Sanitasi Kandang Sistematis Jadi Kunci Cegah Zoonosis pada Peternakan Rakyat

- Advertisement -
- Advertisement -

DENPASAR, balipuspanews.com – Risiko penularan penyakit dari hewan ke manusia atau zoonosis masih menjadi ancaman nyata di tingkat peternakan rakyat.

Minimnya pemahaman mengenai manajemen limbah dan pembersihan fisik secara berkala membuat kandang kerap menjadi sarang patogen yang membahayakan ternak maupun peternak. Karena itu, penerapan sanitasi kandang secara sistematis dinilai menjadi kunci utama dalam memutus rantai penularan penyakit tersebut.

Hal tersebut disampaikan akademisi Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi Universitas Warmadewa (Unwar), Dr. I Gusti Agus Maha Putra Sanjaya, S.Pt., M.M., saat dikonfirmasi pada Rabu (26/5/2026).

Menurut Agus, sanitasi kandang bukan sekadar rutinitas membersihkan kotoran, melainkan serangkaian upaya sistematis yang mencakup pembersihan fisik, desinfeksi, pengapuran, hingga manajemen limbah secara terukur.

“Tindakan ini bertujuan membunuh patogen seperti bakteri, virus, dan parasit. Lingkungan kandang yang nyaman tidak hanya mencegah stres pada ternak yang dapat menurunkan produktivitas, tetapi yang paling krusial adalah melindungi para peternak dari risiko zoonosis,” ujar Agus.

Kesadaran dan penerapan sanitasi sistematis tersebut kemudian dihilirisasi langsung kepada masyarakat melalui kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) di Desa Apuan, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali, yang berlangsung pada Kamis (21/5/2026) hingga Jumat (22/5/2026).

BACA :  Jurnalis Bali Gelar Doa Bersama untuk Lima Wartawan dan Tiga Awak Kapal yang Hilang di Selat Sunda

Dalam implementasinya di lapangan, Agus memaparkan lima komponen utama yang harus diterapkan secara disiplin oleh peternak. Pertama, pembersihan fisik secara rutin terhadap sisa pakan serta tempat pakan dan minum.

Kedua, desinfeksi melalui penyemprotan antiseptik guna menekan perkembangan mikroorganisme. Ketiga, pengapuran pada lantai kandang yang lembap untuk membunuh bakteri dan jamur. Keempat, pengelolaan limbah agar feses tidak menumpuk. Kelima, menjaga kebersihan saluran drainase di sekitar kandang.

Langkah preventif ini diadopsi langsung oleh Kelompok Ternak Kambing Galang Kangin di Desa Apuan, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, yang beranggotakan 25 orang. Ketua Kelompok Ternak Galang Kangin, I Ketut Sandita Yasa, mengakui bahwa tantangan utama peternak tradisional selama ini adalah pengelolaan limbah feses kambing yang cenderung menumpuk dan memicu tingginya kadar amonia.

Untuk melengkapi sistem sanitasi tersebut, limbah kotoran kambing selanjutnya diolah menjadi pupuk organik padat (kompos) menggunakan teknologi fermentasi dengan bantuan bioaktivator Biomi. Selain menghilangkan bau dan amonia, proses ini juga mengubah bahan organik kompleks menjadi unsur hara seperti N, P, dan K yang siap diserap tanah, sekaligus memberikan nilai ekonomi tambahan bagi kelompok ternak.

BACA :  Pohon Beringin Tua Hingga Dua Pelinggih di Pura Desa Adat Buleleng Terbakar

Melalui penerapan sanitasi yang ketat dan tata kelola limbah yang baik, kawasan peternakan di perdesaan diharapkan mampu menghasilkan produk ternak yang aman dan berkualitas tinggi, sekaligus menciptakan lingkungan kerja yang sehat serta bebas dari ancaman penularan penyakit bagi komunitas peternak lokal.

Penulis : Muliarta
Editor : Oka Suryawan 

Follow Balipuspanews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News
RELATED ARTICLES

ADS

- Advertisment -
- Advertisment -

Most Popular