yang berbeda. Ketiga, keluarga sebagai simpul pembangunan harus menjadi pusat kebijakan, fragmentasi lintas sektor di tengah belum terintegrasinya data keluarga yang menghambat daya ungkit pembangunan manusia.
Menurut Kajian Bappenas 2023, hanya satu dari 34 provinsi yang memiliki sistem perencanaan penduduk lintas sektor secara konsisten. Maka, Kemendukbangga/BKKBN sebagai policy stimulator, sebagai teknokrasi pembangunan berbasis kesejahteraan keluarga, perlu mengembangkan kebijakan integratif berbasis siklus hidup keluarga. Saat ini belum ada lembaga khusus yang mengembangkan kebijakan integratif tersebut.
Sebagai policy stimulator, Kemendukbangga/BKKBN juga sebagai penyambung, pengisi celah dan penyatu program. Karena lebih dari 50 program pembangunan manusia tersebar di berbagai kementerian/lembaga, namun tidak terhubung dalam satu sistem keluarga nasional.
Menurut Prof. Budi, jika Kemendukbangga/BKKBN tidak bertindak sebagai policy stimulator, maka beban tugas yang diemban menjadi lebih besar. Untuk itu, quick wins adalah investasi pencegahan risiko jangka panjang,” imbuh Prof. Budi.
Dipaparkan Prof. Budi, Genting (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting), satu dari lima quick wins, mencegah kerugian ekonomi hingga Rp Rp 600 triliun per tahun akibat hilangnya produktivitas generasi stunting.
“Jika 1 juta keluarga risiko stunting tidak diintervensi, potensi kehilangan SDM produktif terus membesar,” ungkap Prof. Budi.
Penulis/editor: Ivan Iskandaria.



