Mencetak Wirausaha Maju Tak Cukup Dibekali Pendidikan Tapi Juga Akses Modal dan Pendampingan

- Advertisement -
- Advertisement -

JAKARTA, balipuspanews.com – Upaya pemerintah mendorong lahirnya wirausahawan baru dinilai tidak akan efektif jika pendidikan kewirausahaan hanya berhenti pada teori di ruang kelas. Dukungan nyata berupa akses pembiayaan, pendampingan bisnis, hingga perluasan pasar disebut menjadi faktor penting agar pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mampu berkembang dan naik kelas di tengah persaingan ekonomi regional.

Pandangan tersebut disampaikan Anggota Komisi VII DPR RI, Eva Monalisa dalam diskusi Dialektika Demokrasi bertema “Mencetak Entrepreneur Baru, Mendorong UMKM Naik Kelas” di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (26/5/2026).

Eva mengatakan Komisi VII DPR RI yang bermitra dengan kementerian terkait sektor UMKM, perindustrian, ekonomi kreatif, dan pariwisata mendukung penuh penguatan pendidikan kewirausahaan.

Namun, menurut dia, pengembangan jiwa usaha harus diikuti dengan kebijakan konkret yang dapat langsung dirasakan pelaku UMKM.

“Pendidikan kewirausahaan tidak boleh berhenti di teori. Harus terintegrasi dengan akses pembiayaan, inkubasi bisnis, dan konektivitas pasar agar benar-benar melahirkan wirausahawan yang siap bersaing,” katanya.

Ia menilai tantangan terbesar UMKM Indonesia saat ini bukan hanya keterbatasan modal, tetapi juga lemahnya akses pasar dan minimnya pendampingan usaha yang berkelanjutan. Karena itu, pemerintah dinilai perlu hadir lebih aktif dalam membangun ekosistem usaha yang menyeluruh.

BACA :  Kapolres Badung Tekankan Personel Bijak Bermedia Sosial

Menurut Eva, Indonesia masih tertinggal dibanding sejumlah negara di kawasan, termasuk Vietnam, dalam hal pengembangan UMKM yang mampu tumbuh menjadi usaha berdaya saing tinggi. Kondisi itu, kata dia, menunjukkan perlunya kebijakan yang lebih terintegrasi antara pelatihan, pembiayaan, dan pemasaran produk.

“Sering kali pelaku usaha sudah memiliki produk dan modal, tetapi tidak tahu harus menjual ke mana atau bagaimana mengembangkan usahanya. Di sinilah pentingnya pendampingan pemerintah yang jelas dan berkelanjutan,” ujarnya.

Eva menegaskan keberhasilan program UMKM naik kelas tidak bisa dicapai hanya dengan mengandalkan satu aspek. Menurut dia, pelaku usaha membutuhkan dukungan menyeluruh agar mampu membangun usaha yang mandiri, berkelanjutan, dan kompetitif di pasar nasional maupun global.

Bangun Ekosistem Wirausaha

Di forum sama, Pelaksana Tugas (Plt) Deputi Bidang Usaha Mikro Kementerian UMKM,
M Riza Damanik menekankan pentingnya membangun ekosistem kewirausahaan yang kuat guna mencetak generasi pengusaha baru menuju Indonesia Emas 2045.

Dia menyebut arahan Presiden agar generasi muda tidak semuanya bercita-cita menjadi ASN sangat relevan dengan kebutuhan ekonomi Indonesia ke depan.

BACA :  Pemkab Klungkung Dorong Percepatan Infrastruktur Pembangunan Jalan Lingkar Nusa Penida

“Bapak Presiden menyampaikan agar anak-anak muda Indonesia tidak semuanya menjadi ASN. Mulailah sebagian di antaranya berwirausaha, mengambil inisiatif untuk bisa bersaing di dunia usaha dan menjadi pengusaha-pengusaha baru,” ujar Riza.

Menurutnya, Indonesia memiliki target menjadi negara maju pada 2045 dengan pendapatan per kapita yang meningkat hingga lima kali lipat dibanding saat ini.

Untuk mencapai target tersebut, kata Riza, produktivitas ekonomi nasional juga harus meningkat secara signifikan.

“Kalau kita ingin produktivitas meningkat lima kali lipat, maka cara kerja dan model produksinya juga harus berubah. Tidak mungkin produktivitas meningkat kalau cara kerjanya masih sama,” katanya.

Riza menjelaskan, Kementerian UMKM saat ini tengah melakukan perubahan paradigma dalam pengembangan UMKM, yakni dari pendekatan programatik menuju pendekatan ekosistem usaha.

“Selama ini pendekatannya programatik. UMKM butuh pembiayaan, lalu hanya diberi pembiayaan. Padahal kalau tidak diberi akses pasar, persoalannya tidak selesai. Begitu juga pelatihan tanpa modal dan pasar hanya akan jadi imajinatif,” ungkapnya.

Menurutnya wirausahawan baru tidak bisa lahir secara instan, melainkan harus dibentuk melalui ekosistem usaha yang sehat dan terintegrasi.

BACA :  Diduga Mau Melukat, Perempuan asal Sukawati Ditemukan MD di Pantai Purnama Gianyar

“Wirausaha unggulan itu tidak bisa ujug-ujug datang. Mereka harus dibentuk, disiapkan mentalitasnya, daya inovasinya, dan daya jangkaunya. Karena itu mereka membutuhkan ekosistem yang lengkap,” tutur Riza.

Riza mengatakan saat ini Kementerian UMKM fokus membangun lima pilar utama ekosistem usaha UMKM, yakni legalisasi dan perlindungan usaha, pendampingan dan peningkatan kapasitas, akses pembiayaan, akses pasar dan digitalisasi, serta kemitraan dan rantai pasok.

“Nah, lima hal ini adalah ekosistem usaha agar UMKM kita bisa tumbuh dan berkembang. Mereka tidak hanya membutuhkan pembiayaan, tetapi juga legalisasi, pendampingan, pemasaran, hingga kemitraan usaha,” tegas Riza.

Penulis : Hardianto
Editor : Oka Suryawan 

Follow Balipuspanews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News
RELATED ARTICLES

ADS

- Advertisment -
- Advertisment -

Most Popular