Direktur Polteknik Negeri Bali I Nyoman Abdi (lima dari kanan) saat foto bersama dalam pembukaan Industrial Gathering and Diagonal Tetra Helix Forum, Jumat, (17/1/2020) di aula kampus Politenik Negeri Bali.
Direktur Polteknik Negeri Bali I Nyoman Abdi (lima dari kanan) saat foto bersama dalam pembukaan Industrial Gathering and Diagonal Tetra Helix Forum, Jumat, (17/1/2020) di aula kampus Politenik Negeri Bali.

BADUNG, balipuspanews.com- Politeknik Negeri Bali (PNB) merupakan satu-satunya perguruan tinggi di Bali yang membuka program studi atau menerapkan pendidikan vocasi dan bakal menjadi role model atau percontohan tingkat nasional tentang pendidikan vokasi di perguruan tinggi.

Direktur PNB, I Nyoman Abdi, SE., M.eCom., mengatakan, langkah yang dilakukan di PNB dengan adanya pendidikan vocasi, sudah menginisiasi kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud). Padahal dari Kementerian baru merencanakan terkait pendidikan vocasi, namun PNB sendiri selangkah lebih maju sudah menerapkan hal tersebut. Sehingga PNB sendiri akan menjadi role model tingkat nasional, pada akhir tahun ini akan diekpose besar besaran di Pusat.

“Kita sudah mengambil langkah pertama, kita akan menjadi pioneer atau inisiator. Sehingga tinggal menjaga komitmen, selama ini user sudah iklas menerima lulusan PNB di dunia industri maupun dunia usaha,” tegasnya disela sela berlangsungnya Industrial Gathering and Diagonal Tetra Helix Forum, Jumat (17/1/2020) di aula Kampus Politeknik Negeri Bali.

Dalam forum Tetra Helix tersebut, kata Abdi, sengaja dirancang dengan melibatkan empat pihak yang sangat penting kontribusinya menuju Sumber Daya Manusia (SDM) unggul.

Empat pihak atau komponen tersebut yaitu Pemerintah Pusat dan Daerah, Akademia atau Perguruan Tingggi, Dunia usaha atau industri dan tokoh masyarakat.

Disebut Abdi, jika keempat komponen tersebut disatukan dalam struktur organisasi yang akan diperkuat relasi satu sama lainnya, untuk membentuk komitmen yang kuat dalam rangka meningkatkan, sehingga kalau ini diperkuat membuat SDM yang dasyat.

“Menurut kami link and match bukan tanggung jawab Perguruan Tinggi PNB saja, tetapi dunia industri jugabharus terlibat. Karena lulusannya nanti akan diserap oleh dunia usaha dan dunia industri. Untuk itu, mereka harus tetap menjaga komitmen,” imbuhnya.

Pihaknya berharap, melalui forum ini dapat menginisiasi dan menindak lanjuti selanjutnya, keberlangsungannya tidak temporer namun berkelanjutan.

Dalam forum ini juga
dihadirkan alumni PNB. Banyak diantara mereka yang sudah memegang jabatan strategis ditempatnya mereka bekerja.

Lebih jauh Abdi menyebut, untuk lulusan dari PNB hampir tidak ada yang menganggur alias sudah bekerja dan diterima disebuah perusahaan. Bahkan sebelum lulus mereka sudah diminta oleh perusahaan untuk bekerja.

Para lulusan PNB sendiri diterima di industri atau perusahaan memang murni karena kualitas dari lulusan PNB bukan semata mata karena jalan titipan atau KKN.

“Kita sudah disupport oleh banyak pihak, dengan banyak dukungan kita lebih percaya diri. Program ini akan dikawal terus,” tandas Abdi memungkasi.

Sementara Direktorat Jenderal Pendidikan Vocasi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Patdono Suwignjo mengatakan, salah satu problem atau masalah utama dalam ketenagakerjaan di Indonesia karena tidak ngelinknya antara pendidikan dan kebutuhan tenaga kerja.

Patdono menuturkan, pada tahun 2015, Presiden Jokowi mengembangkan fokus pendidikan tinggi pada pendidikan vocasi agar sebagian besar lulusan mendapat pekerjaan sesuai kompetensinya.

Pemerintah melakukan upaya intens, untuk meningkatkan pendidikan vocasi, seperti negara maju Jerman Swiss, Belanda, jumlah mahasiswa vocasi lebih banyak daripada non vocasi. Berbanding terbaik yang terkadi di Indonesia, lebih banyak pendidikan non vocasi.

“Kita sudah melakukan banyak upaya, mulai aturan membuat perguruan tinggi atau  universitas baru tidak boleh non vocasi, harus pendidikan vocasi ,” jelasnya. (bud/bpn /tim).