Tokoh Hindu Soroti Lemahnya Proteksi Pura

Sikapi Maraknya Pelecehan Simbol Hindu di Bali 

- Advertisement -
- Advertisement -

Denpasar, balipuspanews.com – Belakangan ini maraknya pelecehan simbol-simbol Hindu di Bali membuat sebagian besar tokoh geram.  Bahkan,  simbol-simbol yang menjadi kepercayaan dan disucikan oleh umat Hindu dengan mudah dinodai.

Lemahnya proteksi terhadap simbol tersebut menjadi ruang dan celah oknum tak bertanggungjawab melalukan aksinya.  Perangkat adat seperti desa pakraman dan pengurus pura diharapkan pro aktif menyikapi hal tersebut.

Apalagi, selama ini sudah menjadi rahasia umum pura menjadi obyek wisata.

“Salah besar kalau pura dijadikan kawasan wisata. Tak ada yang boleh masuk ke pura selain tujuannya sembahyang. Kalau hanya ingin melihat pemandangan cukup dari luar. Mohon pengunjung datang ke pura sesuai dengan zonasi yang  telah ditentukan, “sorot tokoh sekaligus aktivis Hindu Ida Bagus Ketut Susena, Senin (23/4) di Denpasar.

Ia mewanti-wanti selama ini,  derasnya turis masuk wilayah utama mandala pura tak lain karena kelonggaran pihak pura yang dengan mudah “dinegoisasi” oleh pemandu wisata.

Hal itu tambah Susena menjadi pemandangan umum di pura kahyangan jagad,  sad kahyangan hingga dang kahyangan di Bali.  Minimnya kesadaran untuk menjaga kesucian pura  menjadi penyebab, potensi pelecehan terhadap pura datang silih berganti di Bali.

BACA :  Penertiban Gelandangan dan Pengemis Kembali Digencarkan di Denpasar

“Bali sebagai pusat Hindu di Indonesia saja seperti ini (dilecehkan, red) . Apalagi di luar daerah, “tegas Ketua Umum Pusat Koordinasi Hindu Indonesia (Puskor Hindunesia)  tersebut.

Ia mengaku prihatin,  belakangan ini pura-pura di Bali marak sebagai kasawan pariwisata yang hanya bertujuan untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).  Namun,  tidak melihat dan mempertimbangkan aspek kesucian.

Kasus bule yang menduduki padmasana di Pura Gelap,  Besakih kata pria asal Jembrana ini yang geger beberapa waktu lalu,  menjadi pukulan telak bagi umat Hindu Bali khususnya pengurus pura dan desa pakraman yang selalu dengan mudah berkompromi dengan wisatawan dalam “mengekploitasi” simbol-simbol agama Hindu di pura.

Peran pemerintah juga dinilai masih lemah dalam melindungi kawasan suci.

Payung hukum yang tak jelas dan tegas,  kata Susena selama ini memberikan celah bagi pengunjung khususnya wisatawan melalukan hal yang tak sepantasnya dilakukan di kawasan suci.

Ia menilai dan mempercayai, belakangan ini banyak terjadi hal-hal atau kejadian negatif, karena faktor niskala yakni leteh.

BACA :  Terserempet Bus, Pengendara Yamaha FI Meregang Nyawa

“Wilayah Bali sudah leteh di sana-sini. Vibrasi negatif dimana-mana.  Belajar dari leluhur kita yang memproteksi Bali dengan berbagai cara,  seharusnya bisa kita contoh untuk kehidupan sekarang ini. Sudah Seharusnya perangkat adat melek akan hal ini,” jelasnya.

Pihaknya berjanji,  dalam waktu dekat akan memperjuangkan agar kawasan suci di Bali steril dari unsur kepentingan pariwisata yang pragmatis dan jangka pendek. Langkah apa yang akan dilakukan?

“Tunggu saja,  semoga Hyang Widhi merestui yang saya perjuangkan,”pungkasnya. (rls/bpn/art)

 

 

 

Follow Balipuspanews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News
RELATED ARTICLES

ADS

- Advertisment -
- Advertisment -

Most Popular