Selasa, Juli 28, 2026
spot_img

Inovasi Kemasan Ramah Lingkungan Dorong Strategi Zero Waste Pertanian Jeruk Kintamani Bangli

- Advertisement -
- Advertisement -

DENPASAR, balipuspanews.com – Komoditas jeruk dari kawasan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, kerap menghadapi tantangan efisiensi pascapanen dan limbah yang terbuang sia-sia. Menjawab tantangan tersebut, tim akademisi merancang pendekatan sistematis melalui penerapan konsep zero waste berbasis inovasi kemasan ramah lingkungan (eco-friendly).

Langkah strategis ini ditujukan untuk meminimalkan potensi limbah hasil pertanian jeruk sekaligus meningkatkan nilai ekonomi produk lokal agar mampu bersaing lebih luas di pasar modern.

Ketua Tim Pengabdi yang juga akademisi Fakultas Pertanian, Sains, dan Teknologi Universitas Warmadewa, Ir. I Wayan Sudiarta, MP, menjelaskan bahwa pengelolaan rantai pasok pertanian jeruk memerlukan terobosan yang tidak hanya mengedepankan aspek penjualan, tetapi juga keberlanjutan lingkungan.

“Pengolahan hasil pertanian jeruk sejatinya bisa dimaksimalkan hingga tuntas tanpa menyisakan limbah yang merusak lingkungan. Lewat pendekatan zero waste dan penggunaan inovasi kemasan eco-friendly, kita ingin mengoptimalkan nilai tambah jeruk Bangli dari hulu ke hilir,” ujar Wayan Sudiarta saat dikonfirmasi, Sabtu (25/7/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan di sela-sela kegiatan pelatihan dan pendampingan dalam rangkaian program Pemberdayaan Berbasis Wilayah (PBW) yang berlangsung di Kintamani, Bangli.

BACA :  Ground Breaking JLS dan Shortcut Berawa–Umalas–Kedampang–Teuku Umar Barat Dimulai, Proyek Rp2,9 Triliun Atasi Kemacetan Badung

Melalui kegiatan PBW ini, tim akademisi Universitas Warmadewa memberikan edukasi serta pendampingan langsung kepada kelompok mitra, yakni Kelompok Wanita Tani (KWT) Mekar Sari, Desa Pengejaran, Kintamani, Bangli.

Pelatihan difokuskan pada pemanfaatan jeruk kelas dua (second grade) atau bagian buah yang tidak lolos sortir untuk diolah menjadi produk turunan bernilai jual, sehingga seluruh hasil panen dapat terserap secara optimal.

Selain pemanfaatan produk turunan, tim pengabdi juga memperkenalkan penggunaan kemasan ramah lingkungan berbasis bahan hayati (biodegradable) kepada para anggota KWT Mekar Sari. Penggunaan material ini dirancang untuk menggantikan plastik sekali pakai sekaligus menjaga mutu dan kesegaran buah selama proses distribusi.

Wayan Sudiarta menambahkan, efisiensi distribusi tersebut sangat penting agar kerusakan fisik buah saat pengiriman dapat diminimalkan. Pada akhirnya, langkah ini diharapkan dapat menekan volume sampah organik di tingkat pengecer.

Integrasi antara pemanfaatan limbah dan penggunaan kemasan bernilai ekologis ini diharapkan menjadi rujukan model pertanian berkelanjutan di kawasan Bangli.

Melalui kolaborasi erat antara akademisi dan KWT Mekar Sari, Desa Pengejaran, program PBW ini menargetkan terciptanya ekosistem pertanian jeruk Kintamani yang berdaya saing tinggi, efisien, serta berwawasan lingkungan secara jangka panjang.

BACA :  Hari Mangrove Sedunia, Pemkot Pekuat Komitmen Jaga Pelestarian Lingkungan

Penulis : Kadek Adnyana
Editor : Oka Suryawan

Follow Balipuspanews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News
RELATED ARTICLES

ADS

- Advertisment -
- Advertisment -

Most Popular