Karangasem, balipuspanews.com – Destination Branding tidak berhubung degan program pengelolaan potensi dan sumber daya atau destination managemen adalah kesia siaan.
“Abad ini adalah era tarung destinasi, namun branding tanpa managemen akan menjadi sia-sia,” kata Arief Ayip Budiman, salah satu pemberi makalah soal pengelolaan destinasi dan branding pada seminar Karangasem menuju pengelolaan sumber data destinasi terpadu melalui destination branding Karangasem the Spirit of Bali.
Ia mengatakan melalui branding akan mampu membangun reputasi Karangasem. Reputasi itu tergantung pada manusianya atau kepemimpinan, manajemen atau administrasi pemerintahan, produk unggulan, seni dan budaya (falsapah, etos, nilai-nilai), Pariwisata (sius, tempat peristiwa), Investasi atau sektor unggulan, kehumasan atau komunikasi, relasi dan media.
“Destination branding bukan sekedar logo, slogan atau promosi bagi sebuah destinasi,” katanya.
Khusus di Kabupaten Karangasem, pariwisata yang dapat dikeloa yakni pariwisata spiritual atau pilgrimage, tirta yatra, pariwisata petualang atau hikking, trekking, pariwisata budaya atau desa adat, tarian dan pertunjukan, pariwisata bahari atau snorkeling dan diving serta pariwisata sejarah atau mengunjungi tempat bersejarah.
Selain pengembangan pariwisata juga pengembangan produk berbasis potensi karangasem yakni mendorong terciptaanya kualitas yang mendukung daya saing serta meningkatikan nilai apresiasi
“Mengkoneksikan pengembangan produk berbasis potensi Karangasem atau konsumen spesifik seperti salak bali, jambu mete dan lain sebagainya,” jelasnya.



