DENPASAR UTARA, balipuspanews.com- Sehari sebelum Hari Raya Nyepi Tahun baru caka 1941 biasanya identik dengan pelaksanakan pawai Ogoh-ogoh ketika sore hingga malam hari. Semua warga masyarakat tumpah ruah untuk menyaksikan pawai tersebut.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, yang biasanya beberapa Ogoh-ogoh yang diarak saat pawai menggunakan sound system, bahkan ada yang secara khusus membawa DJ untuk beratraksi di atas panggung kecil di dekat Ogoh-ogohnya.
Namun, pawai Ogoh-ogoh sekarang tidak diperbolehkan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar mengiringi Ogoh-ogoh menggunakan sound system, tetapi diwajibkan untuk menggunakan seperangkat iringan gong bleganjur.
Keputusan dari Pemkot Denpasar ini mendapat apresiasi dari tokoh muda Denpasar, I Gusti Agung Ngurah Adi Mertha, SE. yang selama ini peduli akan seni budaya Bali yang adi luhung selama ini diwariskan dari nenek moyang yang patut dijaga dan dilestarikan keberadaannya.
“Jika menggunakan sound system sungguh menyimpang dari budaya adat Bali. Denpasar sebagai kota berwawasan budaya sudah sepatutnya menjunjung tinggi kearifan lokal budaya Bali, salah satunya menggunakan bleganjur untuk mengiringi atraksi pawai Ogoh-ogoh saat malam pengrupukan nanti” ujar pria kelahiran Depansar 23 april 1980.
Disamping itu, Jik Wah Uyuk, panggilan akrabnya menyambut gembira, pasalnya dalam suasana tahun politik ini, Pemerintah Kota Denpasar tetap menyelenggarakan lomba Ogoh-ogoh seperti tahun-tahun sebelumnya.
“Kalau tidak kita yang melestarikan, siapa lagi?. Ini sebagai bentuk apresiasi pemerintah memberi ruang terhadap genersi muda untuk berkreativitas menyalurkan bakat-bakat seninya” Jelasnya.
Jik Wah berpandangan seyogyanya warga masyarakat mulai memilah dan memilih, mana budaya yang baik dan budaya kurang baik, jangan sampai seni budaya gamelan bleganjur yang biasanya mengiringi arak-arakan ogoh-ogoh diganti dengan alunan musik DJ maupun dangdut,” tambahnya.
Pihaknya pun mendukung seperti ada wacana penyitaan sound system jika saat pawai Ogoh-ogoh berlangsung menggunakan iringan sound system.
Disela-sela obrolan ia juga berpesan, untuk mengkampanyekan Perwali No. 36 Tahun 2018 tentang Pengurangan Penggunaan Plastik. “Jangan biarkan bumi rusak karena plastik, kasihan anak cucu kita nanti, karena plastik sangat susah untuk hancur dan butuh waktu ratusan tahun. Dan terakhir, sebagai umat hindu tidak lupa kami menyampaikan ‘Rahajeng Nyanggra Rahina Suci Nyepi 1941, dumogi rahayu makesami, rahajeng ngemargiang Catur Bratha Penyepian,” tandasnya.(bud/bpn/tim).



