Sering Berobat dengan JKN, Keluarga Suartini Merasa Aman dalam Perlindungan Program JKN

- Advertisement -
- Advertisement -

GIANYAR, balipuspanews.com– Menjadi peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) bagi sebuah keluarga besar bukan hanya sebuah kewajiban, tetapi kebutuhan penting untuk memastikan perlindungan kesehatan tanpa beban biaya yang berat.

Di tengah tingginya biaya layanan kesehatan, kepesertaan JKN memberikan ketenangan bagi banyak keluarga di Indonesia. Hal ini juga dirasakan oleh keluarga Desak Nyoman Suartini,49, warga Kabupaten Gianyar, yang telah merasakan langsung manfaat keberadaan Program JKN dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Suartini mengakui bahwa keluarganya cukup sering terbantu oleh JKN, meskipun ia telah menjadi peserta jauh sebelum memanfaatkan layanan kesehatan tersebut.

Ia menilai memiliki JKN merupakan langkah bijak, terutama karena kondisi ekonomi keluarganya tidak selalu stabil serta adanya anggota keluarga lanjut usia yang membutuhkan perawatan rutin.

“Kami sudah berpikir bahwa kesehatan adalah sektor yang bisa membutuhkan biaya besar jika tiba-tiba sakit. Apalagi keluarga kami memang tidak bisa jauh dari rumah sakit. Ibu saya sudah lanjut usia dan anak saya juga cukup sering sakit,” ujarnya saat ditemui di kediamannya, Kamis (4/12/2025).

BACA :  Singaraja Open Taekwondo Championship 2026, TI Buleleng Jaring Bibit Atlet dan Persiapkan Tim Porprov

Ibunya yang telah berusia 80 tahun termasuk kategori rentan dan kerap membutuhkan layanan medis berkala. Melalui JKN, ibunya dapat memperoleh layanan kesehatan yang memadai dan sesuai kebutuhan medis.

Sementara itu, anaknya justru menjadi pengguna paling aktif. Ia sering mengalami gangguan pada perut yang membuatnya bolak-balik ke rumah sakit, bahkan hingga rawat inap. Baru-baru ini, anaknya juga menjalani operasi pengangkatan tumor di bagian dada.

“Dulu anak saya sering sekali keluar masuk rumah sakit karena perutnya sensitif. Salah makan sedikit langsung sakit. Bulan lalu dia harus menjalani operasi pengangkatan tumor. Syukurnya JKN menjadi penyelamat kami dan menanggung seluruh biayanya,” lanjut Suartini.

Melihat berbagai pengobatan yang telah dijalani anggota keluarganya, Suartini beberapa kali mencoba menanyakan estimasi biaya jika tidak ditanggung JKN.

Perhitungan kasarnya membuat ia terkejut karena total biaya yang harus dikeluarkan mencapai ratusan juta rupiah.

Hal tersebut membuatnya semakin bergantung pada Program JKN dan sangat mengutamakan keaktifan kepesertaan keluarganya.

“Kalau tidak ada JKN, mungkin kami harus berutang ke mana-mana. Kami tidak punya pekerjaan tetap. Tapi dengan JKN, semua jadi mungkin. Saya selalu mengecek keaktifan kartu kami dengan berkoordinasi dengan BPJS Kesehatan,” ceritanya.

BACA :  Kapal Virgo Transport 8 Tenggelam, Ketua DPR Ingatkan Prioritas Pencarian dan Penyelamatan Korban

Selain kondisi kesehatan, dinamika jenis kepesertaan anaknya juga sempat menjadi tantangan. Anak Suartini yang beberapa kali berpindah tempat kerja mengalami perubahan segmen kepesertaan, hingga suatu ketika harus dirawat inap dalam kondisi kartu JKN yang nonaktif setelah baru berhenti bekerja.

“Kejadiannya tengah malam. Perutnya tiba-tiba sakit sekali. Sesampainya di IGD, saya tunjukkan kartu JKN, tapi petugas bilang statusnya tidak aktif. Akhirnya kami memutuskan berobat secara umum dan harus membayar sendiri. Itu pengalaman yang berat,” kenangnya.

Bagi Suartini, pengalaman-pengalaman tersebut membuatnya semakin memahami bahwa JKN bukan sekadar kartu untuk berobat, melainkan jaring pengaman yang benar-benar menjaga keluarga di saat paling rentan. Ia mengaku kini lebih disiplin memastikan seluruh data kepesertaan keluarganya benar dan aktif, serta aktif mengajak tetangga untuk tidak menunda mendaftar JKN.

“Saya sering bilang ke tetangga dan keluarga lain, jangan tunggu sakit dulu baru urus JKN. Kalau sudah kejadian seperti anak saya, rasanya betul-betul panik. Lebih baik siap dari awal,” kata Suartini.

BACA :  PUPR Badung Tertibkan Kabel Utilitas di Ruas Simpang Mengwi–Simpang Abiansemal

Kini, Suartini dan keluarganya telah terdaftar sebagai peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) yang didaftarkan oleh Pemerintah Kabupaten Gianyar, dengan hak kelas rawat III. Iuran mereka sepenuhnya ditanggung pemerintah sehingga akses layanan kesehatan menjadi lebih terjamin dan tidak lagi menjadi beban bagi keluarga.

Suartini berharap Program JKN dapat terus dipertahankan dan diperkuat sebagai bentuk perlindungan kesehatan yang merata bagi seluruh masyarakat.

Ia meyakini bahwa keberadaan JKN membawa ketenangan dan harapan baru bagi keluarga yang tidak mampu menanggung biaya pengobatan yang besar.

Penulis: Gde Candra

Editor: Oka Suryawan

Follow Balipuspanews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News
RELATED ARTICLES

ADS

- Advertisment -
- Advertisment -

Most Popular