KLUNGKUNG, balipuspanews.com— Ketut Nata,55,seorang pedagang rumahan asal Desa Sengguan, Kabupaten Klungkung, tak pernah menyangka bahwa penglihatannya mendadak gelap usai sembahyang. Hal tersebut dipicu lantaran retina matanya robek, membuat dunianya seolah berubah dalam sekejap.
Berkat Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dimilikinya, Nata berhasil menjalani operasi mata yang menyelamatkan penglihatannya tanpa mengeluarkan biaya sepeserpun.
Kejadian itu bermula saat Nata merasakan pandangannya tiba-tiba gelap. Ia segera mencari pertolongan medis dan menjalani pengobatan selama satu minggu di dokter mata umum. Meski telah menjalani pemeriksaan dan diberikan obat tetes, kondisinya tak kunjung membaik.
“Saya tidak merasakan kejanggalan apapun sebelumnya, tidak ada rasa sakit ataupun riwayat sakit mata. Penglihatan saya normal, hingga tiba-tiba semua menjadi gelap. Saya sempat panik karena semuanya gelap meski saya sudah membuka mata,” ungkap Nata saat ditemui di rumahnya beberapa waktu lalu.
Karena Nata merasa tidak ada perkembangan dari pengobatan yang telah ia jalani sebelumnya, akhirnya pihak keluarga memutuskan untuk memeriksakannya ke Rumah Sakit Mata Ramata di Denpasar.
Ia kembali mendaftar pengobatan menggunakan jalur umum. Setelah tiga kali menjalani pemeriksaan, akhirnya ada perubahan yang ia rasakan.
“Dokter menyatakan bahwa retina mata saya robek. Setelah ditelusuri, penyebabnya adalah faktor usia dan terlalu sering mengangkat beban berat. Pekerjaan saya sebagai pedagang rumahan kadang mengharuskan saya mengangkat barang dagangan sendirian, tanpa saya sadari rutinitas tersebut memicu penyakit yang saya alami kini,” ujarnya.
Kondisinya yang kian membaik belum menjadi angin segar bagi Nata. Pasalnya, ia harus menjalani perawatan intensif hingga operasi mata yang menelan biaya sangat besar jika menggunakan jalur umum.
Pihak rumah sakit sempat mengecek apakah Nata memiliki asuransi kesehatan, ternyata ia terdaftar sebagai peserta JKN aktif dan disarankan agar menggunakan JKNnya untuk berobat agar seluruh biaya pengobatannya dapat ditanggung oleh Program JKN.
Selama ini, Nata tak menyadari bahwa ia terdaftar sebagai peserta JKN tanggungan pemerintah daerah sehingga saat Nata pertama kali berobat harus membayar seluruh biaya pengobatan secara mandiri.
Namun, setelah mendapat informasi dari pihak rumah sakit bahwa ia merupakan peserta JKN aktif, Nata direkomendasikan agar memanfaatkan JKNnya untuk berobat.
“Selama ini saya tidak tahu kalau saya memiliki JKN jika tidak diberitahu oleh pihak rumah sakit. Saya kaget saat mendengar nominal biaya pengobatan mata yang jumlahnya hingga puluhan juta. Ketika diberitahu bahwa saya memiliki JKN, rasanya seperti mendapat harapan baru,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Nata yang diantar oleh keluarganya segera menuju ke Puskesmas Klungkung II untuk menjalani pengobatan dengan mengandalkan kepesertaan JKN miliknya.
Setelah menjalani pemeriksaan, ia mendapat rujukan ke Rumah Sakit Mata Ramata. Nata kembali menjalani perawatan intensif disana, tetapi kini ia tak terdaftar pasien umum, melainkan sebagai pasien JKN.
“Proses pengobatan yang saya jalani cukup panjang, 3 minggu menjalani perawatan untuk membersihkan darah dan memperbaiki retina saya. Dipasangi silikon oleh dokter, sebulan kemudian dilakukan pengangkatan silikon,” ucapnya lugas.
Nata juga menyampaikan pelayanan kesehatan yang ia terima saat menggunakan kepesertaan JKN tak kalah memuaskan dengan pelayanan kesehatan melalui jalur umum. Bahkan ia sangat terkejut ketika seluruh biaya pengobatannya ditanggung oleh Program JKN.
“Kalau tidak pakai JKN, biaya pengobatan saya bisa mencapai Rp 85.000.000. Saya tidak tahu bagaimana saya bisa membayar sebanyak itu,” ungkapnya.
Seiring berjalannya waktu, kondisi Nata mulai membaik. Kini ia menjalani kontrol rutin setiap dua bulan sekali dan tidak dikenai biaya sama sekali. Ia merasa sangat bersyukur atas keberadaan Program JKN yang telah menyelamatkan penglihatannya dan meringankan beban finansial keluarganya.
“Dengan biaya pengobatan saya yang sebanyak itu, sepenuhnya ditanggung JKN. Ditambah pelayanan kesehatan yang begitu baik, membuka mata saya betapa pentingnya program ini untuk saya. Terima kasih kepada pemerintah dan seluruh pihak yang telah membantu saya selama ini,” tutupnya penuh syukur.
Penulis: Gde Candra
Editor: Oka Suryawan



