Pemkab Gianyar dan Tabanan Nganyarin di Pura Samuan Tiga

- Advertisement -
- Advertisement -

Gianyar, balipuspanews.com- Rangkian piodalan di Pura Samuan Tiga Bedulu, Blahbatuh, Gianyar diiringi dengan upacara nganyarin. Senin ( 7/5) 2018 upacara nganyarin dilakukan oleh Pemkab Gianyar dan Pemkab Tabanan. Prosesi dihadiri pejabat dan ASN kedua pemerintahan.

Prosesi dipimpin oleh Ida Pedanda Putra Manggis dari Geriya Wanayu Desa Bedulu, serta Ida Pedanda Geriya Kediri Tabanan.

Ketua Paruman Pengemong Pura Samuan Tiga,Wayan Patera menyebutkan, upacara penganyaran di Pura Samuan Tiga setiap tahunnya dilaksanakan secara bergiliran oleh seluruh Pemkab dan Pemkot serta Pemprov Bali.

Selain unsur pemerintah daerah, upacara penganyaran juga dilakukan jajaran Badan Kerja Sama Lembaga Perkreditan Desa (BKS LPD) bersama Lembaga Pembina LPD Bali.

“ Sehari sebelumnya, pada hari Minggu (6 Mei-red) pimpinan dan pengurus BKS LPD dan LP LPD bersama seluruh pimpinan serta keluarga karyawan LPD se- Kabupaten Gianyar, juga melaksanakan upacara nganyaran,” ungkap Wayan Patera.

Kabag Kesra Pemkab Gianyar,  Ngakan Putu Jati Ambarsika yang mengkoodinir upacara penganyar Pemkab Gianyar menegaskan, kewajiban pemerintah untuk turut serta menjaga dan melaksanakan upacara di Pura Kahyangan Jagat Samuan Tiga. Hal ini disebutkan terkait dengan keberadaan pura yang menjadi cikal bakal berdiri Pura Kahyangan Tiga di Bali itu.

BACA :  Polsek Blahbatuh Ungkap Curanmor di Gianyar, Satu Terduga Pelaku dan Tiga Motor Diamankan

Ngakan Putu Jati menyebutkan, keberadaan Pura Samuan Tiga berawal di abad ke – 11 dijaman Raja Udayana. Waktu itu muncul berbagai konflik dari berbagai macam sekte penganut kepercayaan. Hal itu mengancam perpecahan dikalangan masyarakat.

“ Berdasarkan kondisi itu (ancaman perpecahan-red), maka raja Udayana melaksanakan pertemuan seluruh sekte yang ada dengan mengundang khusus ahli tata negara dan pemerintahan asal Jawa Timur bernama Mpu Kuturan,” cerita Ngakan Jati.

Selanjutnya pertemuan tersebut mengambil sebuah kesepakatan dan merekonsiliasi semua sekte yang lebur kedalam Pura Kahyangan Tiga. Tercetusnya Pura Kahyangan Tiga dan Desa Pakraman inilah, diakui kini menjadi salah satu benteng penting Bali dalam menjaga eksistensinya dengan adat budaya, serta seni dan budaya yang dilandasi oleh ajaran suci agama Hindu.

Jati Amabrasika juga mengakui, kewajiban pemerintah melaksanakan upacara penganyaran di Pura Kahyangan Jagat Samuan Tiga ini, juga sesuai dengan Raja Purana Pura Besakih. Dalam Purana itu disebutkan, jika pada jaman silam tanggungjawab kegiatan upacara di tempat suci menjadi tanggung jawab raja, maka dalam kekinian kewajiban pemerintahlah untuk melaksanakan kegiatan ritual.

BACA :  Menteri Fadli Zon Resmikan Ruang Pamer Museum Cipta Mahardika Jawa Timur

Puncak piodalan berlangsung 29 April lalu. Ida Bhatara ngeluur akan berlangsung   11 Mei mendatang. Upacara masineb ini dilaksanakan sehari setelah upacara pemelastian di Pantai Masceti Desa Medahan Kecamatan Blahbatuh. Pemelastian yang melibatkan sekitar 50 pralingga tapakan Pura Kahyangan Tiga di 15 desa pakraman ini, dilaksanakan dengan berjalan kaki dari area suci Pura Kahyangan Jagat Samuantiga sejak pukul 05.00 pagi hari.

Selanjutanya sehari setelah masineb, akan dilaksanakan upacara majaga jaga di area suci Pura Kahyangan Jagat dan dilanjutkan dengan Penyepian Pura tanggal 14 Mei 2018. Pada hari Penyepian Pura ini, seluruh area suci Pura Kahyangan Jagat Samua Tiga pantang dilakukan kegiatan, bahkan memasuki area suci Pura Samuantiga tidak diperkenan. Layaknya hari Raya Nyepi di Tilem Kesanga. ( rls/sur)

 

 

 

Follow Balipuspanews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News
RELATED ARTICLES

ADS

- Advertisment -
- Advertisment -

Most Popular