Gianyar, balipusnews.com – Ratusan krama (warga) Desa Pakraman Tegallalang, Kecamatan Tegallalang, Gianyar, mengikuti ritual Ngerebeg,Rabu (6/12).
Ngerebeg yang di ikuti oleh 7 banjar adat di Desa Pakraman Tegallalang. Banjar Gagah, Banjar Pejeng Aji, Banjar Tegallalang, Banjar Tegal, Banjar Tengah, Banjar Penusuan, dan Banjar Tri Wangsa.
Ritual yang dilaksanakan secara turun-temurun ini bertujuan memohon keselamatan umat, menjelang Karya Pujawali di Pura Duur Bingin, Tegallalang.
Di sela-sela persiapan ritual, Bendesa Adat Tegallalang I Made Jaya Kusuma menyatakan, kegiatan ini untuk menetralisir segala pengaruh negatif yang ada di lingkungan Desa Pakraman Tegallalang.
Para pengayah (warga) mulai dari anak-anak hingga dewasa, dihias seluruh tubuhnya agar terlihat seram. Mereka menyimbolkan diri sebagai wong samar.
Ritual ini sesungguhnya untuk memberikan tempat bagi wong samar yang diyakini akan ikut menjaga Desa Tegallalang.
“Bhuta Kala itu perlu disomyakan atau diberikan persembahan agar bisa hidup berdampingan dan tidak saling mengganggu dengan manusia,” terangnya.
Jaya Kusuma menceritakan, salah seorang warganya sempat mengganggu anak-anak yang ikut Ngerebeg. Penjor anak Ngerebeg tersebut diambilnya.
Namun diyakini saat prosesi Ngerebeg, para wong samar turut di dalamnya. Jaya Kesuma, berpesan agar tidak menggangu warganya yang ikut Ngrebeg desa itu,”ujarnya.
Setelah itu, krama melanjutkan ritual Ngamedalang Ida Sasuhunan Pura Duur Bingin. Barulah kemudian peserta Ngerebeg yang didominasi anak-anak dan remaja putra ini melakukan ritual jalan kaki keliling desa dengan payas aeng (hiasan tubuh menyeramkan).
Pada saat bersamaan, kalangan krama dewasa menghaturkan sesaji di setiap pura dan setra (kuburan) yang dilewati dalam prosesi Ngerebeg.
Para pengayah dengan dandanan menyeramkan, berjalan kaki keliling desa sejauh 6 kilometer.
Dijelaskan pula, ritual ini dilaksanakan sehari menjelang Karya Piodalan di Pura Duur Bingin setiap 210 hari sekali pada Wraspati Umanis Pahang. “Ritual Ngerebeg selalu dilaksanakan pas saat rahina Pegat Uwakan pada Buda Kliwon Pahang,” jelas Bendesa Jaya Kusuma.



