NEGARA,balipuspanews.com- Ditengah kesibukan mengantisipasi merebaknya wabah penyakit corona dan demam berdarah (DB) penyakit pada hewan ternak juga tidak luput dari perhatian pemerintah daerah.
Senin (16/3) Dinas Pertanian Dan Pangan Pemkab Jembrana bersama dinas Pertanian dan Pangan Provonsi serta peternak babi dan majelis Madya Desa Adat berkumpul untuk mencari solusi mengantisipasi penyakit pada ternak khusunya babi.
Pada rapat di ruang rapat dinas PPPA- PPKB pemkab Jembrana itu Kadis Pertanian dan Pangan Pemkab Jembrana, I Wayan Sutama mengatakan rapat ini dilakukan bertujuan bagaimana di Kabupaten Jembrana agar bebas dari Penyakit African Swine Fever(ASF) atau demam babi karena mempunyai dampak yang cukup luas baik ekonomi dan sosial budaya.
“Untuk itu kita harus kerjasama dalam antisipasi ASF agar tidak menyebar di Jembrana dengan melarang ternak Babi dari luar Jembrana masuk dan jangan mencari ternak babi di luar dari Jembrana”, ujarnya.
Kabid Keswan dan Kesmavet dinas Pertanian dan Pangan Pemkab Jembrana, I Wayan Widarsa menyampaikan penyakit ASF menyerang babi semua usia yang disebabkan oleh Asfivirus dengan angka kesakitan dan kematian 100 persen.
Gejala babi yang tersegang ASF yakni babi tidak mau makan, demam, lesu, lemah dan ada kemerahan di bagian kulitnya dan akan mati dalam waktu 4-5 hari atau juga bisa mati mendadak.
“Penyakit ASF tidak bisa diobati karena penyebanya adalah Virus dan langkah satu satunya adalah melalui pencegahan dengan biosecurity dan vaksinasi. Penyebarannya bisa melelui vektor peternakan seperti nyamuk dan lalat sert bisa melelui alat dan bahan dalam kandang akibat babi sakit, orang tercemar seperti dagang dan saudagar babi keliling”, jelasnya.
Ketua Gabungan Usaha Peternakan Babi Indonesia(GUPBI) Provinsi Bali, I Ketut Ari Suyasa, menyampaikan penyakit babi yang menyebabkan banyak kematian dapat berdampak pada sektor ekonomi, sosial dan budaya.
GUPBI menyarankan untuk bekerja sama dengan para Desa Adat dan menangani kasus kematian babi akibat ASF.
“Kami berharap dengan adanya kerjasama dengan Desa Adat untuk mencegah lalu lintas daging maupun ternak dari wilayah terdampak. Ini dapat dilakukan sebagai satu cara meminimalisir penyebaran virus ASF”, ungkapnya.
Drh. Ni Putu Mahaning dari Dinas Pertanian dan Pangan Provinsi Bali, mengatakan Jembrana sampai saat ini masih minim kasus ASF diman baru 1 ekor dari 49 kasus yang dilaporkan ke Dinas Peternakan Provinsi Bali.
“ASF yang disebabkan virus yg belum ada obatnya dan bagaimana menggali dilapangan agar tidak langsung memvonis bahwa itu ASF. Bagaimana mengawasi agar peredaran babi agar diperketat tidak hanya dari Dinas Peternakan namun harus tetap berkoordinasi ke instansi terkait,” ujarnya.
Peran serta dari desa Adat untuk ikut melakukan pengawasan penyebaran penyakit ASF juga snagat penting.
“Dinas Provinsi sudah membentuk Tim Respon Cepat untuk mencari informasi terkait penyebaran penyakit ASF dan memberikan informasi kepada masyarakat terkait gejala penyakit ASF ini”, ujarnya.
Asisten II Sekda n Jembrana, IGN Sumber Wijaya menyampaikan Pemkab Jembrana sangat serius untuk menangani penyakit ASF agar tidak meluas.
“Pemkab Jembrana akan menfasilitasi anggaran untuk mengantisipasi ASF ini. Yang paling penting bagaimana bisa menyadarkan masyarakat khususnya peternak babi agar disiplin sesuai dengan aturan dalam beternak guna terhindar dari virus ASF,” terangnya. (nm/bpn/tim)



