Tampak depan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Buleleng
Tampak depan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Buleleng

BULELENG, balipuspanews.com – Dampak covid 19 begitu terasa bahkan pada operasional Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Buleleng.

Pihaknya menyinggung terkait Biaya operasional yang dikeluarkan pihak rumah sakit mengalami peningkatan guna memenuhi protokol kesehatan sesuai dengan standar penanganan Covid-19.

Akan tetapi hal ini tak sejalan dengan pendapatan rumah sakit yang justru mengalami penurunan.

Direktur RSUD Buleleng dr Made Wiartana saat melakukan rapat dengar pendapat bersama Komisi IV DPRD Buleleng, menyampaikan bahwa terkait penurunan pendapatan rumah sakit disebabkan adanya kebijakan rujukan online dari BPJS yang mengharuskan masyarakat berobat sesuai dengan tingkatan kegawatdaruratan penyakit.

Untuk penyakit ringan dapat dirujuk ke rumah sakit tipe C dahulu. Sedangkan RSUD Buleleng sendiri merupakan rumah sakit tipe B.

Lanjut Wiartana menambahkan bahwa adanya penurunan pasien rawat jalan sebesar 40 persen sedangkan penurunan pasien rawat inap sebesar 12,5 persen.

Sehingga penurunan jumlah pasien maka RSUD Buleleng mengalami penurunan pendapatan sebesar Rp 2,5 miliar dari pendapatan sebelumnya Rp 9,8 miliar pada bulan Mei menjadi Rp 7,3 miliar pada bulan Juni.

“Artinya ada penurunan hampir Rp 2,5 miliar,” sambungnya Minggu (6/7/2020)

Sementara itu, tambah wiartana segala biaya operasional untuk belanja kebutuhan RSUD Buleleng meningkat. Akan tetapi tidak menyebutkan secara pasti berapa nominal peningkatan biaya operasional yang telah dikeluarkan rumah sakit selama pandemi ini

“Biaya operasional meningkat untuk belanja keperluan APD kepada semua tenaga medis. Mereka yang bertugas harus menggunakan APD sesuai standar penanganan Covid-19. Semua perlengkapan APD yang diperlukan saat bertugas menjadi tanggung jawab kami,” ujarnya

Disisi lain, Ketua Komisi IV DPRD Buleleng, Luh Hesti Ranitasari, menyatakan sekaligus membenarkan adanya penurunan pendapatan RSUD Buleleng.

Bahkan pihaknya tak menampik bahwa pandemi Covid-19 menjadi penyebab turunnya pendapatan RSUD. Sehingga masyarakat memiliki ketakutan untuk berobat ke rumah sakit dan lebih memilih untuk istirahat di rumah.

“Memang benar grafik pendapatan mengalami penurunan. Karena selama pandemi Covid-19 lebih banyak masyarakat yang memilih di rumah dulu jika sakitnya tidak terlalu parah,” sebutnya.

Bahkan lebih tegas Luh Hesti menekankan penurunan disebabkan karena sistem rujukan online yang ditetapkan BPJS. Ada kriteria penyakit yang dirujuk dahulu ke RS tipe C baru ke RSUD Buleleng yang tipe B.

Sehingga kalau ada lagi ada sistem rujukan online yang ditetapkan BPJS, ada kriteria penyakit yang dirujuk ke RS tipe C terlebih dahulu baru ke RSUD Buleleng.

“Karena sistem rujukan online yang ditetapkan BPJS, ada kriteria penyakit yang dirujuk ke RS tipe C dahulu baru ke RSUD Buleleng,” tutupnya.

Penulis : Nyoman Darma

Editor : Oka Suryawan

Facebook Comments