GIANYAR, balipuspanews.com – Hari Raya Tumpek Wariga menjadi momentum penting bagi umat Hindu di Bali untuk memperkuat hubungan harmonis antara manusia dan alam semesta. Lebih dari sekadar tradisi keagamaan, Tumpek Wariga mengandung makna mendalam tentang penghormatan terhadap tumbuh-tumbuhan sebagai sumber kehidupan sekaligus wujud bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Gianyar, Ni Wayan Wintari, menjelaskan bahwa Tumpek Wariga diperingati setiap Saniscara Kliwon Wuku Wariga, atau setiap 210 hari sekali dalam kalender Bali, tepatnya 25 hari sebelum Hari Raya Galungan.
“Tumpek Wariga adalah hari suci umat Hindu di Bali yang diperingati setiap Saniscara Kliwon Wuku Wariga, datang setiap 210 hari atau 25 hari sebelum Hari Raya Galungan,” ujar Ni Wayan Wintari, Jumat (22/5/2026).
Menurutnya, Tumpek Wariga memiliki beberapa sebutan lain, seperti Tumpek Uduh, Tumpek Bubuh, Tumpek Pengatag, dan Tumpek Pengarah. Pada hari suci tersebut, umat Hindu melaksanakan persembahyangan dan menghaturkan sesajen kepada manifestasi Tuhan sebagai penguasa tumbuh-tumbuhan melalui media pepohonan dan tanaman.
Ni Wayan Wintari menjelaskan, dalam lontar Sundarigama, manifestasi Tuhan yang menguasai tumbuh-tumbuhan dikenal sebagai Sang Hyang Sangkara. Dalam konsep Pengider Dewata Nawa Sanga, Sang Hyang Sangkara menempati arah barat laut dan dilambangkan dengan warna hijau yang mencerminkan kesuburan serta kelestarian alam.
“Makna pelaksanaan Tumpek Wariga adalah memohon keselamatan bagi tanaman agar tumbuh subur, berbunga, berbuah, dan memberikan manfaat sebagai sumber kehidupan,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia mengutip ajaran Bhagavad Gita III.14 yang menyatakan bahwa seluruh makhluk hidup bergantung pada makanan, makanan berasal dari tumbuh-tumbuhan, tumbuh-tumbuhan tumbuh karena hujan, dan hujan tercipta melalui yadnya. Ajaran tersebut menegaskan adanya keterkaitan erat antara manusia, alam, dan Tuhan yang harus dijaga secara seimbang.
“Melalui yadnya yang tulus dan dilandasi dharma, manusia menjaga keseimbangan alam. Apa yang kita lakukan kepada alam sesungguhnya akan kembali kepada kehidupan kita sendiri,” katanya.
Selain mengandung nilai spiritual, Tumpek Wariga juga menjadi pengingat akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Dalam ajaran Atharvaveda, tumbuh-tumbuhan disebut memiliki sifat-sifat para dewa dan berperan sebagai penyelamat kehidupan umat manusia. Oleh sebab itu, menjaga dan merawat tanaman merupakan bagian dari penghormatan terhadap ciptaan Tuhan.
Ni Wayan Wintari mengajak masyarakat untuk memaknai Tumpek Wariga tidak hanya sebagai perayaan seremonial, tetapi juga sebagai gerakan nyata dalam menjaga lingkungan melalui kegiatan menanam pohon, merawat tanaman, serta melestarikan alam demi keberlangsungan kehidupan generasi mendatang.
“Ketika kita menjaga alam, sesungguhnya alam pun akan menjaga kita. Tumpek Wariga hendaknya menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa,” pungkasnya.
Melalui peringatan Tumpek Wariga, umat Hindu diharapkan semakin memahami pentingnya menjaga keseimbangan antara kehidupan spiritual dan pelestarian lingkungan. Nilai-nilai yang terkandung dalam hari suci ini menjadi refleksi bahwa alam bukan hanya sumber kehidupan, tetapi juga warisan yang wajib dijaga bersama demi kesejahteraan seluruh makhluk hidup.
Penulis : Ketut Catur
Editor. : Oka Suryawan



