Sabtu, Juni 22, 2024
BerandaBangliBatur, Jejak Peradaban Dan Keberlangsungan Tradisi

Batur, Jejak Peradaban Dan Keberlangsungan Tradisi

KINTAMANI, balipuspanews.com- Ada kontradiksi mendasar yang tengah dihadapi manusia Bali saat ini. Di tengah kebangkitan Hindu yang dibangga-banggakan, yang ditandai dengan meriahnya ritual dan hiruk pikuk tangkil ke pura, manusia Bali juga beriring ironi yang jauh bertolak belakang.

Demikian dinyatakan antropolog, I Ngurah Suryawan, dalam Diskusi Terbuka “Batur, Air, Tradisi Lampau dan Kini” yang digelar Tim Batur “Kata Penyambung Peradaban” di Pura Ulun Danu Batur, Desa Pakraman Batur, Sabtu (30/3) malam. Menurutnya, kebangkitan agama turut diikuti dengan praktik-praktik dehumanisasi yang bertolak belakang dengan konsep adiluhung yang tersurat dalam ajaran agama.

“Saya tertusuk hingga ke hulu hati ketika melihat kemeriahan ritual dan kesadaran umat tangkil ke pura beriring dengan keberingasan orang Bali, baik menebas saudaranya sendiri maupun terbius narkoba. Bisa jadi, pagi harinya mencakupkan bakti ke pura, namun petang harinya mulai beringas dan selalu awas jika suatu saat diserang musuh,” tuturnya.

Akar permasalahan itu dinilai lantaran amanat yang menjadi inti pelaksanaan ritual dan tradisi itu tak sampai hingga ke akar rumput. Pesan itu mandul, tak mampu mampu menyentuh dan menjadi cermin hingga ke lapisan masyarakat terbawah. Ilmu pengetahuan terkungkung pada labirin lapis atas, yang hanya dapat dijangkau oleh segelintie orang.

“Bali dengan ritual dan tradisinya terpaku pada ortodoksi, sementara ilmu pengetahuan hanya diketahui oleh sebagain orang. Ilmu pengetahuan tidak membumi,” ucapnya dalam diskusi yang berlangsung khusuk di tengah pamedek karya Ngusaba Kadasa 1941 Pura Ulun Danu Batur yang terus berjejal hingga dini hari.

Di sisi lain, akademisi yang telah banyak melahirkan buku kritik kebudayaan itu mengungkapkan, ada sebuah pertentangan yang seakan abadi antara tradisi dan perubahan. Ia menilai, pada dasarnya tradisi adalah ruang untuk berubah ke peradaban yang lebih maju. Hal tersebut dapat dicapai asalkan ia menyisakan ruang untuk perbedaan.

“Tradisi hendaknya menjadi modal sosial untuk perbedaan. Batur memberi cerminan dalam perubahan tradisi itu. Jejaring desa pendukung pura-pura di kawasan Batur adalah modal sosial tiada tanding. Jejaring inilah yang mendukung keberlangsungan tradisi dan ritual. Namun, meski banyak memproyeksikan itu, bisakah Batur dan tradisinya adaktif untuk bergerak maju?” katanya.

Menanggapi hal itu, seorang tokoh Batur, Wayan Absir, yang turut urun rembug menilai jalan keluar mengurai benang kusut itu terletak pada persoalan pemajuan sumber daya manusia (SDM). Ia melirik, dana-dana bantuan sosial yang selama ini mengalir deras sudah saatnya diarahkan pada pada pemajuan SDM, khususnya dalam penguatan ekonomi dan penguatan pemaknaan ritual serta tradisi.

“Sejatinya tradisi adalah pemikiran postmodern, yang perlu kita amati dan timbang dengan bijak. Perlu kejernihan dan usaha bergerak bersama membangun diri. Tradisi hendaknya terhubung pada sektor ekonomi, yang nantinya dapat menopang kehidupan. Sebab, selama ini, tradisi seringkali sekan menjauh dengan ekonomi, yang dinilai memberatkan,” katanya.

Menanggapi Batur di masa kini, akademisi Universitas Udayana, Putu Eka Gunayasa, mengajak peserta yang hadir untuk kembali pada esensi keberadaan Batur yang bukan hanya terbentang secara geografis. Merujuk sejumlah teks dan data prasasti, pemuda asal Selat Tengah, Susut, menyatakan bahwa Batur (dan kawasan Kintamani) mengingatkan kawasan ini sebagi kawasan pariwisata purba yang lekat dengan ilmu pengetahuan.

“Sebagai kawasan yang dikembangkan sebagai objek pariwisata, sudahkah Batur dilembangkan sebagai pariwisata ketenangan, bukan pariwisata kesenangan? Ini mengingat kawasan Batur memang penting di Bali. Bukan hanya sebagai wilayah geografis, tapi juha wilayah pengetahuan,” ucapnya. (bud/bpn/tim).

RELATED ARTICLES

ADS

- Advertisment -

Most Popular