Sabtu, Mei 23, 2026

Kasus DBD di Gianyar Capai 260 Hingga April 2026, Sukawati Jadi Wilayah Tertinggi

- Advertisement -
- Advertisement -

GIANYAR, balipuspanews.com – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Gianyar masih menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Berdasarkan rekapitulasi Dinas Kesehatan Kabupaten Gianyar, jumlah kasus DBD yang tercatat sepanjang Januari hingga April 2026 mencapai 260 kasus dan tersebar di seluruh wilayah kabupaten.

Meski demikian, hingga periode tersebut tidak ditemukan kasus kematian akibat penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti tersebut.

Data menunjukkan tren peningkatan kasus dari bulan ke bulan. Pada Januari tercatat 49 kasus, kemudian meningkat menjadi 55 kasus pada Februari. Memasuki Maret, jumlah kasus kembali bertambah menjadi 72 kasus dan mencapai 84 kasus pada April 2026. Sementara itu, hingga pertengahan Mei 2026 tercatat tambahan 23 kasus DBD.

Wilayah kerja Puskesmas Sukawati I menjadi penyumbang kasus tertinggi selama empat bulan pertama tahun ini dengan total 62 kasus. Desa Kemenuh menjadi wilayah dengan kasus terbanyak yakni 22 kasus, disusul Desa Sukawati sebanyak 15 kasus.

Selain itu, wilayah kerja Puskesmas Ubud I mencatat total 44 kasus. Kelurahan Ubud menjadi daerah dengan jumlah kasus tertinggi sebanyak 13 kasus, sedangkan Desa Petulu mencatat 12 kasus.

BACA :  Bio Fighter Jadi Andalan, su-re.co Perluas Kerja Sama Pengelolaan Sampah di Badung

Sementara itu, wilayah kerja Puskesmas Blahbatuh I mencatat total 25 kasus. Desa Keramas menjadi penyumbang terbanyak dengan tujuh kasus, diikuti Desa Bona sebanyak enam kasus. Adapun Puskesmas Gianyar I melaporkan 19 kasus dengan Kelurahan Gianyar sebagai wilayah tertinggi sebanyak tujuh kasus.

Di wilayah kerja Puskesmas Ubud II tercatat 18 kasus, dengan Desa Singakerta menyumbang sembilan kasus dan Desa Kedewatan delapan kasus. Sebaliknya, Puskesmas Payangan menjadi wilayah dengan angka kasus paling rendah, yakni hanya satu kasus yang ditemukan di Desa Buahan Kaja.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gianyar, Ni Nyoman Ariyuni, mengingatkan masyarakat untuk tidak mengabaikan fase kritis DBD. Menurutnya, banyak pasien menganggap kondisi telah membaik ketika demam mulai menurun, padahal fase tersebut justru menjadi periode paling berisiko.

“Pada fase kritis, risiko kebocoran plasma, penurunan trombosit, hingga perdarahan dapat meningkat drastis. Masyarakat harus segera datang ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala DBD,” ujar Ariyuni, Kamis (21/5/2026).

Ia menjelaskan sejumlah gejala yang perlu diwaspadai antara lain demam tinggi mendadak, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, nyeri di belakang mata, mual, muntah, muncul bintik merah pada kulit, hingga nyeri perut hebat dan muntah terus-menerus.

BACA :  Barang Bukti Dari 71 Perkara Berstatus Inkracht Dimusnahkan Kejari Buleleng

Untuk menekan penyebaran kasus, Pemerintah Kabupaten Gianyar terus menggencarkan Gerakan Pencegahan Antisipasi Lonjakan DBD melalui program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus. Seluruh perbekel dan lurah diminta aktif mengajak masyarakat melakukan pengurasan tempat penampungan air, menutup rapat wadah penampung air, mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk, serta melakukan pemeriksaan jentik secara berkala.

Selain mengintensifkan gerakan PSN, Dinas Kesehatan Kabupaten Gianyar juga melaksanakan berbagai upaya pengendalian lainnya seperti penyelidikan epidemiologi, fogging fokus di wilayah terdampak, pengadaan larvasida, promosi kesehatan, serta penguatan edukasi pencegahan DBD kepada masyarakat.

Pemerintah Kabupaten Gianyar berharap kolaborasi antara tenaga kesehatan, pemerintah desa, dan masyarakat dapat menekan angka kasus DBD hingga akhir tahun 2026 sekaligus mencegah terjadinya lonjakan kasus pada musim penghujan mendatang.

Penulis : Ketut Catur
Editor : Oka Suryawan

Follow Balipuspanews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News
RELATED ARTICLES

ADS

- Advertisment -
- Advertisment -

Most Popular