Manfaatkan Air Kolam Lele, Mahasiswa Unwar Budidayakan Krisan di Pesisir Manggarai Barat

- Advertisement -
- Advertisement -

MANGGARAI BARAT, balipuspanews.com – Bunga krisan selama ini identik dengan dataran tinggi yang sejuk, seperti kawasan Bedugul di Bali. Namun, anggapan tersebut dipatahkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Nasional Universitas Warmadewa (Unwar).

Mereka membuktikan tanaman bunga potong populer tersebut mampu beradaptasi dan tumbuh subur di dataran rendah bersuhu hangat di kawasan pesisir Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Inovasi tersebut diwujudkan melalui pembuatan demonstrasi plot (demplot) di dua wilayah, yakni Desa Golo Tanggar dan Desa Warloka Pesisir. Langkah ini menjadi salah satu program kerja utama KKN-PPM Nasional Unwar Tahun 2026.

Bunga krisan merupakan tanaman asli dataran tinggi China yang memerlukan suhu sejuk hingga dingin. Iklim Manggarai Barat yang cenderung panas dan kering selama ini menjadi salah satu hambatan utama dalam budidaya tanaman jenis tersebut.

Kendati demikian, riset dan uji coba yang dilakukan Ir. IGB Arjana, MP., dosen Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian, Sains, dan Teknologi (FPST) Unwar, menunjukkan hasil berbeda. Krisan terbukti memiliki daya adaptasi di dataran rendah dengan suhu udara hangat.

BACA :  AMSI Bali dan Polres Badung Gelar Edukasi Literasi Digital “Cerdas Berkomunikasi, Bijak Bermedia Sosial”

“Temuan inilah yang kemudian kami bawa ke lokasi KKN. Tujuannya bukan hanya sekadar menanam, melainkan membuktikan keberhasilannya secara langsung di lapangan,” ujar Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) kedua kelompok KKN tersebut, Ir. I Gede Sudiarta, M.Si., saat diwawancarai pada Selasa (8/9/2026).

Keunggulan program ini terletak pada pendekatan budidaya terintegrasi. Selain mempelajari teknik dasar seperti prosedur pengiriman bibit antarpulau, penyiapan media tanam, dan analisis biaya, para mahasiswa mengintegrasikan lahan krisan dengan kolam budidaya ikan lele.

Sistem tersebut memanfaatkan air buangan kolam lele untuk menyirami tanaman krisan menggunakan metode irigasi tetes (drip irrigation).

“Kolam lele tidak membutuhkan pergantian air secara besar-besaran. Air limbah budidaya tersebut justru kaya akan nutrisi organik yang sangat baik untuk menunjang pertumbuhan krisan. Melalui metode ini, efisiensi penggunaan air dan pupuk dapat dicapai secara bersamaan,” terang I Gede Sudiarta.

Model integrasi ini dinilai sangat aplikatif untuk wilayah Manggarai Barat yang kerap menghadapi kendala keterbatasan sumber air bersih pada musim kemarau.

Koordinator Desa KKN dari Desa Warloka Pesisir, Faransisco Mario Namu, bersama Koordinator Desa Golo Tanggar, Eduardus Adol, menyampaikan apresiasi terhadap respons awal tanaman krisan di lokasi.

BACA :  Kinerja Perbankan Tetap Kuat, OJK Catat Indeks Orientasi Bisnis 56 pada Triwulan III 2026

Kedua mahasiswa Program Studi Agroteknologi FPST Unwar tersebut mengakui pertumbuhan tanaman krisan melampaui perkiraan awal.

“Kami cukup terkejut melihat pertumbuhannya yang sangat baik. Saya pribadi pernah menjalani magang selama satu semester di kebun krisan milik Pak IGB Arjana di Bedugul. Jika dibandingkan, tanaman krisan di pesisir ini justru terlihat lebih sehat tanpa ada indikasi serangan jamur maupun bercak daun,” ungkap Faransisco.

Eduardus Adol menambahkan, skema irigasi tetes mempermudah proses perawatan harian sehingga masyarakat sekitar tidak perlu khawatir terhadap risiko kelebihan maupun kekurangan pasokan air.

Saat ini, tanaman krisan di kedua desa tersebut berada pada fase vegetatif. Tim KKN masih memantau perkembangan tanaman hingga memasuki masa pembungaan guna mengevaluasi kualitas bunga, kecerahan warna, serta ketahanan tangkai.

Komoditas bunga krisan potong memiliki pangsa pasar yang terbilang luas. Selain dimanfaatkan sebagai dekorasi hunian dan perkantoran, permintaan krisan juga tinggi untuk keperluan ornamen perayaan, acara pernikahan, hingga kegiatan keagamaan dan kedukaan.

Harga yang terjangkau serta keberagaman warna menjadi daya tarik utama bunga krisan di tengah masyarakat.

BACA :  Sri Sultan Hamengkubuwono X: Insan Pertanahan Harus Kuasai Teknologi dan Pahami Masyarakat

Melihat tingginya potensi ekonomi tersebut, I Gede Sudiarta menekankan pentingnya keberlanjutan program pasca-KKN. Pihaknya menyarankan agar kelompok tani di Desa Golo Tanggar dan Desa Warloka Pesisir menjalin koordinasi dengan Dinas Pertanian setempat untuk memperoleh pendampingan teknis secara berkala.

“Kegiatan ini merupakan tahap awal melalui demonstrasi plot. Untuk mengembangkannya menjadi skala usaha yang produktif, diperlukan pembinaan teknis secara berkelanjutan serta dukungan akses pasar,” pungkas Sudiarta.

Warga Desa Golo Tanggar dan Desa Warloka Pesisir berharap perintisan tersebut dapat mendorong lahirnya sentra baru budidaya bunga krisan di NTT.

Apabila dapat berproduksi secara konsisten, Kabupaten Manggarai Barat diharapkan tidak lagi bergantung pada pasokan bunga potong dari luar daerah untuk memenuhi kebutuhan lokal.

Penulis: Kadek Adnyana
Editor: Oka Suryawan 

Follow Balipuspanews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News
RELATED ARTICLES

ADS

- Advertisment -
- Advertisment -

Most Popular