Universitas Warmadewa Edukasi Pengolahan Sampah Sejak Dini di SDN 2 Kubu Bangli

- Advertisement -
- Advertisement -

BANGLI, balipuspanews.com – Upaya membangun ketahanan lingkungan tidak hanya bergantung pada regulasi, tetapi juga pada keterlibatan generasi muda sejak usia dini. Berangkat dari pemikiran tersebut, Universitas Warmadewa melalui Program Pemberdayaan Berbasis Masyarakat (PBM) menggelar edukasi pengolahan sampah bagi siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) 2 Kubu, Bangli, Sabtu (6/6/2026).

Melalui kegiatan ini, para siswa diajak keluar dari rutinitas pembelajaran konvensional untuk mengenal dan mempraktikkan langsung solusi pengelolaan sampah di lingkungan sekitar mereka.

Program edukasi ekologis tersebut dirancang secara aplikatif dengan menyasar anak-anak usia sekolah dasar, khususnya yang tumbuh di kawasan penyangga destinasi wisata dunia Penglipuran.

Fokus utama kegiatan tidak hanya mengajarkan larangan membuang sampah sembarangan, tetapi juga menanamkan pemahaman tentang pemilahan sampah hingga pemanfaatan limbah menjadi barang yang bernilai guna.

Akademisi Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi Universitas Warmadewa, Dr. I Nengah Muliarta, S.Si., M.Si., bertindak sebagai narasumber dalam pelatihan tersebut. Pakar yang konsisten mengawal isu ekonomi sirkular itu menegaskan bahwa pembentukan karakter peduli lingkungan perlu dilakukan melalui pendekatan sains yang sederhana dan mudah dipahami anak-anak.

BACA :  dr. Lula Kamal Tinjau Layanan JKN di RSUD Klungkung, Pastikan Peserta Tak Alami Kendala

“Anak-anak usia dini memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Pola edukasi konvensional berupa indoktrinasi lisan sudah tidak lagi efektif untuk generasi sekarang. Kita harus membawa laboratorium alam ke hadapan mereka, mengenalkan jenis sampah secara visual, dan mempraktikkan langsung bagaimana siklus hidup sebuah limbah bisa diputus secara produktif,” ujar Dr. Muliarta saat memberikan pemaparan materi.

Pengenalan teknik dekomposisi sejak tingkat hulu menjadi salah satu materi utama yang diberikan kepada siswa SDN 2 Kubu. Sampah organik yang berasal dari sisa konsumsi rumah tangga maupun vegetasi di lingkungan sekolah dimanfaatkan sebagai media praktik langsung.

Menurutnya, perubahan pola pikir sejak usia dini menjadi kunci utama dalam memandang persoalan lingkungan. Anak-anak dibimbing untuk mengubah persepsi bahwa sampah bukanlah sesuatu yang menjijikkan atau sekadar masalah yang harus dibuang, melainkan sumber daya yang masih memiliki nilai manfaat.

Sampah domestik tersebut dapat diolah menjadi bahan baku maupun sumber daya alternatif yang memiliki nilai ekonomi apabila dikelola dengan baik.

BACA :  dr. Lula Kamal Tinjau Layanan JKN di RSUD Klungkung, Pastikan Peserta Tak Alami Kendala

Selain itu, tim pengabdian juga memberikan pelatihan pemilahan sampah anorganik. Para siswa diajarkan memisahkan plastik, kertas, dan logam berdasarkan kategori daur ulangnya sejak di lingkungan sekolah. Kebiasaan ini diharapkan dapat terbawa hingga ke lingkungan keluarga masing-masing.

Pengintegrasian pendidikan lingkungan berbasis praktik dinilai menjadi investasi jangka panjang bagi keberlanjutan Bali. Kehadiran generasi yang mampu mengelola limbah secara mandiri diyakini dapat membantu mengurangi beban tempat pembuangan akhir sekaligus menjaga kebersihan dan keasrian lingkungan pariwisata.

Dr. Muliarta optimistis gerakan yang dimulai dari lingkungan sekolah dasar ini dapat menjadi pemantik perubahan sosial yang lebih luas.

“Investasi pada karakter anak-anak ini adalah benteng pertahanan terbaik. Tatkala anak-anak sudah memiliki kesadaran ekologis yang matang, mereka tidak hanya akan menjaga kebersihan diri sendiri, tetapi juga menjadi agen pelopor yang mampu mengoreksi perilaku lingkungan orang-orang dewasa di sekitar mereka,” paparnya.

Penulis : Kadek Adnyana
Editor : Oka Suryawan 

Follow Balipuspanews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News
RELATED ARTICLES

ADS

- Advertisment -
- Advertisment -

Most Popular