GIANYAR, balipuspanews.com – Warga Bali mana yang tak mengenal Saplir. Ia merupakan salah satu pelawak asal Banjar Gelogor, Lodtunduh, Ubud, Gianyar, Bali yang memiliki humor yang khas dalam mengocok perut para penontonnya. Namun siapa sangka, dibalik gelak tawa yang dihadirkan oleh Saplir, seniman yang memiliki nama lengkap I Putu Surya Destara Pabudi,40, memiliki kisah haru tentang pengalamannya menjadi seorang ayah.
Belum lama ini, ia dikaruniai seorang putri cantik yang merupakan buah hati ketiganya bersama sang istri. Dengan mengandalkan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), Saplir mengaku sangat bersyukur atas proses persalinan yang telah berjalan lancar sehingga istri dan anaknya dalam keadaan selamat dan sehat.
“Berkat JKN, semua biaya persalinan
ditanggung sepenuhnya oleh program ini, sehingga saya bisa fokus pada kesehatan istri dan anak saya,” ungkapnya saat ditemui beberapa waktu lalu.
Saplir menceritakan ia dan istri menjadi peserta JKN sejak beberapa tahun lalu. Ia mendapat kepesertaan tersebut karena istrinya bekerja sebagai pegawai pemerintah di salah satu instansi di Kabupaten Gianyar. Dengan demikian ia termasuk ke dalam segmen peserta Pekerja Penerima Upah (PPU) dengan kepesertaan kelas 2.
“Sebagai seorang seniman, pendapatan saya tidak tetap, tidak seperti pegawai kantoran ataupun PNS yang tiap bulannya ada pemasukan. Di saat ramai ada tawaran manggung, ya syukur karena ada pemasukan. Namun di saat sedang sepi job, terkadang ada rasa khawatir. Bagaimana kalau ada keperluan gawat darurat, seperti jatuh sakit dan harus berobat. Itu yang selalu jadi beban pikiran saya. Pasti perlu biaya yang tidak sedikit. Karena itulah, saya bersyukur istri saya jadi pegawai, sehingga kepesertaan JKN saya ikut tanggungan istri saya,” ucapnya.
Sebagai peserta JKN, Saplir mengaku sangat terkesan dengan pelayanan dan fasilitas kesehatan yang diterima istrinya saat bersalin di rumah sakit. Dari proses administrasi yang tidak lagi memerlukan banyak berkas, hingga perawat dan dokter yang sigap dalam menangani proses persalinan istrinya. Ia merasa sedari awal masuk rumah sakit sampai proses persalinan selesai, semuanya berjalan lancar tanpa ada kendala.
“Saya hanya dimintai KTP saja saat mengurus administrasi persalinan istri saya, tidak ada lagi diminta fotocopy ini itu. Prosesnya mudah sekali. Perawat dan dokternya juga sangat ramah dan profesional. Mereka menjawab semua pertanyaan saya dengan jelas dan sabar setelah proses persalinan selesai. Fasilitas rumah sakit seperti kamar perawatan begitu bersih dan nyaman,” tutur Saplir.
Manfaat dari konsep gotong royong Program JKN ini sangat dirasakan oleh Saplir dan keluarganya. Bayangkan saja, seorang seniman yang biasanya menghibur banyak orang, kini merasa sangat terbantu karena banyak orang yang bergotong royong membayar iuran JKN. Perlu diketahui bahwa Program JKN ini mengusung konsep gotong royong agar semua tertolong.
“Bagi saya, JKN ini bukan hanya sekadar program jaminan kesehatan sosial, tetapi sebuah bukti nyata bahwa kita tidak pernah sendirian. Seluruh masyarakat bahu membahu saling membantu satu sama lain,” ujarnya.
Saplir sedari awal sudah meyakini bahwa Program JKN memiliki banyak manfaat, bukan hanya untuk keluarganya, melainkan untuk seluruh masyarakat. Oleh karenanya, ia turut mengimbau masyarakat agar taat dengan kewajibannya seperti yang ia dan keluarganya lakukan setiap bulan, yakni membayar iuran JKN tepat waktu sebelum tanggal 10 tiap bulannya.
“Pemerintah benar-benar berupaya untuk
memastikan kesejahteraan seluruh masyarakat. Tentunya kita juga punya andil dalam upaya bahu membahu membantu sesama. Seperti manfaat yang sudah saya dan keluarga alami adalah bentuk nyata bahwa Program JKN ini sangat membantu. Mudah-mudahan Program JKN ini terus berlanjut dan semakin banyak masyarakat yang saling menolong lewat program ini,” katanya. (adv)
Penulis: Gde Candra
Editor: Oka Suryawan



