Rabu, Oktober 21, 2020
Beranda News IA. Ketut Candrawati, S.Sos : Hargai Alam Sebagai Ibu Kehidupan

IA. Ketut Candrawati, S.Sos : Hargai Alam Sebagai Ibu Kehidupan

TABANAN, balipuspanews.com – Hujan deras di Tabanan beberapa hari lalu meninggalkan sebuah renungan. Terutama terhadap adanya beberapa titik banjir. Bahkan hingga terputusnya jalan Banjar Anyar (belakang Terminal Kediri – Desa Sanggulan).

Kondisi tersebut terjadi tentu bukan karena faktor alam semata. Mulai surutnya semangat masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan juga sangat berpengaruh. Hal tersebut diungkapkan Ketua Fraksi Nasdem sekaligus juga anggota Komisi IV DPRD Tabanan Ida Ayu Ketut Candrawati, S.Sos.

Dihubungi via telepon seluler pribadinya, Rabu (14/10), Srikandi Partai Nasdem dari Desa Tua Kecamatan Marga Tabanan ini menyebutkan mulai surutnya masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan ini telah terjadi sejak beberapa tahun terakhir. Salah satu indikasinya adalah kendornya semangat gotong royong dalam menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.

“Kondisi ini terjadi terutama diwilayah-wilayah perkotaan,” ungkapnya.

Candrawati menjelaskan, salah satu indikator kendornya semangat gotong royong masyarakat dewasa ini terlihat dari jarangnya terlihat rutinitas warga banjar atau suatu komplek perumahan kerja bhakti sebagai upaya untuk melestarikan lingkungan. Misalnya dengan rutinitas sebulan sekali membersihkan got disuatu wilayah banjar ataupun komplek perumahan.

Malah lanjut Ketua Garda Malahayati Provinsi Bali ini, dibeberapa tempat ia melihat kondisi sebaliknya. Yakni got atau telabah justru berfungsi sebagai tempat pembuangan sampah.

Candrawati mengatakan, sehingga secara logika sangat mudah terjawab, banyaknya muncul titik-titik banjir di Tabanan salah satunya disebabkan karena tidak lancarnya arus air pada saluran yang semestinya. Sehingga saat musim hujan, arus air tersumbat dan menyebabkan terjadinya banjir.

Terkait dengan hal tersebut Candrawati mengajak seluruh masyarakat untuk memposisikan alam sebagai ibu kehidupan. Yakni menghormati, memuliakan bahkan jika memungkinkan dengan cara disakralkan.

“Alam disakralkan sebagai ibu kehidupan ya dengan menjaga dan merawatnya. Salah satunya bergotong royong dengan rutinitas membersihkan saluran air,” ujarnya.

Ditambahkannya, menjaga kelestarian lingkungan yang salah satunya dengan rutinitas gotong royong membersihkan got atau telabah dilingkungan banjar ataupun komplek perumahan tidak saja akan mengurangi bahaya terjadinya banjir juga akan meminimalisir kemungkinan terjangkitnya suatu penyakit. Misalnya demam berdarah.

“Ketika masyarakat menghormati alam sebagai ibu kehidupan, maka alam tentu akan mengasihi anak-anaknya (manusia). Artinya, alam akan benar-benar memberikan kesejahteraan bagi umatNya ketika umat manusia juga memberlakukan alam dengan mulia,” tutupnya.

Penulis : Ngurah Arthadana

Editor : Oka Suryawan

- Advertisement -

Kakek Gantung Diri di Gubuk Ditemukan Oleh Cucunya

ABIANSEMAL, balipuspanews.com -Seorang cucu, Putu Darmiati, 23, tidak menyangka menemukan kakeknya, Ketut Sumerta, 65, tewas gantung diri di gubuk sawah di Pondok Subak Munduk...

Kasus Dugaan Pemerkosaan Pelajar, Diduga Terjadi di Lima Tempat Berbeda Oleh 10 Pelaku

BULELENG, balipuspanews.com - Penyelidikan terhadap kasus dugaan pemerkosaan terhadap anak dibawah umur terus berlanjut. Kasus yang korbannya dibawah umur ini dari hasil penyelidikan sementara...
Member of