Anjing liar (ilustrasj)
sewa motor matic murah dibali

SEMARAPURA, balipuspanews.com-Masyarakat perlu merubah prilaku dalam memelihara anjing. Guna menekan kasus rabies anjing harus diikat atau dikandangkan. Sebab, di Kabupaten Klungkung keberadaan anjing liar diproyeksi banyak yang tidak tervaksin.

Keberadaan anjing liar ini membuat kesulitan petugas saat mengadakan vaksin. Karena itulah anjing liar membuat khawatir Dinas Pertanian Kabupaten Klungkung. Kasus rabies tidak boleh disepelekan. Terlebih Kabupaten Klungkung yang awalnya menyatakan diri sudah bebas rabies (nihil kasus gigitan) pada tahun 2017, akhirnya ‘pertahanan’ Klungkung jebol ketika ditemukan lagi kasus gigitan anjing positif rabies tahun 2018. Kepala Dinas Pertanian Ida Bagus Juanida jumat(2911) mengatakan, dari empat kecamatan, Kecamatan Dawan masuk zona paling berbahaya (zona paling merah). Sebab dari jumlah kasus gigitan anjing positif rabies selama ini, banyak terjadi di Kecamatan Dawan. Juanida memperkirakan selain kondisi geografis Kecamatan Dawan, dimana daerahnya banyak berbukit, petugas kesulitan dalam menyisir keberadaan anjing liar yang belum tervaksin.

Selain itu Kecamatan Dawan merupakan daerah perbatasan Kabupaten Klungkung-Kabupaten Karangasem. Tingginya migrasi anjing dari kabupaten lain juga diperkirakan menjadi penyebab masih adanya kasus rabies di Klungkung. Awalnya Juanida memprediksi populasi anjing mencapai 14.000 ekor. Tapi setelah dilakukan vaksin ternyata angkanya diatas 14.000. Kondisi itu mengindikasikan adanya peningkatan anjing liar.

“Banyak warga yang mengaku punya anjing, tapi saat mau dipaksin warga tidak mampu menunjukkan anjingnya. Jika kondisi ini (banyak anjing liar) terus terjadi, saya rasa kita akan sulit mewujudkan bebas rabies,” tandas Juanida seraya mengatakan proyeksi anjing liar keberadaannya masih cukup banyak. Ia wanti-wanti mengingatkan warga yang memelihara anjing agar mengikat atau mengkandangkan anjing peliharaannya.

“Sehingga bisa dibedakan mana anjing bertuan dan tidak. Petugas juga tidak sulit melakukan vaksinasi. Saya mengajak warga untuk merubah prilaku dalam memelihara anjing,” tegasnya.

Pejabat asal Dawan ini menambahkan, secara teori ketika suatu daerah 90 persen hewan pembawa rabies (HPR) sudah tervaksin, sudah bisa dikatakan aman.

“ Saya heran, di Klungkung vaksin sudah gencar, toh masih saja setiap bulannya ditemukan kasus gigitan anjing. Itu indikasinya anjing liar masih ada yang belum terdeteksi. Artinya perlu terus dilakukan penyisiran untuk diadakan vaksin,” imbuh Juanida.

Saat ini populasi anjing di Kabupaten Klungkung diprediksi sebanyak 21.288 HPR, angkanya bertambah dibandingkan tahun 2018 yang diprediksi sebanyak 14.000.

Sementara vaksin yang sudah dilakukan tahun ini sebanyak 19.287 ekor terdiri dari, anjing sebanyak 18.546, kucing 711 dan monyet 30. Roni.