Sabtu, Agustus 22, 2026

OKK PWI Bali 2026, Widminarko Tekankan Independensi dan Pentingnya Memahami Fakta

- Advertisement -
- Advertisement -

DENPASAR, balipuspanews.com – Tokoh pers senior Widminarko mengingatkan calon wartawan untuk menjadikan niat, semangat, dan independensi sebagai bekal utama dalam menjalankan profesi jurnalistik. Pesan tersebut disampaikan saat memberikan pembekalan dalam Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) PWI Bali 2026 di Gedung PWI Bali, Kamis (20/8/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Widminarko menyampaikan materi Sejarah, Fungsi Pers sebagai Pilar Demokrasi, dan Sejarah PWI. Berbekal pengalaman 56 tahun di dunia pers, ia membagikan berbagai pembelajaran sejak pertama kali menjadi wartawan pada 1965 hingga pensiun pada 2021.

Widminarko mengaku ketika pertama kali melamar menjadi wartawan di Suara Indonesia, dirinya belum memiliki pengetahuan jurnalistik. Ia hanya berbekal niat dan semangat untuk menekuni profesi tersebut.

“Kalau mau jadi wartawan bekal utama adalah niat dan semangat,” ujar Widminarko.

Ia kemudian mengisahkan kondisi pers di Bali pada masa tersebut. Media massa masih memiliki afiliasi dengan kekuatan politik. Suara Indonesia, yang saat itu telah terbit sejak 1948, kemudian berafiliasi dengan Partai Nasional Indonesia (PNI) dan berganti nama menjadi Suluh Indonesia Edisi Bali.

BACA :  Seniman Cilik Adu Kreativitas di Lomba Gong Kebyar Anak-anak

Dalam perjalanan kariernya, Widminarko sempat menjalankan tiga peran sekaligus, yakni sebagai wartawan, pegawai penerangan Provinsi Bali, dan politisi.

Namun, pengalaman tersebut justru membuatnya merasakan tekanan dalam menjalankan tugas jurnalistik.
Salah satunya ketika ia mendapat teguran setelah memberitakan iring-iringan Golkar. Pengalaman tersebut kemudian mendorongnya memilih jalan sebagai wartawan yang independen dan tidak terlibat dalam politik praktis.

“Karena merasa tertekan dan bertentangan dengan batin, saya bertekad ingin menjadi wartawan yang independen, tidak aktif sebagai politik praktis,” katanya.

Menurut Widminarko, independensi menjadi prinsip penting karena wartawan bekerja berdasarkan fakta, sedangkan politik praktis berkaitan dengan kepentingan kelompok tertentu. Karena itu, keterlibatan wartawan dalam politik praktis dapat menimbulkan pertentangan dengan tugas jurnalistik.

Meski demikian, ia menegaskan wartawan tidak harus antipolitik. Wartawan tetap perlu mengikuti berbagai dinamika politik dan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan, selama tidak menjadi bagian dari politik praktis.

“Wartawan harus aktif di kegiatan kemasyarakatan nonpolitik. Aktivitas organisasi sangat menunjang aktivitas wartawan karena bisa menjadi sumber berita,” jelasnya.

BACA :  Eazy Passport Cara Imigrasi Singaraja Layani 104 Calon Jemaah Haji Buleleng dan Jembrana

Wartawan Perlu Memahami Bisnis Media

Selain independensi, Widminarko mengingatkan calon wartawan agar tidak hanya memahami aspek jurnalistik, tetapi juga mengetahui seluk-beluk bisnis media. Menurutnya, idealisme pers perlu berjalan beriringan dengan pemahaman terhadap pemasaran dan iklan.

“Wartawan itu harus mengetahui seluk beluk bisnis dan iklan. Dan sebaliknya seorang marketing juga harus bisa menulis karya jurnalistik,” tegasnya.

Ia menilai sinergi antara wartawan dan bagian bisnis penting agar media dapat terus bertahan tanpa kehilangan idealisme jurnalistik. Pemahaman bisnis juga diperlukan agar wartawan memahami bagaimana sebuah media dapat berkembang secara berkelanjutan.

Wartawan Harus Berangkat dari Fakta

Dalam kesempatan tersebut, Widminarko juga mengingatkan calon wartawan mengenai dasar utama jurnalistik, yakni fakta. Menurutnya, karya jurnalistik tidak boleh dibangun berdasarkan imajinasi, melainkan harus bersumber dari fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.

Ia membagi fakta menjadi tiga jenis, yakni fakta primer yang diperoleh langsung melalui pancaindra, fakta sekunder yang merupakan fakta di balik fakta primer, serta fakta tersier berupa fakta masa lalu yang kembali diangkat dengan momentum yang tepat.

BACA :  Pemkot Denpasar Raih Dua Penghargaan Bidang Hukum Tahun 2026

Untuk memperkuat wawasan, ia berpesan agar calon wartawan membiasakan diri membaca, mendengar, menonton, dan mencatat. Kebiasaan tersebut penting untuk mempertajam kepekaan jurnalistik sekaligus memperluas pengetahuan.

PWI dan Sejarah Pers Bali

Selain berbagi pengalaman jurnalistik, Widminarko turut menjelaskan perjalanan PWI. Ia menyebut PWI sebagai salah satu organisasi pers tertua di Indonesia yang lahir pada 1946.

Kongres PWI pertama di Bali berlangsung pada 1957, ketika organisasi PWI Bali masih berstatus cabang persiapan di bawah PWI Jember. PWI Cabang Bali kemudian didirikan secara resmi pada 1966.

Perkembangan organisasi terus berlangsung hingga berbagai kegiatan pers di Bali, termasuk peringatan Hari Pers Nasional, berkembang semakin meriah.
Bagi Widminarko, pemahaman terhadap sejarah pers menjadi bagian penting bagi wartawan generasi sekarang agar tidak kehilangan jati diri di tengah perubahan zaman.

“Seiring waktu pers berubah. Tapi satu hal yang tidak boleh hilang yaitu memahami sejarah pers Indonesia agar jurnalis masa kini tidak kehilangan jati diri,” pungkasnya.

Penulis: Kadek Adnyana
Editor: Oka Suryawan 

Follow Balipuspanews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News
RELATED ARTICLES

ADS

- Advertisment -
- Advertisment -

Most Popular