Pura Gedong Pingit Antiga Manggis Karangasem
Pura Gedong Pingit Antiga Manggis Karangasem

MANGGIS, balipuspanews.com – Bali memiliki banyak tempat suci yang belum dikenal luas. Salah satunya adalah Pura Gedong Pingit yang terletak di Dusun Pangitebel, Desa Antiga Kelod Kecamatan Manggis, Karangasem.

Pura yang mirip Pura Goa Lawah itu berlokasi di Bukit ngandang. Banyak misteri yang tersimpan di pura yang sering dijadikan tempat memohon tamba, karier hingga rejeki.

Jro Mangku I Gede Putra kepada balipuspanews.com, menyebutkan, banyak umat yang dari jauh datang ke Pura Gedong Pingit untuk sembahyang, setelah sebelumnya mendapat firasat dari mimpi.

Pura yang kesan magisnya begitu terasa itu diempon oleh delapan kepala keluarga (KK). Namun tak jarang juga umat dari luar Karangasem hadir saat puja wali seperti ada dari Buleleng, Negara dan Badung.

Dilihat sepintas, pura Gedong Pingit mirip dengan pura Sad Kahyangan Goa Lawah, yang terletak di Desa Pesinggahan, Klungkung. Selain ada goanya, ratusan kelelawar juga memenuhi bibir bagian atas goa.

Kata Jro Mangku, di pura tersebut hanya terdapat beberapa jumlah pelinggih yaitu, pelinggih taksu, surya, penyimpangan ratu niang, dan pelinggih bhatara Baruna.

Menurut cerita para tetuanya, pura tersebut merupakan pelinggih pesimpangan pura Gunung Agung, Goa Lawah, dan pura Dalem Peed, Nusa.

Pun dengan jumlah pengempon yang sedikit, puja wali yang digelar setiap Purnamaning Sasih Katiga, seluruh biaya upacara tidak ada memungut sepeser pun urunan atau iuran wajib. Namun setiap upacara digelar seluruh biaya bisa terkaper melalui punia dari umat dan dibuatkan bazzar sebagai penggalian dana.

Jero Mangku Putra menambahkan, sebelum dirinya menjadi Jro mangku, dirinya dalam mimpi datang ke pura saat tengah malam untuk membersihkan seluruh areal pura. Setelah selesai menyapu, lantas dari lubang atas goa muncul Dewa yang berstana disana, namun dirinya tidak melihat rupa secara jelas. Ketika cahaya terang dan berparas bagaikan raja tersebut mendekat dan memegang siwa dwara (bagian atas kepala) layaknya orang metapak.

Setelah menyampaikan kejadian mimpi yang dialami mangku Putra kepada keluarga dan pengempon pura tersebut, akhirnya dipilihlah Gede Putra menjadi Jro Mangku.

Setelah menjadi Jro Mangku, banyak umat yang datang ke rumahnya untuk nunas tamba, memohon rejeki ke pura, serta tempat melukat bagi umat yang sakit untuk diobati.

Mangku Putra menuturkan, sebelum pura Gedong Pingit direnovasi, kondisi pura ini masih diselimuti semak belukar. Setiap menjelang rainan purnama, tilem, maupun kajeng kliwon dirinya selalu melakukan pembersihan di areal pura.

Suatu saat, bersama anaknya ketika itu masih kecil, saat menyapu di areal pura dirinya menemukan genta atau bajra namun dalam kondisi pegangannya saja.

Karena dilihat dari letak pura yang berada di perbukitan jauh dari lingkungan masyarakat dan belum ada pelinggih, dirinya merasa janggal ada Bajra di areal pura.

“ Ketika tiang menyapu, saya tidak ingat persis kapan itu, saya temukan bajra tanpa klenengnya, lalu tiang bawa pulang dan saya simpan, tutur jro mangku.

Tak lama setelah barang yang dianggapnya sakral disimpan, ada umat yang datang ke rumahnya untuk meminta obat, dalam penuturan orang yang sakit, dirinya sudah berobat kemana-mana namun tak kunjung sembuh.

Jro mangku, yang tak punya pengalaman sebagai penekun sastra atau usadha, hanya bisa memohon dan percaya dengan bajra yang didapat untuk mengobati pasien tersebut.

“ Saat itu saya basuh bajra tersebut, airnya lalu saya kasi pasien untuk diminum. Tal lama berselang pasien langsung muntah ditempat, setelah muntah pasien merasa lega,” kata jro mangku dengan nada polos.

Tak hanya itu, saat ajang Pileg juga beberapa politisi datang ke Pura Gedong Pingit untuk bermeditasi dan melakukan persembahyangan.

Untuk bersembahyang ke pura yang berluas tak lebih dari satu are tersebut, umat harus menaiki sekitar 100 anak tangga, yang lokasinya tak jauh dari SDN 3 Antiga Kelod.(bud/bas)