Maestro Tari Bali I Made Djimat Raih Parama Satya Budaya di Usia 84 Tahun

- Advertisement -
- Advertisement -

GIANYAR, balipuspanews.com – Dedikasi panjang dalam menjaga dan melestarikan seni budaya Bali mengantarkan maestro tari I Made Djimat meraih penghargaan tertinggi bidang kebudayaan di Kabupaten Gianyar, Parama Satya Budaya.

Penghargaan tersebut diberikan saat usianya menginjak 84 tahun, menjadi simbol penghormatan atas kontribusinya yang tak ternilai bagi dunia seni tradisional Bali.

Penghargaan ini disampaikan oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Gianyar bersama Majelis Kebudayaan Bali Wilayah Gianyar, yang membawa mandat langsung dari Bupati Gianyar, Made Agus Mahayastra.

Penyerahan informasi tersebut dilakukan saat kunjungan ke kediaman I Made Djimat di Banjar Pekandelan, Desa Batuan, Sukawati, Rabu (1/4/2026).

Adapun penyerahan resmi penghargaan dijadwalkan berlangsung pada puncak perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Gianyar pertengahan April mendatang.
Dalam suasana hangat pertemuan tersebut, I Made Djimat tampak sumringah.

Senyum dan tawa menghiasi wajahnya, mencerminkan rasa syukur atas penghargaan yang diterima setelah puluhan tahun mengabdikan diri pada seni tari Bali.

Budayawan Anak Agung Gede Rai yang turut hadir dalam kesempatan itu menegaskan pentingnya menjaga akar budaya di tengah arus modernisasi. Ia menilai perhatian pemerintah terhadap seniman merupakan langkah strategis dalam mempertahankan identitas budaya Bali di kancah global.

BACA :  Bupati Sanjaya Buka Pangkung Karung Kite Festival III, Tabanan Didorong Jadi Pusat Berkumpulnya Berbagai Komunitas

Nama I Made Djimat sendiri telah lama dikenal sebagai sosok yang membawa seni tari Bali ke panggung internasional sejak usia muda. Ia dikenal sebagai maestro Tari Jauk dan Topeng Tua, dua genre tari klasik Bali yang sarat nilai filosofis. Hingga usia lanjut, ia masih aktif tampil, termasuk dalam panggung maestro di Jakarta pada Oktober 2025.

Tidak hanya sebagai penari, I Made Djimat juga berperan sebagai pembina berbagai kelompok seni. Sentuhan dan bimbingannya telah melahirkan banyak prestasi, termasuk kemenangan dalam ajang Pesta Kesenian Bali serta berbagai lomba seni lainnya.

Kepala Dinas Kebudayaan Gianyar, I Wayan Adi Perbawa, menjelaskan bahwa penghargaan Parama Satya Budaya diberikan melalui proses seleksi yang ketat. Tim pakar budaya melakukan kajian mendalam selama empat bulan sebelum akhirnya menetapkan satu nama penerima.

“Penghargaan ini merupakan yang tertinggi di bidang kebudayaan dan melalui mekanisme yang dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

Menariknya, penghargaan Parama Satya Budaya sempat vakum selama hampir 18 tahun sebelum kembali dianugerahkan tahun ini. Hal tersebut semakin menegaskan nilai prestisius penghargaan yang diterima I Made Djimat.

BACA :  Mengakar Budaya, Menjangkau Dunia: Cara SMAN 1 Sukasada Buka Pintu Beasiswa hingga ke China

Sebagai bentuk penghormatan lanjutan, Pemerintah Kabupaten Gianyar juga tengah mengkaji wacana pengabadian nama tokoh budaya sebagai nama jalan di sejumlah titik di wilayah tersebut.

Penghargaan Parama Satya Budaya akan diberikan dalam bentuk piagam, pin emas, serta uang pembinaan berkisar antara Rp75 juta hingga Rp100 juta.

Selain itu, dukungan juga akan diberikan untuk pengembangan sanggar seni yang telah dirintis I Made Djimat sejak tahun 1971.

Pengakuan ini tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi bagi sang maestro, tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya menjaga warisan budaya sebagai identitas bangsa di tengah perubahan zaman.

Penulis : Ketut Catur
Editor : Oka Suryawan 

Follow Balipuspanews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News
RELATED ARTICLES

ADS

- Advertisment -
- Advertisment -

Most Popular