BULELENG, balipuspanews.com – Minimnya tempat untuk melindungi agar telur-telur penyu liar bisa menetaskan dengan aman tanpa terganggu manusia. Membuat pihak Kelompok Masyarakat Pengawas (POKMAWAS) Penimbangan Lestari yang terletak di Desa Baktiseraga, Kecamatan/Kabupaten Buleleng sampai pernah menolak kiriman ribuan telur dari Provinsi.
Hal itu diungkapkan langsung Jro Gede Wiadnyana salah satu penggagas Pokmawas Penimbangan Lestari, Minggu (15/8/2021) pagi.
Jro Wiadnyana menyampaikan dari awal tahun 2021 hingga pertengahan Agustus sekitar 3.561 telur penyu telah diselamatkan serta dibawa dari beberapa wilayah pesisir seperti seputar Pantai Penimbangan, Kalianget, Banyuasri, Uma anyar, dan Desa Banjar dan baru menetas sekitar 1.500 telur.
Bahkan pada hari sebelumnya yakni Sabtu (14/8/2021) pihaknya telah melepaskan 1.500 tukik untuk menjaga agar ekosistem atau habitat penyu semakin terjaga. Kini masih ada sekitar 1.200 lebih tukik yang masih dirawat sebelum nantinya dilepas liarkan ke laut.
“Jadi untuk menjaga keseimbangan alam dan biota laut, kebetulan juga sudah banyak juga yang menetas jadi kita lepaskan ke habitatnya sekitar 1.500 ekor pada Sabtu kemarin dan sisanya masih ada dipenangkaran,” jelasnya.
Disinggung soal tempat untuk menetaskan telur-telur tersebut, diakui Wiadnyana kadang seperti sebelumnya karena terkendala tempat dirinya memilih untuk menolak kiriman 3 ribuan telur yang dikirim dari provinsi untuk ditetaskan pada tempat penangkaran tersebut.
Tak hanya itu, cakupan wilayah pesisir Buleleng yang panjang serta keaktifan komunitas untuk merawat hingga telur-telur menetas dan siap dilepas liarkan tak khayal membuat tempat mengalami oveload dengan banyaknya jumlah telur yang diterima dibandingkan kapasitas tempat yang ada di lokasi.
Ditambah pada bulan Juni-Juli merupakan puncaknya para penyu untuk bertelur sehingga saat ini diakui masih ada sisa 13 sarang yang belum menetas dari 39 sarang.
“Kadang-kadang kita sudah overload disini untuk kapasitas tempat penetasan. Bahkan kemarin kita mau dikasi telur sekitar 3 ribu dari Provinsi lalu kita bilang sudah overload karena benar-benar tempatnya sudah tidak ada,” imbuhnya.
Disisi lain, Perbekel Desa Baktiserage, Gusti Putu Armada mengatakan selama ini pihaknya selalu mensupport apa yang dilakukan dari Pokmaswas di Pantai Penimbangan setiap tahunnya. Apalagi dengan keberadaan satu destinasi wisata tersebut yang dimana setiap harinya ramai kunjungan akan tetapi penyu-penyu tetap datang untuk bertelur disana.
“Komunitasnya kuat, kami di desa juga selalu support dan berinteraksi para pihak baik Pemkab, Pemprov, maupun Pusat sekalipun,” sebutnya.
Dirinya pun tidak memungkiri jika dengan luasnya dan panjangnya wilayah pesisir pantai di Kabupaten Buleleng, dirinya berharap apa yang dilakukan dipenimbangan bisa diikuti dititik-titik lainnya agar masalah keterbatasan tempat bisa terpecahkan dengan baik.
Apalagi melihat beberapa waktu sebelumnya sempat sampai menolak lemparan telur-telur dari tempat lain. Tentu itu membuat hal ini tidak bisa diinisiasi hanya oleh desanya saja, akan tetapi perlu juga pihak yang terkait untuk bisa membangun titik baru sebagai tempat penetasan di Bali Utara.
“Ini luar biasa sebetulnya tentu tidak bisa lagi inisiasinya dari desa dan tentu harus dari yang lebih tinggi lagi mau dimana lagi titiknya karena sepanjang Bali Utara ini dimanapun titiknya kalau kita mau membangun pasti bisa,” tutupnya.
Penulis : Nyoman Darma
Editor : Oka Suryawan



