MANGUPURA, balipuspanews.com – Bencana tanah longsor melanda tempat wisata Pelaga Eco Park, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, pada Minggu (1/11/2026) sekitar pukul 23.00 WITA.

Bencana ini mengakibatkan satu unit bangunan glamping terseret material longsor hingga hanyut terbawa arus sungai. Hingga kini, tim Sar gabungan masih melakukan pencarian terhadap dua orang penghuni kamar yang hilang pascakejadian.
Pencarian kedua warga ini dipimpin langsung oleh Kapolres Badung AKBP Joseph Edward Purba, S.H., S.I.K., M.H. Kapolres menyampaikan bahwa saat ini fokus utama tim SAR gabungan adalah menemukan dua korban hilang yang merupakan penghuni room 6. Keduanya berjenis kelamin laki-laki, yakni seorang warga negara Indonesia dan seorang warga negara asing.
Selain Room 6, tiga bangunan lainnya, yakni Room 3, Room 4, dan Room 5, roboh akibat longsor susulan. Saat kejadian, pengelola mengarahkan para tamu menuju area restoran untuk menghindari ancaman longsor lanjutan.
Dalam laporan awal, Pelaga Eco Park dihuni 23 orang, termasuk enam warga negara asing. Sebanyak 21 orang berhasil dievakuasi, sedangkan dua penghuni Room 6 masih belum ditemukan.
“Dua orang laki-laki penghuni room 6 yang berada di dalam bangunan tersebut belum berhasil ditemukan dan kini menjadi prioritas utama operasi pencarian,” beber Kapolres.
Berdasarkan keterangan saksi, suara teriakan meminta pertolongan terdengar dari area penginapan saat longsor terjadi. Ketika dilakukan pengecekan, bangunan Room 6 sudah tidak berada di tempat dan diduga hanyut terbawa arus sungai. Sekitar 20 menit kemudian, longsor susulan menyebabkan tiga bangunan lainnya roboh.
Personel Polsek Petang tiba di lokasi sekitar pukul 23.40 WITA dan melakukan pengecekan, pendataan saksi serta penghuni penginapan, sekaligus berkoordinasi dengan BPBD dan unsur terkait. Namun, proses pencarian menghadapi kendala karena sebagian akses jalan menuju lokasi masih tertutup material longsor.
Lokasi kejadian berada di kawasan perbukitan dengan medan berat dan berdekatan dengan aliran sungai. Material longsor masih menutupi sebagian akses jalan sehingga mobilitas personel dan peralatan memerlukan penanganan khusus. Kondisi cuaca serta perkembangan situasi di lapangan juga menjadi pertimbangan dalam menentukan pola pencarian.
Seluruh personel diminta mengutamakan keselamatan dan mewaspadai potensi longsor susulan maupun peningkatan debit air sungai. Sinergi seluruh unsur gabungan terus diperkuat untuk memaksimalkan pencarian terhadap dua korban yang belum ditemukan.
Diketahui, bencana tanah longsor ini terjadi akibat curahan hujan yang cukup tinggi sehingga memicu pergerakan tanah di kawasan perbukitan Pelaga Eco Park pada Minggu malam.
Selain itu, material longsor yang masif tidak hanya merusak kawasan sekitar, tetapi juga menghanyutkan bangunan glamping ke aliran sungai yang berada di dekat lokasi kejadian.
Hingga kini, Tim di lapangan tengah menghadapi medan yang cukup berat karena berada di kawasan perbukitan terjal dan berdekatan dengan aliran sungai. Selain itu, sisa material longsor yang masih menutupi sebagian akses jalan membuat mobilitas personel serta peralatan evakuasi membutuhkan penanganan khusus.
Tim gabungan juga mengerahkan sarana dan prasarana berupa alat berat, cangkul, sekop, kapak, hingga perlengkapan keselamatan seperti sepatu bot.
Dilokasi, Kapolres Badung juga mengingat kondisi cuaca yang ekstrim serta potensi longsor susulan dan peningkatan debit air sungai. Ia meminta kepada seluruh personel agar tetap mengutamakan faktor keselamatan kerja (safety first) dalam setiap langkah pencarian.
”Tim gabungan masih terus berjibaku di lapangan guna memperluas area penyisiran demi segera menemukan kedua korban hilang,” ungkapnya.
Sementara keterangan terpisah, Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar I Nyoman Sidakarya SH mengatakan, hujan lebat yang mengguyur wilayah Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, sejak Minggu 1 November 20256, mengakibatkan tanah longsor yang menimbun satu unit tempat menginap di kawasan Eco Park Pelaga Glamping Retreat.
Berdasarkan informasi yang diterima dari Kadek Suardika selaku pemilik glamping, pada Senin 2 November 2026 sekitar pukul 06.10 Wita, mencurigai terdapat dua orang pengunjung yang berada di dalam bangunan saat longsoran tebing menimbun tempat menginap tersebut.
“Dua orang pengunjung diduga masih tertimbun material longsor dalam kejadian tersebut,” beber Sidakarya.
Menindaklanjuti laporan tersebut, Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar memberangkatkan satu tim Rescue dengan kekuatan sembilan personel menuju lokasi kejadian. Perjalanan dari kantor yang berlokasi di Jimbaran menuju lokasi diperkirakan memerlukan waktu sekitar dua jam.
Tim SAR akan melakukan upaya pencarian dan pertolongan terhadap dua orang yang diduga tertimbun material longsor dengan tetap memperhatikan kondisi medan serta faktor keselamatan personel di lapangan.
“Hingga saat ini, proses penanganan masih berlangsung dan perkembangan operasi SAR akan disampaikan lebih lanjut,” pungkasnya.
Penulis : Kontributor Denpasar
Editor : Oka Suryawan



