KARANGASEM, balipuspanews.com – Penyakit misterius diduga kembali menyerang ternak babi milik peternak rakyat di Kabupaten Karangasem. Dalam tiga pekan terakhir, puluhan ekor babi dilaporkan mati setelah mengalami gejala kehilangan nafsu makan, tubuh gemetar, lemas, hingga akhirnya mati.
Informasi yang dihimpun, kasus kematian ternak tersebut terjadi sejak 3 minggu terakhir ini di sejumlah wilayah, seperti Desa Seraya Barat, Pertima, Timbrah, dan Perasi. Kondisi ini membuat para peternak khawatir akan penyebaran penyakit tersebut.
Salah seorang peternak di Desa Seraya Barat, I Nyoman Keblek, mengaku kehilangan lima ekor babi, termasuk satu ekor indukan. Menurutnya, gejala yang muncul pada ternaknya diawali dengan berkurangnya nafsu makan. Setelah itu babi terlihat gemetar, semakin lemas, dan akhirnya mati.
“Kalau ternak saya sekitar 3 minggu lalu sudah mati, awalnya ternak tidak mau makan, kemudian seperti gemetar, semakin lemas dan akhirnya mati,” ujarnya, Kamis (25/6/2026).
Selain ternaknya sendiri, sejumlah babi milik warga lain di lingkungan sekitarnya juga mengalami nasib serupa. Ternak babi siap panen yang sedianya akan dijual menjelang hati raya mati, sehingga membuat peternak merugi jutaan rupiah.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Karangasem, I Made Sugiartha, membenarkan adanya laporan kematian ternak babi di beberapa wilayah. Berdasarkan data yang diterima pihaknya, di Desa Pertima tercatat 17 ekor babi mati, di Timbrah sebanyak 5 ekor, dan di Perasi sebanyak 10 ekor.
Menurut Sugiartha, pihaknya belum dapat memastikan penyebab kematian ternak tersebut. Namun tim telah diterjunkan ke lapangan untuk melakukan pengecekan dan pemantauan guna mengetahui penyebab pasti kematian babi-babi tersebut.
Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) Kabupaten Karangasem, I Ketut Suardita, menjelaskan bahwa petugas telah mendatangi sejumlah lokasi peternakan yang melaporkan kematian ternak. Namun saat pemeriksaan dilakukan, bangkai babi telah dikuburkan sehingga petugas tidak dapat mengambil sampel untuk dilakukan uji laboratorium.
Meski demikian, berdasarkan keterangan para peternak, gejala yang muncul memiliki kemiripan dengan serangan African Swine Fever (ASF). Selain kehilangan nafsu makan dan tubuh lemas, beberapa babi disebut mengalami munculnya bintik-bintik kemerahan di bagian telinga sebelum mati.
Suardita menambahkan, kematian ternak tidak terjadi secara bersamaan dalam satu kandang, melainkan berlangsung bertahap. Ada babi yang mampu bertahan hingga lebih dari satu bulan setelah menunjukkan gejala awal, sementara lainnya mati dalam waktu kurang dari tiga minggu.
Untuk mencegah penyebaran penyakit yang lebih luas, peternak diimbau meningkatkan biosekuriti kandang dengan menjaga kebersihan lingkungan serta rutin melakukan penyemprotan disinfektan. Langkah tersebut dinilai penting untuk menekan perkembangan virus maupun agen penyakit yang berpotensi menyerang ternak babi.
Penulis: Gede Suartawan
Editor: Oka Suryawan




