Shelter Anjing di Bali Bertransformasi, dari Penampungan Menjadi Pusat Inovasi Menuju Bebas Rabies 2028

- Advertisement -
- Advertisement -

GIANYAR, balipuspanews.com – Penanganan anjing liar di Bali memasuki babak baru. Shelter yang sebelumnya hanya berfungsi sebagai tempat penampungan, kini bertransformasi menjadi pusat inovasi, edukasi, dan rehabilitasi berbasis kesejahteraan hewan (animal welfare).

Kepala UPTD Puskeswan Gianyar III, drh. Nyoman Arya Dharma, mengungkapkan bahwa konsep “Shelter Inovasi Tiada Henti” lahir dari kebutuhan mendesak untuk menghadirkan solusi nyata dan berkelanjutan dalam pengendalian populasi anjing liar. Langkah ini sekaligus mendukung target Bali bebas rabies pada tahun 2028.

Menurut Arya Dharma, pendekatan shelter modern tidak lagi sekadar menampung, melainkan fokus pada rehabilitasi perilaku hewan. Anjing liar yang sebelumnya menunjukkan sikap takut atau agresif diarahkan untuk kembali bersosialisasi melalui metode adaptasi lingkungan yang minim stres.

“Tujuannya bukan hanya menampung, tetapi mengembalikan fungsi sosial hewan agar dapat beradaptasi kembali dengan lingkungan,” ujarnya, Minggu (29/3/2026).

Selain pendekatan perilaku, inovasi juga diterapkan pada infrastruktur shelter. Penggunaan bahan lokal seperti bambu, sistem drainase yang mampu mengurangi bau dan limbah, hingga pengolahan kotoran menjadi biogas menjadi bagian dari upaya menciptakan sistem yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

BACA :  Wali Kota Jaya Negara Hadiri Puncak Karya Pelebon I Gusti Ayu Badri

Pemanfaatan teknologi turut memperkuat pengelolaan shelter. Sistem database digital digunakan untuk pencatatan identitas hewan dan riwayat vaksinasi. Selain itu, monitoring kesehatan harian dan program sterilisasi dilakukan secara terjadwal untuk memastikan pengendalian populasi berjalan efektif.

Arya Dharma menegaskan bahwa keberhasilan program ini membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Keterlibatan dinas terkait, organisasi profesi dokter hewan, komunitas pemberi pakan (feeder), desa adat, serta masyarakat luas menjadi faktor kunci.

“Shelter dan feeding bukanlah hal yang bertentangan, melainkan harus berjalan beriringan sebagai upaya pengendalian rabies sekaligus peningkatan kesejahteraan hewan,” tegasnya.

Lebih jauh, shelter juga berperan sebagai pusat edukasi masyarakat. Perubahan pola pikir dinilai sangat penting, dari kebiasaan membuang hewan menjadi lebih bertanggung jawab, serta dari rasa takut menjadi pemahaman terhadap hewan.

Berbagai program unggulan terus dikembangkan, seperti adopsi dengan seleksi ketat, rehabilitasi anjing trauma, feeding terkontrol, hingga pelatihan relawan dan tenaga profesional shelter.
Dengan inovasi, kolaborasi, dan komitmen bersama, Arya Dharma optimistis shelter dapat menjadi garda terdepan dalam pengendalian populasi anjing liar sekaligus pencegahan rabies di Bali.

BACA :  Terserempet Bus, Pengendara Yamaha FI Meregang Nyawa

“Bali bebas rabies 2028 bukan sekadar harapan, tetapi target yang dapat dicapai jika semua pihak bergerak bersama,” pungkasnya.

Penulis : Ketut Catur
Editor : Oka Suryawan 

Follow Balipuspanews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News
RELATED ARTICLES

ADS

- Advertisment -
- Advertisment -

Most Popular