IA. Ketut Candrawati, S.Sos : Hargai Alam Sebagai Ibu Kehidupan

- Advertisement -
- Advertisement -

TABANAN, balipuspanews.com – Hujan deras di Tabanan beberapa hari lalu meninggalkan sebuah renungan. Terutama terhadap adanya beberapa titik banjir. Bahkan hingga terputusnya jalan Banjar Anyar (belakang Terminal Kediri – Desa Sanggulan).

Kondisi tersebut terjadi tentu bukan karena faktor alam semata. Mulai surutnya semangat masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan juga sangat berpengaruh. Hal tersebut diungkapkan Ketua Fraksi Nasdem sekaligus juga anggota Komisi IV DPRD Tabanan Ida Ayu Ketut Candrawati, S.Sos.

Dihubungi via telepon seluler pribadinya, Rabu (14/10), Srikandi Partai Nasdem dari Desa Tua Kecamatan Marga Tabanan ini menyebutkan mulai surutnya masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan ini telah terjadi sejak beberapa tahun terakhir. Salah satu indikasinya adalah kendornya semangat gotong royong dalam menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.

“Kondisi ini terjadi terutama diwilayah-wilayah perkotaan,” ungkapnya.

Candrawati menjelaskan, salah satu indikator kendornya semangat gotong royong masyarakat dewasa ini terlihat dari jarangnya terlihat rutinitas warga banjar atau suatu komplek perumahan kerja bhakti sebagai upaya untuk melestarikan lingkungan. Misalnya dengan rutinitas sebulan sekali membersihkan got disuatu wilayah banjar ataupun komplek perumahan.

BACA :  Purbaya Dicopot dari Menteri Keuangan, Digantikan Suahasil Nazara

Malah lanjut Ketua Garda Malahayati Provinsi Bali ini, dibeberapa tempat ia melihat kondisi sebaliknya. Yakni got atau telabah justru berfungsi sebagai tempat pembuangan sampah.

Candrawati mengatakan, sehingga secara logika sangat mudah terjawab, banyaknya muncul titik-titik banjir di Tabanan salah satunya disebabkan karena tidak lancarnya arus air pada saluran yang semestinya. Sehingga saat musim hujan, arus air tersumbat dan menyebabkan terjadinya banjir.

Terkait dengan hal tersebut Candrawati mengajak seluruh masyarakat untuk memposisikan alam sebagai ibu kehidupan. Yakni menghormati, memuliakan bahkan jika memungkinkan dengan cara disakralkan.

“Alam disakralkan sebagai ibu kehidupan ya dengan menjaga dan merawatnya. Salah satunya bergotong royong dengan rutinitas membersihkan saluran air,” ujarnya.

Ditambahkannya, menjaga kelestarian lingkungan yang salah satunya dengan rutinitas gotong royong membersihkan got atau telabah dilingkungan banjar ataupun komplek perumahan tidak saja akan mengurangi bahaya terjadinya banjir juga akan meminimalisir kemungkinan terjangkitnya suatu penyakit. Misalnya demam berdarah.

“Ketika masyarakat menghormati alam sebagai ibu kehidupan, maka alam tentu akan mengasihi anak-anaknya (manusia). Artinya, alam akan benar-benar memberikan kesejahteraan bagi umatNya ketika umat manusia juga memberlakukan alam dengan mulia,” tutupnya.

BACA :  Polsek Blahbatuh Ungkap Curanmor di Gianyar, Satu Terduga Pelaku dan Tiga Motor Diamankan

Penulis : Ngurah Arthadana

Editor : Oka Suryawan

Follow Balipuspanews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News
RELATED ARTICLES

ADS

- Advertisment -
- Advertisment -

Most Popular